Perkembangan Bahasa dan Seksual Pada Anak SD (Observasi di SDN Cicalengka 12)
PERKEMBANGAN BAHASA DAN PERKEMBANGAN SEKSUAL PADA USIA ANAK SEKOLAH DASAR
DI SDN CICALENGKA 12
OBSERVASI
ANAK USIA SEKOLAH
Mata
kuliah Perkembangan Peserta Didik (PPD) dan Psikologi dengan
Dosen Pengampu:
Nurodin, S.Kom.I, M.A., Kons
Team Observer
Aang, Kohar, Astri, Dian, Diki, Fina, Ginan,
Imam, Laily, Lulu, Fahrurrozi, Haris, Nina, Nurajijah, Risyad, Sandy, Silvi,
Uswatun
JURUSAN
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-FALAH
CICALENGKA-BANDUNG
2018
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang Observasi
Dalam pendidikan tingkat dasar
didalam bangsa ini, terdapat berbagai permasalahan yang menjadi problema yang
berkepanjangan dan sukar untuk diselesaikan. Diantaranya seperti permasalahan
perkembangan bahasa dan perkembangan seksual yang semakin hari semakin menjalar
hingga pada tingkat sekolah dasar. Hal ini menjadi dilema bangsa yang dirasa
harus segera bisa diselesaikan, mengingat anak merupakan aset penting bangsa
untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu kami mencoba untuk meneliti
hal-hal yang menjadi sebab terhadap permasalahan ini.
Pada umumnya masyarakat Indonesia
masih berada dalam proses transisi dari budaya lisan ke budaya tulisan.
Kebiasaan membaca dan menulis masih belum berkembang dengan sepenuhnya pada
anggota-anggota masyarakat. Kecenderungan mendapatkan informasi melalui
percakapan (dengan lisan) tampaknya masih lebih kuat dari pada melaui bacaan
(dengan tulisan). Kecenderungan ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa minat dan
kebiasaan membaca di kalangan siswa dan mahasiswa relatif masih lemah. Anjuran
yang sering terdengar dari pihak pemerintah dan berbagai kalangan pemimpin
masyarakat untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca adalah juga merupakan
bukti kecenderungan di atas.
Minat dan kebiasaan membaca yang
baik, sebagai bagian penting dari budaya tulisan, tak mungkin dimiliki dalam
waktu singkat. Pengembangannya makan waktu yang relatif lama, dan harus sejalan
dengan perkembangan pendidikan pada anggota masyarakat umumnya. Disamping itu,
sarana-sarana pendukung, terutama tersedianya buku-buku bacaan yang harganya
terjangkau oleh masyarakat umumnya, dan perpustakaan-perpustakaan disemua
tingkatan daerah, terutama dikecamatan dan desa, sangat perlu diusahakan. Dalam
hubungan tersedianya buku-buku bacaan dimaksud, motivasi untuk menulis
(mengarang) bagi para penulis buku perlu di perhatikan, khususnya berupa
royalti yang pantas dan diberikan sepenuhnya pada waktunya serta pelaksanaan
Undang-undang yang ketat dan tegas.
Pengembangan minat dan kebiasaan membacanya yang baik
harus dimulai sedini mungkin pada masa anak-anak. Orang tua, terutama ibu, dan
guru-guru, terutama guru kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, dan Sekolah Dasar
kelas satu hingga kelas tiga, mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam
usaha-usaha pengembangan ini. Pengembangan minat dan kebiasaan membaca harus
dimulai dari rumah. Untuk pengembangan itu, orang tua, dan juga guru, perlu
mengetahui pokok-pokok perkembangan bahasa dan pikiran anak-anak. Di samping
itu, jenis-jenis bacaan diketahui. Selanjutnya berbagai kelemahan anak dalam
membaca juga harus mendapat perhatian dari orang tua dan guru, sehingga dapat
diperbaiki atau dicegah sebelum terlambat.
Adapun mengenai pembelajaran perkembangan anak usia
pra remaja bukan hanya perkembangan bahasa saja yang diperhatikan namun disisi
lain perkembangan seks juga sangat penting untuk dipelajari pada perkembangan
usia pra remaja ini.
Pendidikan seks merupakan salah satu
cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk
mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan seperti kehamilan diluar
nikah, penyakit menular seksual (PMS), depresi dan perasaan berdosa.
Seks adalah kebutuhan secara alami
yang melekat pada setiap manusia, bukan hanya pada usia dewasa saja teapi juga
pada usia remaja. Maka dari itu pengetahuan pengajaran mengenai hubungan seks
pembelajaran seks sangatlah diperlukan pada peserta didik terutama di usia
pra-remaja (10-12) dan remaja awal (13/14-17th) Begitu banyak faktor dan
pengaruh negatif yang bisa menimpa usia pra remaja dan usia remaja misalnya
masalah pornografi atau pornoaksi, internet dan televisi yang kering akan
nilai-nilai moral.
Berbagai tujuan yang telah disampaikan dimuka tentu
tidak akan berhasil tanpa upaya dari para pendidik di berbagai instansi
pendidikan. Para pendidik harus mendidik dan membimbing peserta didik secara
optimal. Pendidik harus mengetahui semua
aspek dari peserta didik. Karena objek didalam pendidikan adalah peserta didik.
Peserta didik mempunyai banyak aspek dalam dirinya.
Ada aspek fisik dan mental, serta ada pula aspek kognitif, afektif dan
psikomotornya. Semua aspek tersebut dapat berkembang seiring berjalannya waktu.
Tentu karena diiringi dengan pendidikan, pengalaman-pengalaman yang didapat,
serta faktor lain yang mendukungnya. Jika terdapat faktor yang mendukung
perkembangan peserta didik, maka akan ada faktor yang menghambat
perkembangannya. Sehingga hal tersebut dapat pada perkembangan setiap peserta
didik yang akan berbeda-beda, ada yang berkembang dengan cepat, normal bahkan
ada yang lambat. Tergantung seberapa banyak faktor pendukung dan penghambatnya.
Maka disinilah pentingnya pendidik memahami perkembangan
peserta didik. Agar para pendidik dapat mengetahui dan memahaminya. Sehingga
pendidik dapat memahami keadaan peserta didiknya juga dapat mengembangan
potensi-potensi yang dimilikinya.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka kami akan menyusun observasi tentang
perkembangan peserta didik. Namun kami akan membatasinya, yaitu hanya sebatas
pada perkembangan bahasa dan seksualnya saja. Dan kami akan melakukan observasi
ini di SDN XII Cicalengka. Sekolah ini kami anggap sesuai dengan observasi kami
karena memiliki beberapa peserta didik yang mempunyai masalah dalam
perkembangan bahasa dan seksualnya.[1]
B.
Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
perkembangan bahasa peserta didik pada usia sekolah dasar dilihat dari aspek
kognitif?
2.
Bagaimana
perkembangan peserta didik pada usia sekolah dasar?
C.
Tujuan
dan Manfaat Observasi
1.
Tujuan
observasi. Adapun tujuan observasi ini adalah :
a.
Mengetahui
perkembangan peserta didik pada usia sekolah dasar dari aspek bahasa dilihat
dari ranah kognitifnya.
b.
Mengetahui
perkembangan seksual peserta didik pada usia sekolah dasar.
2.
Manfaat
observasi. Adapun manfaat observasi ini adalah :
a.
Bagi
peneliti. Hasil observasi ini diharapkan dapat memberikan kebanggaan kepada
bapak dosen yang telah menugaskan kami untuk menjalani observasi ini. Sehingga
dapat memberikan penghargaan kepada kami sebagai peneliti.
b.
Bagi
para pendidik. Hasil observasi ini diharapkan dapat membantu memberikan wawasan
tentang perkembangan peserta didik dari aspek perkembangan bahasa yang dilihat
dari ranah kognitif dan perkembangan seksualnya agar para pendidik dapat
mencegah hal-hal yang dapat mengakibatkan penyimpangan, khususnya bagi peserta
didik usia sekolah dasar.
c.
Bagi
akademisi dan praktisi pendidikan. Hasil observasi ini diharapkan dapat
memperkaya khazanah keilmuan dan dapat menjadi tambahan informasi juga
referensi yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menjalankan aktifitas
pembelajaran.
D.
Metode
Penelitian
Penelitian ini membutuhkan observasi
dalam menggali data yang ada di lapangan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan
bahasa dan seksual dalam perkembangan peserta didik usia sekolah dasar di SDN
12 Cicalengka Kabupaten Bandung. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan
jenis penelitian kualitatif yang berbentuk deskriptif. Furchan mengatakan bahwa
penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif
(tulisan, ucapan atau prilaku yang dapat diamati dari orang yang dijadikan
subjek dalam penelitian) itu sendiri.[2]
Penelitian
deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan atau menggambarkan isi
data yang didapat, kemudian menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat.
Data tersebut diambil dari hasil wawancara, catatan lapangan, foto, pengamatan,
dokumen dan lain sebagainya. Dalam hal ini peneliti mengkaji dan menganalisis
tentang perkembangan bahasa dan seksual dalam perkembangan peserta didik usia
sekolah dasar di SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung. Hal tersebut sependapat
dengan Moleong yang menyebutkan bahwa penelitian deskriptif adalah laporan
penelitian yang berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian
laporan.[3]
Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif yang berbentuk
deskriptif yakni karena ada beberapa pertimbangan sebagai berikut: 1)
menjelaskan dan menguraikan masalah melalui penelitian kualitatif lebih mudah
apabila berhadapan dengan kenyataan-kenyataan ganda, 2) penelitian kualitatif
mengkaji secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan informan.
Penelitian jenis ini lebih peka dan merespon lebih cepat apabila diterapkan di
lapangan serta mampuberadaptasi dengan banyak penajaman pengaruh bersama
terhadap pola atau nilai yang dihadapi dalam penelitian.[4]
1.
Sumber
Data
Sumber yang dijadikan data utama dalam penelitian kualitatif adalah
perkataan dan tindakan, selebihnya merupakan data tambahan seperti dokumen,
arsip, notulen dan lain-lain.[5]
Pengambilan data yang dilakukan pada beberapa sumber data (subjek) dalam
penelitian, yakni peserta didik di SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
Berkaitan dengan hal tersebut maka jenis data dalam penelitian ini dibagi
dalam:
a.
Data
tertulis
Data utama ini diperoleh dengan cara mengisi daftar cek yang telah
dibuat oleh peneliti melalui teknik observasi atau pengamatan terhadap keadaan
dan tingkah laku peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
b.
Data
kata-kata atau lisan
Pencatatan data ini dilakukan melalui kegiatan wawancara yaitu interviewer
menggali keterangan dari informan selaku supplyer di lokasi penelitian.
Dalam hal ini yaitu peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
c.
Foto
atau gambar
Foto atau gambar merupakan alat
bantu dari sumber benda yang tidak memungkinkan sumber data yang berupa benda
atau pristiwa penting dalam hal tersebut dibawa sebagai barang bukti
penelitian. Dalam penelitian ini, foto atau gambar digunakan dalam hal sajian
data yang berupa benda maupun peristiwa yang terjadi di lapangan.
1.
Teknik
Pengumpulan Data
a. Interview (wawancara)
Interview yaitu
proses tanya jawab secara lisan antara peneliti dengan responden yang keduanya
sering berhadapan secara langsung. Interview
adalah suatu kegiatan komunikasi verbal yang dilakukan oleh pewawancara
untuk memperoleh informasi dari nara sumber (orang yang diwawancarai).[6]
Ada beberapa macam interview, yaitu structured interview,
semistructured interview, unstructured interview. Tetapi dalam penelitian
ini peneliti hanya menggunakan semistructured interview saja. Semistructured
interview adalah wawancara untuk menemukan permasalahan secara lebih
terbuka tanpa menafikan pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis
dan lengkap untuk pengumpulan datanya.[7]
Teknik ini digunakan untuk mewawancarai para peserta didik SDN 12
Cicalengka Kabupaten Bandung. Sehingga, peneliti akan memperoleh data tentang
perkembangan bahasa dan seksual peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten
Bandung.
b. Obsevasi (pengamatan)
Observasi adalah cara pengumpulan data melalui pengamatan yang
dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti yang
terjadi dalam kenyataan. Peneliti secara langsung mengadakan pengamatan (tanpa
alat) terhadap gejala-gejala yang dihadapai (diselidiki), baik pengamatan itu
dilaksanakan dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan yang diadakan.[8]
Ada beberapa jenis observasi yang bisa digunakan, seperti observasi
partisipatif (pasif, moderat, aktif dan lengkap), observasi terus terang atau
tersamar dan observasi tak berstruktur. Tetapi dalam penelitian ini hanya
menggunakan observasi partisipasi pasif saja. Partisipasi pasif adalah peneliti
datang ketempat yang akan diamati, tinggalbeberapa waktu di tempat tersebut dan
melakukan pengamatan tanpa ikut serta dalam kegiatannya.[9]
Dalam hal ini, peneliti mendatangi langsung lokasi yaitu SDN 12
Cicalengka Kabupaten Bandung dan mengamati keadaan perkembangan peserta didik
dilihat dari perkembangan bahasa dan seksual di SDN 12 Cicalengka Kabupaten
Bandung.
c. Dokumentasi.
Dokumentasi adalah mencari data
mengenai hal-hal atau variabel yang berkaitan dengan penelitian, yakni berupa
catatan, transkrip, buku, surat kabar, agenda dan lain sebagainya.[10]
Teknik ini dipakai untuk memperoleh data tentang keberadaan tempat, daerah dan
wilayah. Dalam hal ini detil SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung yang meliputi:
kondisi dan profil sekolah, jumlah staf pengajar dan lain sebagainya.
2.
Teknik
Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
non-statistik yaitu analisis data deskriptif. Analisis data menggunakan
langkah-langkah yang masih bersifat umum yaitu reduksi data, penyajian data,
serta verifikasi dan pengambilan kesimpulan, yang familiar disebut dengan model
Miles dan Huberman.[11]
a.
Reduksi
data (data reduction)
Merupakan proses pemilihan, penyederhanaan dan transformasi data
kasar yang diperoleh dari catatan lapangan melalui wawancara, observasi dan
dokumentasi.[12]
Data yang diperoleh dari SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung ditulis kembali
dalam bentuk uraian atau laporan terinci. laporan tersebut kemudian direduksi,
dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok dan difokuskan dalam hal-hal yang
penting.
b.
Penyajian
data (data display)
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi dari reduksi data
yang kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah dipahami.[13]
Dalam hal ini data perkembangan bahasa dan seksual peserta didik SDN 12
Cicalengka Kabupaten Bandung.
c.
Verifikasi
dan pengambilan kesimpulan (verification and conclusion drawing)
Pada tahap ini akan diverifikasi terlebih dahulu data yang telah
disajikan, kemudian diambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi dari
SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung kedalam laporan secara sistematis dengan
cara membandingkan, menghubungkan dan memilih data yang mengarah pada pemecahan
masalah serta mampu menjawab permasalahan untuk mencapai tujuan yang
dikehendaki.[14]
3.
Pengecekan
Keabsahan Data
Upaya menjaga keabsahan data dalam penelitian ini, penulis
menggunakan beberapa teknik triangulasi. Adapun teknik triangulasi yang
digunakan sebagai berikut:
a.
Triangulasi
Sumber. Menggunakan berbagai sumber data seperti hasil wawancara, hasil
observasi dan dokumen.[15]
Peneliti melakukan wawancara dengan informan untuk mendapatkan data yang
lengkap dan relevan tentang keadaan perkembangan peserta didik dilihat dari
perkembangan bahasa dan seksual peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten
Bandung sesuai dengan pedoman wawancara. Peneliti juga melakukan observasi
untuk mengamati realita yang terjadi di tempat tersebut.
b.
Triangulasi
Teori. Penggunaan berbagai teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data
yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat.[16]
Pada penelitian ini, berbagai teori telah dipaparkan pada bab II untuk
dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut. Teori tentang keadaan
perkembangan peserta didik dilihat dari perkembangan bahasa dan seksual yang
didapatkan oleh peneliti tidak hanya pada buku cetak saja melainkan juga memasukkan
teori berdasarkan jurnal, artikel dan literatur lainnya.
c.
Triangulasi
Metode. Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal atau keadaan,
seperti interview dan observasi.[17]
Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara langsung dengan informan
yang ditunjang dengan observasi pada saat wawancara dilakukan.
E.
Studi
Pustaka
Studi pustaka
merupakan uraian tentang hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan
penelitian yang sedang direncanakan.Dengan segala keterbatasan peneliti, ada
beberapa kajian dan karya lain yang ditemui untuk mendukung penelitian ini:
1.
Memahami
Pola Perkembangan Bahasa Anak dalam Konteks Pendidikan Oleh Iswah Adriana.[18]
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak dikatakan
siap atau matang berbicara dan belajar bahasa apabila aspek motorik bicara
(koordinasi otot bicara) dan aspek mental bicara (kemampuan berpikir) anak
sudah mulai berfungsi dengan baik. Pada saat anak mulai masuk sekolah merupakan
masa yang paling baik untuk belajar bahasa. Anak selalu bertanya mengenai
segala yang dilihat dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Anak mulai
membangun kosa-kata yang biasanya merupakan kata benda, kata kerja, kata sifat,
kata keterangan, kata merangkai/pengganti dari apa saja yang dijumpai anak
dalam kehidupan sehari-hari khususnya mengenai warna, waktu, uang, dan kata
popular yang digunakan kelompok anak atau teman sebaya. Selanjutnya
perkembangan bahasa dengan pembentukan kalimat, dimulai dengan kalimat
sederhana menjadi kalimat lengkap.
2.
Perkembangan Bahasa
Anak oleh Yulia Palupi. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan Yulia
Palupi adalah bahwa anak mengalami bahasa itu melalui pertanyaan-pertanyaan
yang sering diajukan, respon dan interaksi. Anak –anak mempelajari bahasa
melalui interaksi dengan orang dewasa. Orang dewasa memulai dan merespon dengan
cara mendengarkan, mengerti, memperluas dan menjadi model. Jadi bahasa pada
anak itu berkembang, dari sederhana ke kompleks. Perkembangn bahasa anak
merupakan kombinasi antara interaksi social, emosi, kemampuan kognitif, dan
perkembangan fisik motoriknya. Semua perkembangan tersebut dikombinasikan
dengan apa yang terjadi dalam beberapa tahun tahap perkembangan anak.[19]
Perkembangan
anak usia dini, bahasa merupakan berkomunikasi dnegan orang lain, mencakup
semua cara untuk berkomunikasi dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam
bentuk tulisan, lisan, isyarat atau
gerak dengan menggunakan kata-kata kalimat bunyi gambar atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesame manusia, alam
sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau Agama. Usia sekolah dasar
merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai
perbendaharaan kata (vocabulary). Pada masa awal sekolah dasar (usia 6 tahun)
atau sudah menguasai sekitar 2.500 kata usia 8 tahun 20.000 kata dan pada masa
akhir (usia 11 sampai 12 tahun) telah menguasai 50.000 kata. (Abin Syamsudin
M,1991; Nana Syaodih S, 1990)[20]
3. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Remaja
Berperilaku Menyimpang oleh Rizki Dwi Hartono dan Nur Dyah Gianawati.[21] Seksualitas merupakan salah satu aspek kehidupan yang semakin lama
semakin menarik perhatian manusia sebagai mahkluk sosial. Pada era globalisasi
sekarang ini yang dirasakan berjalan semakin cepat seiring dengan diikutinya
peningkatan kemajuan teknologi yang memberikan nilai tambah dengan mudahnya
mengakses segala informasi, hal ini memiliki dampak terhadap pola kehidupan
masyarakat dari berbagai kalangan terutama remaja. Masa remaja merupakan masa
peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam rentang waktu kurang
dari dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin menunjukkan peningkatan yang
sangat memprihatinkan. Diantara berbagai macam kenakalan remaja, seks bebas
selalu menjadi bahasan yang selalu menarik untuk diteliti selain kasus tawuran
dan pecandu alkohol. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa faktor
internal dan faktor eksternal saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga
mengakibatkan informan pokok melakukan hubungan seks.[22]
4. Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar oleh Esther Kartika.[23]
Kesimpulan yang didapat dari tulisan Esther Kartika adalah bahwa upaya untuk
memacu minat membaca siswa adalah dengan memaksimalkan peran guru dalam memperkenalkan
buku kepada anak sejak dini, memotivasi dan menumbuhkan rasa cinta terhadap
buku, serta menyelenggarakan kegiatan yang dapat mengisi waktu luang anak
dengan kegiatan-kegiatan yang menuntut untuk berinteraksi dengan buku, seperti
penyelenggaraan jam-jam cerita di perpustakaan sekolah, pemberian tugas
membaca, penyelenggaraan majalah dinding, lomba membaca, lomba membuat kliping,
buletin sekolah, pameran buku, pemberian bimbingan teknis membaca serta
kegiatan-kegiatan lain yang sejenisnya.
5.
Perilaku
Seksual Anak Usia Pra Remaja di Sekitar Lokalisasi dan Faktor yang Mempengaruhi
oleh Yulita Amaliyasari dan Nunik Puspitasari.[24]
Dapat disimpulkan bahwa Kondisi anak-anak pra remaja yang tinggal di daerah
lokalisasi mengalami dampak yang cukup besar kepada sikap seksual yang tidak
wajar. Disisi lain berbagai elemen yang seharusnya memperhatikan kondisi
perkembangan anak lebih sering acuh dalam permasalahan ini, seperti Orang tua,
perangkat desa, dan masyarakat. Sehingga banyak anak yang tinggal di daerah
lokalisasi terbentuk menjadi orang-orang yang memiliki sikap seksual yang tidak
wajar.
F.
Sistematika
Penulisan
Penulisan hasil observasi ini akan
kami bahas dan uraikan dengan sistematika sebagai berikut :
Bab I pendahuluan, berisi tentang
latar belakang penulisan observasi, rumusan masalah, tujuan dan manfaat
observasi, metode observasi, studi pustaka juga sistematika penulisan
observasi. Bab II analisis teori, menguraikan teori tentang hakikat perkembangan
peserta didik, perkembangan peserta didik periode sekolah dasar, karakteristik
perkembangan bahasa peserta didik usia sekolah dasar, karakteristik
perkembangan seksual peserta didik usia sekolah
dasar, peran guru sebagai pendidik, metode pembelajaran, dan proses
belajar anak usia sekolah dasar. Bab IV gambaran umum lokasi dan subjek
penelitian, membahas tentang keadaan SDN XII Cicalengka, keterangan partisipan
juga analisis data yang didapat dari observasi ini. Bab IV hasil observasi,
membahas tentang hasil observasi berupa analisis data yang telah didapat,
kemudian dihubungkan dengan landasan teori yang telah diuraikan pada bab II.
Bab V penutup, berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan mengenai perkembangan
bahasa dan seksual peserta didik pada usia sekolah dasar. Dan saran yang
membangun bagi pendidik di sekolah dasar.
BAB II
Analisis Teori Tentang Perkembangan Bahasa
dan Seksual Peserta Didik Sekolah Dasar
1.
Hakikat Perkembangan Peserta Didik
A.
Pengertian
Perkembangan di artikan sebagai perubahan-perubahan yang di alami
oleh individu atau organisme menuju
tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis,progresif dan
berkesinambungan baik fisik maupun psikis. Perkembangan juga berkaitan dengan
beberapa konsep perubahan (growth),kematangan(growth), dan belajar(learing)
serta latihan(training).
Perkembangan individu dapat
ditunjukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambahnya, atau berkurangnya
bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara
kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat di amati dan
diukur dengan mempergunakan teknik dan istrumen yang sesuai. Contoh
perkembangan proses berfikir,kemampuan berbahasa dan lain-lain.
Dapat disimpulkan dari uraian di
atas bahwa yang dimaksud Hakikat perkembangan peserta didik adalah sebagai
suatu proses yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan
karakteristrik psikis yang baru. Perkembangan dapat dicapai karena adanya
proses belajar, dan proses belajar hanyalah mungkin berhasil bila jika ada
kematangan dan kesungguhan. Perkembangan bertambahnya kemampuan (skill) dalam
stuktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat
di ramalkan, sebagai hasil dari proses kematangan dan kesungguhan.
B.
Ciri-Ciri
Perkembangan
Mengenai ciri-ciri perkembangan dalam diri individu atau organismedapat
diuraikan sebagai berikut:
1.
Terjadinya
perubahan ukuran dalam aspek fisik (tinggi badan, berat badan dan organ-organ
tubuh lainnya) sedangkan aspek psikis (semakin bertambahnya perbendaharaan kata
dan matangnya kemampuan berpikir, mengangat serta serta menggunakan imajinasi
kreatif).
2.
Terjadinya
perubahan propersi dalam aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan
fase perkembangannya dan pada usia remaja proporsi tubuh mendekati proporsi
tubuh dewasa, sedangkan pada aspek psikis (perubahan imajinasi dari yang
fantasi ke realitas dan perubahan perhatiannya dari yang tertuju kepada dirinya
sendiri perlahan-lahan meluas kepada orang lain terutama kepada teman
sebayanya).
3.
Lenyapnya
tanda-tanda lama dalam aspek fisik (lenyapnya kelenjar thymus/kelenjar
kanak-kanak yang terletak pada bagian dada rambut halus dan gigisusu) sedangkan
pada aspek psikis (lenyapnya masa mengoceh/meraban bentu gerak gerik
kanak-kanak seperti merangkak dan perilaku impulsive seperti melakukan sesuatu
sebelum berpikir).
4. Munculnya tanda-tanda baru dalam aspek fisik (tumbuh/pergantiuan
gigi dan matangnya organ-organ seksual pada usia remaja baik primer seperti
menstruasi pada wanita dan mimpi basa pada pria maupun sekunder seperti
membernya npinggul atau buah dada pada wanita dan tumbuhnya kumis serta
perubahan suara pada wanita) sedangkan pada aspek psikis (berkembangnya rasa
ingin tau terutama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, lingkungan alam, nilai-nilai
moral dan agama).
C.
Prinsip-prinsip
Perkembangan
Perkembangan individu berlangsung
sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu (masa
konsepsi) dan berakhir pada saat kematiannya. Perkembangan individu ini
bersifat dinamis, perubahannya kadang-kadang lambat, tetapi bisa juga cepat,
hanya berkenaan dengan salah satu aspek ataupun beberapa aspek perkembangan.
Perkembangan tiap individu juga tidak selalu seragam, seorang berbeda dengan
yang lainnya baik dalam temponya, iramanya maupun kualitasnya.
Dalam perkembangan individu dikenal
prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut:
1.
Perkembangan
berlangsung seumur hidup dan meliputi semua aspek. Perkembangan bukan hanya
berkenaan dengan aspek-aspek tertentu tetapi menyangkut semua aspek.
Perkembangan aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas, sedangkan
aspek yang lainnya lebih tersembunyi. Perkembangan tersebut juga berlangsung
terus sampai akhir hayatnya, hanya pada saat tertentu perkembangannya lambat
bahkan sangat lambat, sedangkan pada saat lain sangat cepat. Jalannya
perkembangan individu itu berirama dan irama perkembangan setiap anak tidak
selalu sama.
2.
Setiap
anak memiliki kecepatan (tempo) dan kualitas perkembangan yang berbeda.
Seseorang mungkin mempunyai kemampuan berpikir dan membina hubungan sosial yang
sangat tinggi dan tempo perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedang
dalam aspek lainnya seperti keterampilan atau estetika kemampuannya kurang dan
perkembangannya lambat. Sebaliknya, ada anak yang ketrampilan dan estetikanya
berkembang pesat sedangkan kemampuan berpikir dan hubungan sosialnya
agaklambat.
3.
Perkembangan
secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu. Perkembangan sesuatu
segi didahului atau mendahului segi yang lainnya. Anak bisa merangkak sebelum
anak bisa berjalan, anak bisa meraban sebelum anak bisa berbicara, dan
sebagainya.
4.
Perkembangan
berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. Secara normal
perkembangan itu berlangsung sedikit demi sedikit tetapi dalam situasi-situasi
tertentu dapat juga terjadi loncatan-loncatan. Sebaliknya dapat juga terjadi
kemacetan perkembangan aspek tertentu.
5.
Perkembangan
berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus,
mengikuti proses diferensiasi dan integrasi. Perkembangan dimulai dengan
dikuasainya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum, seperti kemampuan memegang
dimulai dengan memegang benda besar dengan kedua tangannya, baru kemudian
memegang dengan satu tangan tetapi dengan kelima jarinya. Perkembangan
berikutnya ditunjukkan dengan anak dapat memegang dengan beberapa jari, dan
akhirnnya menggunakan ujung-ujung jarinya. Dalam perkembangan terjadi proses
diferensiasi atau penguraian ke hal yang lebih kecil dan terjadi pula proses
integrasi. Dalam integrasi ini beberapa kemampuan khusus/kecil itu bergabung
membentuk satu kecakapan atau keterampilan.
6. Secara normal perkembangan individu mengikuti
seluruh fase, tetapi karena faktor-faktor khusus, fase tertentu dilewati secara
cepat, sehingga nampak ke luar seperti tidak melewati fase tersebut, sedangkan
fase lainnya diikuti dengan sangat lambat, sehingga nampak seperti tidak
berkembang.
7.
Sampai
batas-batas tertentu, perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau
diperlambat. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan juga faktor
lingkungan. Kondisi yang wajar dari pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju
perkembangan yang wajar pula. Kekurangwajaran baik yang berlebih atau
berkekurangan dari faktor pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju
perkembangan yang lebih cepat atau lebih lambat.
8.
Perkembangan
aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya.
Perkembangan kemampuan sosial berkembang sejajar dengan kemampuan berbahasa,
kemampuan motorik sejajar dengan kemampuan pengamatan dan lain sebagainya.
9.
Pada
saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria berbeda
dengan wanita. Pada usia 12-13 tahun, anak wanita lebih cepat matang secara
sosial dibandingkan dengan laki-laki. Fisik laki-laki umumnya tumbuh lebih
tinggi dibandingkan dengan wanita. Laki-laki lebih kuat dalam kemampuan
inteleknya sedangkan wanita lebih kuat dalam kemampuan berbahasa dan
estetikanya.
D. Teori
Teori-teori tentang Hakikat
Perkembangan Peserta Didik
1.
Teori
Psikodinamika
Teori ini meyakini bahwa tingkah
laku manusia merupakan hasil tenaga yang beroperasi di dalam pikiran, yang sering
tanpa disadari oleh individu.
2.
Teori
Behavioristik
Teori ini meyakini bahwa hasil dari
pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional.
3.
Teori
Humanistik
Teori ini meyakini bahwa manusia
memiliki kecenderungan bawaan untuk melakukan self-actualization untuk berjuang
menjadi apa yang mereka mampu.
4.
Teori
Psikologi Transpersonal
Psikologi transpersonal merupakan
pengembangan psikologi humanistik. Aliran psikologi ini disebut aliran keempat
psikologi. S.I Shapiro dan Denise H. Lojoie (1992) menggambarkan psikologi
transpersonal sebagai transpersonalpsychologyisconcertedwiththe study
ofhumanityshighestpotential, andwiththerecognitionundertansding,
andrealizationofunitive, spiritual, andtranscendentstatesofconsciousness.
5. Teori Nativisme
Teori ini berpandangan bahwa segala
sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi
perkembangan individu itu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar
turunan, misalnya kalau ayahnya pintar maka kemungkinan besar anaknya pintar.
6. Teori Empirisme
Teori ini berpandangan bahwa hasil belajar
peserta didik besar pengaruhnya pada faktor lingkungan.
7.
Teori
Konvergensi
Teori ini berpandangan bawah
perkembangan individu itu baik dasar (bakat,keturunan) maupun lingkungan,
kedua-duanya memainkan peranan penting.
2.
Perkembangan Peserta Didik Periode Sekolah Dasar
Perkembangan periode SD berada dalam priode
akhir masa kanak-kanak, yakni kira-kira rentan usia 6 / 7 tahun, sampai saatnya
tiba masa individu matang secara seksual yakni perkiraan usia 13 tahun, Periode
ini di tandai dengan kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian peribadi dan
penyesuaian sosial.
Priode ini sangat berpengaruh
terhadap perkembangan. Aspek kognitif anak SD yang memiliki ciri khas
realistik. Sebagian besar belum mampu
memahami konsep-konsep abstrak, dan di sifatkan sebagai ralisme. Aspek afektif,
pada priode sd ada waktu dimana anak mengalami emosi yang hebat dan meningginya
emosi menjadi priode ketidak setabilan dikarnakan keadaan fisik dan lingkungan
berakibat anak terssebut sulit di kendalikan. Aspek psikomotor, dalam aspek ini
anak priode sd memiliki khususan yang lain di antaranya, perubahan-perubahan ukuran
tubuh, dan lingkungan, setatus keluarha juga sangat berpengaruh terhadap
perkembangan aspek psikomotor.[25]
3.
Karakteristik Perkembangan Bahasa Peserta Periode
Sekolah Dasar
Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola
kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari
lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.
Mengenai karakteristik siswa inni
ada 3 hal yang perlu diperhatikan :
1)
Karakteristik
atau keadaan yang berkenaan kemampuan awal, seperti kemampuan intelektual,
kemampuan berpikir, mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor
dan lain-lain.
2)
Karakteristik
yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial.
3)
Karakteristik
yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan,
minat dll.[26]
Dalam lingkungan pendidikan formal
yang berlangsung di sekolah sering ditemukan berbagai macam karakter siswa
seperti rajin, cerdas, malas, berani, penakut, pemarah, nakal, cerewet, pemalu,
egois, pendiam, pengganggu dan sulit bekerjasama.
Perkembangan, artinya setiap tahap
dari seluruh perkembangan anak, berarti mulai adanya diferensasi baru pada anak
itu, baik jasmani maupun rohaninya. Hal yang perlu diperhatikan pula ialah
bahwa tiap suatu fase yang dialami oleh anak, merupakan masa peralihan atau
masa persiapan bagi masa selanjutnya. Bahwa anak mempunyai irama
perkembangannya masing-masing.
Mengenai ranah perkembangan siswa
ini akan memaparkan tahapan yang terkait dengan faktor pembentuk karakteristik
siswa diantaranya perkembangan bahasa.
Bahasa telah berkembang sejak anak
berusia 4-5 bulan. Maka harus senantiasa dibimbing oleh orangtuanya untuk
belajar berbicara mulai dari yang sederhana hingga ia terampil berkomunikasi
dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu, bahasa berkembang setahap demi
setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak serta bimbingan orang-orang
terdekatnya.[27]
Sebagai sarana untuk berkomunikasi
dengan orang lain, bahasa merupakan media yang sangat signifikan bagi proses
perkembangan siswa didik. Sarana ini merupakan upaya untuk menyatakan pikiran,
perasaan dengan emosi seseorang yang juga mencangkup pengungkapan dalam bentuk
lambang atau simbol. Bagi anak usia sekolah dasar perkembangan bahasa meliputi
beberapa tahap, yaitu:
1)
Tahapan
pemahaman, menjelaskan dan mengelompokkan objek yang ditemukan secara sederhana
dan mudah dipahami.
2)
Tahap
perbendaharaan kata yang diupayakan melalui penghafalan kata dan penguasaan
tanda baca.
3)
Tahap
membuat kalimat, yaitu dalam memberi perintah menyatakan pendapat dan ide-ide.
4)
Ucapan,
dengan melakukan percakapan atau dialog-dialog sederhana yang menginformasikan
tentang lingkungan.
Pada dasarnya anak-anak usia sd
telah menguasai struktur bahasa secara sempurna. Anak usia 6 tahun harus sudah
menguasai hampir semua jenis struktur kalimat. Usia 6-9/10 tahun, panjang
kalimat akan bertambah. Kalimat panjang biasanya tidak teratur dan terpotong-potong.
Setelah usia 9 tahun anak mulai menggunakan kalimat yang singkat dan padat.
Keterampilan dalam berbahasa
memiliki 4 aspek atau ruang lingkup[28],
yaitu :
1.
Keterampilan
mendengarkan
2.
Keterampilan
berbicara
3.
Keterampilan
membaca
4.
Keterampilan
menulis
Disekolah dasar keterampilan
mendengarkan meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng,
drama, dll. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan,
pikiran dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan
benda dll. Keterampilan membaca meliputi kemampuan memahami teks bacaan melalui
membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi kemampuan menulis
permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang, menulis surat undangan dll.
4.
Karakteristik Perkembangan Seksual Peserta Periode
Sekolah Dasar
Perilaku
seks adalah tingkah laku yang di dorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan
jenis maupun sesama jenis.[29] Dalam kamus oxford seks berarti suatu kenyataan yang membedakan
manusia masing-masing sebagai laki-laki atau perempuan. Menurut UU no 20 tahun
2002 tentang perlindungan anak dan WHO dalam hendra (2007), yang dikatakan
masuk usia anak dalah sebelum usia 18
tahun dan yang belum menikah. Menurut suryanah (2002), yang dikatakan
usia anak adalah umur 6-12 tahun.
Pada saat anak di usia sekolah dasar
sudah mulai berbicara mengenai persoalan seks, yang disebabkan oleh terjadinya perubahan fisik dan emosi didalam
dirinya. Pada saat anak memasuki usia 6 atau 7 tahun, anak mulai menunjukkan
kesadaran, minat terhadap perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, usia 8 tahun
anak mulai menyinggung masalah seks, usia 9 tahun mulai berbicara mengenai seks
dengan teman sebayanya dan menggunakan istilah seksual dalam mengucapkan
kata-kata kotor atau membuat puisi dan mulai belajar tentang organ seks mereka
sendiri, dan pada umur 10 tahun anak akan belajar dari temannya tentang
menstruasi dan hubungan seks (Wuryani , 2008).
Dalam era globalisasi diperlukan
sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai sejak dini. Tidak hanya
dalam pertumbuhan fisik saja, tetapi juga dalam perkembangan mental, sosial dan
emosional.[30] Media massa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap
perkembangan perilaku seksual, media sangat banyak menonjolkan aspek
pornografi, misalnya foto atau gambar wanita yang tidak berpakaian atau
berpakaian mini, di bagian sampul depan dan di bagian gambar dalam majalah, dan
juga kisah kisah yang mengambarkan hubungan seksual di dalam media cetak.[31]
Menurut Dewi (2010), media yang paling mempengaruhi perilaku seksual anak adalah
TV, majalah, Internet, computer, buku, dan yang paling berpengaruh
terhadap kenakalan anak adalah komik.
Pada anak usia sekolah yang memasuki
umur 10 tahun minat terhadap materi seks dan kebutuhan untuk bertambah
dramatis. Ini karena terjadi perubahan fisik dan emosi didalam dirinya.
Berfikir tentang seks lebih dari sebelumnya dan berbicara tentang materi seks
dengan temannya, yang sama-sama tidak mendapatkan informasi seperti dirinya.
Maka sangat diperlukan peranan orang tua untuk memberikan perhatian dan
informasi yang dibutuhkan untuk membina perilaku anak yang kemudian akan tumbuh
menjadi remaja dan dewasa (Wuryani, 2008).[32]
Suatu komunikasi memiliki peran sangat penting dalam kehidupan, termasuk
dibidang pendidikan, guna mewujudkan murid berkualitas. Pada hakikatnya proses
belajar-mengajar merupakan kegiatan interaksi dan komunikasi antara guru dengan
murid. Sebagai pendidik untuk mengatasi masalah anak sekolah dasar yang sudah
mulai berbicara seks itu hendak diberi pengawasan oleh guru atau orang tua,
peran guru dan orang tua sangatlah penting untuk menyelamatkan generasi yang
lebih baik.
Dalam hadis
menjelaskan yang artinya “ Seorang muslim (baik laki-laki atau
perempuan) adalah seorang yang yang dapat menyelamatkan manusia yang lain dari
lisannya (ucapannya) dan tangnnya (tindakannya), sedangkan yanng disebut seorang
“muhajir” yaitu yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh allah untuknya.(
H.R Bukhari-Muslim ).
Dalam pengawasan anak haruslah didekatkan oleh
agama, karna dalam agama telah menjelaskan cara mendidk anak yang benar dalam
perkataan atau perbuatan. Upaya tersebut harus dimulai sejak dini, bila awal
sudah didapat bibit-bibit yang baik dan diberikan lingkungan yang kondusif,
maka diharapkan tumbuh kembang anak akan optimal seperti yang diharapkan
(Soetjningsih, 2007).
Meskipun usia seperti itu (6-13tahun)
tergolong dalam usia anak-anak namun pada usia tersebut harus sudah dimulainya
pendidikan pengenalan atau pengajaran mengenai perkembangan seksual di usianya
dengan selalu diawasi oleh pendidik. Tujuan pendidikan seks yang sebenarnya
untuk transfer nilai-nilai budaya bangsa kepada peserta didik untuk memberikan
kesadaran bukan sekedar pengetahuan.
Pendidikan seks secara eksplisit
memang belum ada, akan tetapi pendidikan seks telah masuk dalam beberapa mata
pelajaran, diantaranya biologi, agama dan Bimbingan Konseling.[33]
Seperti Mengenalkan Alat Reproduksi dalam Biologi , Proses Pembuahan Atau
Fertilisasi, Mimpi basah dalam Pendidikan Agama, Aktivitas Seksual Remaja dalam
Bimbingan dan Konseling hingga Pendidikan Seks mengenai Solusi dan Pencegahan
Seks yang Menyimpang.
Berhubungan seks yang tak sehat sangat
berdampak negatif bagi kesehatan setiap orang yang melakukannya (Penyakit
Menular Seksual) Selain melalui kontak seksual, PMS juga dapat menular lewat
penggunaan bersama jarum suntik dan dari
ibu ke anak, selama atau setelah persalinan. PMS terutama berisiko pada mereka yang berganti-ganti pasangan.
Semakin sering anda berganti pasangan, semakin besar risiko anda terinfeksi
PMS. Jenis penyakit menular seksual yang selama ini terjadi di dunia ini
bermacam-macam, diantaranya; Klamidia, Gonore (GO), Herpes genitalis, HIV/AIDS.
AIDS, Kutil kelamin, Sifilis, Hepatitis.
Maka dari itu sangatlah penting
pendidikan seksual ditanamkan dari sejak usia kanak-kanak untuk mengingatkan
bahayanya jika ia melakukan hal tersebut.
5.
Perkembangan Cognitif
Pendidikan merupakan kebutuhan
primer bagi setiap manusia guna menjalani hidup agarselaras dengan tujuan dan
cita‐cita. Pintu gerbang awal untuk memperoleh pendidikan dimulai dari sekolah
dasar, sebagai institusi formal yang berkewajiban membekali anak dengan
multiintelegensi sesuai dengan kurikulum yang dibakukan. Semakin maju dan
kompleksnya dunia pendidikan khususnya tingkat sekolah dasar (SD), telah
menciptakan paradigma bahwakeberhasilan anak hanya ditentukan secara akademis
yang diukur melalui kecerdasan kognitif berdasarkan angka rapor maupun hasil tes
Intelligence Quotient (IQ).Padahal, dalam kehidupan sehari‐hari anak juga perlu mengembangkan
kecerdasan afektif dan psikomotorik, guna mengimbangi kemampuan anak dalam memahami
sesuatu secara teori dan praktik.
Sebagai bagian dari tahap
pertumbuhan dan perkembangan manusia menuju dewasa,fase anak‐anak memiliki
keistimewaan tersendiri yang dikenal dengan masa keemasan atau golden age[34],
yaitu masa terbentuknya pondasi sikap, perilaku, mental, serta kecerdasan
(spiritual, intelektual, emosional, kinestetik, seni, dan sosial) yangsemuanya
terjadi secara intensif[35].
Keistimewaan tersebut sudah mulai dipahami olehsebagian besar guru dan orang
tua yang saling bekerja sama untuk memaksimalkanpotensi anak. Khususnya dalam
hal kecerdasan, anak‐anak terus dilatih untukmenonjolkan kecerdasannya melalui
berbagai cara.
Dari berbagai kecerdasan di atas, guru dan orang tua cenderung
fokus padakecerdasan intelektual. Anak diwajibkan mengikuti program pendidikan
formal tingkatSekolah Dasar (SD), sebagai langkah awal program wajib belajar 12
tahun. Orang tuamendukung dengan memfasilitasinya. Jika intensitas dan kualitas
pendidikan anak disekolah dirasa kurang, orang tua menambahkan les privat. Di
satu sisi, upaya tersebut dianggap tepat demi masa depan anak. Namun di sisi
lain, muncul paradigma bahwakeberhasilan anak SD sangat ditentukan oleh intelektual
yang mengarah ke ranahkognitif dan tes intelegensi (Lucy, 2009:5). Hal ini diperkuat
dengan ketentuan darisekolah yang masih menerapkan sistem
pendidikankonvensional, dengan kurikulumyang menitikberatkan pada ranah
kognitif 90% danafektif hanya 10%[36].Kecerdasan afektif dan psikomotorik cenderung
diabaikan.[37]
Meskipun memiliki kapabilitas sempurna di
bidang kognitif, anak belum bisa dikatakan sebagia manusia utuh jika tidak
memiliki kecerdasan afektif dan psikomotorik. Hal ini juga belum banyak disadari oleh guru dan orang tua.
Padahal, anak juga membutuhkan kedua kecerdasan di atas untuk menyeimbangkan
fungsi otak kiri dan kanan, yang sebenarnya bias diwujudkan dalam bentuk
permainan. Melalui permainan, anak bisa memperoleh berbagai nilai sekaligus
mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.[38]
Dalam buku psikologi pendidikan,
perkembangan adalah perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi kepribadian
manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan.[39]
a.
Perkembangan
kognitif anak
Istilah kognitif berasal kata cognition yang padanannya
knowing, yang berarti mengetahui. Dalam arti luas cognition (kognisi) ialah
perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976).
Dalam
perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu
domain wilayah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang
berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan
masalah, kesenjangan, keyakinan, ranah kejiwaan yang berpusat diotak ini juga
berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian
dengan ranah rasa (Chaplin,1972).
b.
Perkembangan
Afektif Anak
Afektif
berkenaan dengan perasaan takut atau cinta, mempengaruhi keadaan perasaan dan
emosi, mempunyai gaya atau makna menunjukkan perasaan (tentang gaya bahasa atau
makna).[40]Seseorang individu dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan
oleh penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat
tertentu di dalam kehidupannya, dorongan emosionalnya banyak bercampur tangan
dan mempengaruhi pemikiran dalam tingkah lakunya. Perasaan-perasaan yang menyertai
perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang
kuat, lemah, tidak jelas (samar-samar). Dalam hal ini warna afektif tersebut
kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih
terarah. Perasaan-peraan ini disebut emosi (Sarlito, 1982:
59)[41]
c.
Perkembangan
Motor (fisik) Anak
Dalam
psikologi, kata motor digunakan sebagai istilah yang menunjukkan pada hal,
keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya, juga
kelenjar-kelenjar dan sekresinya (pemgeluaran ciran/getah). Secara singkat,
motor dapat pula dipahai sebgai segala keadaan yang meningkatkan atau
menghasilkan stimulasi/rancangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.[42]
Perkembangan
motorik sangat menunjang keberhasilan peserta didik, oleh karena itu sekolah
perlu memfasilitasi perkembangan motorik anak itu secara fungsional. Upaya-upaya sekolah untuk memfasilitasi perkembangan motorik anak
secara fungsional tersebut, diantaranya sebagai berikut:
1. Sekolah merancang pelajaran ketrampilan yag
bermanfaat bagi perkembangan atau kehidupan anak, seperti menjahit, mengetik
atau kerajinan tangan lainnya.
2. Sekolah memberikan pelajaran senam atau
olahraga kepada para siswa, yang jenisnya disesuaikan dengan usia siswa.
3. Sekolah perlu merekrut (mengangkat) guru-guru yang memiliki
keahlian dalam bidang-bidang tersebut diatas.
4.
Sekolah
menyediakan sarana untuk keberlangsungan penyelenggaraan pelajaran tersebut,
seperti alat-alat yang di perlukan, dan tempat atau lapangan olahraga.[43]
6.
Proses Belajar Peserta Didik
a. Pengertian proses belajar
Proses adalah
kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke
depan”.Kata ini menunjukkan konotasi urutan langka atau kemajuan yang mengarah
pada suatu sasaran atau tujuan.Menurut Chalpin (1972),proses adalah any change
in any object or organism,particulary
a behavioral or psychological change (proses adalah suatu perubahan yang
menyangkut tingkah laku atau kejiwaan). Danmenurut Robert, M.
Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya: The Conditioning of Learning
mengemukakan bahwa: Learning is a change in human disposition or capacity, wich
persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of
growth. Belajar adalah
perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus
menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.Jadi,proses
belajar dapat di artikan sebagai tahapan perubahan prilaku kognitif,afektif dan
psikomotorik yang terjadi dalam diri seseorang. Perubahan tersebut bersifat
positif dalam arti berorientasi ke arah yang maju dari pada keadaan sebelumnya.
Ketidakcocokkan
sering terjadi dalam sebuah proses belajar, jika pekerjaan sudah tersusun rapih
dan sesuai dengan tingkat kebutuhan anak yang sedang belajar,maka proses
belajar akan menjadi pengalaman yang positif, tanpa kegagalan. Namun terkadang
pelajaran dan beberapa system pembelajaran di susun dengan tidak hati-hati,
atau mengabaikan filosofi struktur dalam proses belajar yang akan membuat
peserta didik seolah-olah di paksa untuk memahimi bacaan-bacaan yang tidak
meraka pahami. Berlatih
merupakan salah satu proses belajar dimana kita bisa melatih diri hingga
melewati sebuah titik kita merasa sudah memahami sesuatu overleaning. Selain
berlatih Berpikir kreatif juga termasuk dalam proses belajar yang tergantung
pada beberapa konsep dan kelompok informasi dalam memori peserta didik dan
kamampuan untuk mencari hubungannya.
Berdasarkan
pengertian tentang belajar, maka dapat disimpulkan bahwa proses belajar
merupakan proses interaksi siswa dengan pendidik, sumber belajar, dan
lingkungan. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam hal yang
berkaitan dengan belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Reigeluth & Chellman
(2007:6), beberapa hal penting tersebut antara lain: apa seharusnya produk
belajar itu, tempat proses belajar dirancang dan dibangun, seharusnya belajar
itu diimplementasikan, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dievaluasi,
bagaimana belajar seharusnya dinilai, apa isi yang seharusnya dibelajarkan,
bagaimana orang mempelajari, dan hubungan timbal balik diantara semua jenis
pengetahuan tentang belajar.
Berhubungan
dengan hal tersebut di atas, sebelum pelaksanaan proses belajar, beberapa hal
penting tersebut harus diperhatikan, sehingga proses belajar yang direncanakan
bisa lebih optimal. Dari berbagai pendapat mengengai teori belajar, semua unsur
tentang segala teori belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
·
Metode
belajar: Semua hal yang dilakukan dengan bertujuan memudahkan belajar atau
pengembangan manusia. Istilah lain sering digunakan untuk sebagian atau semua
gagasan ini termasuk strategi, teknik, siasat, dan pendekatan.
·
Situasi
belajar: semua aspek dari konteks belajar yang berguna untuk memutuskan kapan
dgunakan dan kapan tidak digunakan sebuah metode belajar tertentu.
Sedangkan
situasi belajar terbagi menjadi dua kategori penting, yaitu:
a)
Nilai
tentang pengajaran, yakni tentang tujuan pembelajaran, kriteria, metode, dan
siapa yang berkuasa.
b)
Kondisi
yakni tentang hakikat atau asal dari isi pengajaran, para pelajar atau siswa,
lingkungan belajar, atau paksaan pembangunan pengajaran.
1.
Macam-Macam
metode proses belajar dan Cara efektif untuk belajar
Berikut
ini adalah macam-macam metode proses belajar yang di antaranya adalah:
a)
Metode
ceramah
Metode ceramah adalah proses belajar yang di laksanakan oleh guru
umumnya yang di dominasi dengan ceramah.
b)
Metode
Tanya Jawab
Metode suatu cara mengelola pembelajaran
dengan mnenghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan perserta didik
memhami materi tersebut.Metode Tanya jawab akan lebih efektif apabila materi
yang akan menjadi topic bahasan menarik dan menantang dan memilki aplikasi yang
tinggi.
c)
Metode
diskusi
Metode suatu cara mengelola pembeljaran dan
penyajian materi melalui pemecahan masalh, atau analisis system produk
teknologi yang pemecahanya sangat terbuka.Metode ini dinilai menunjang
keaktifan peserta didik bila diskusi melibatkan semua anggota diskusi dan
menghasilkan suatu pemecahan masalah,jika metode ini dikelola dengan
baik,antusiasme peserta didik untuk terlibat dalam metode ini sangat tinggi.
d)
Metode
pemberian tugas
Proses belajar yaitu dengan penyajian materi melalui penugasan
peserta didik untuk melekukan suatu pekerjaan yang dapat di kerjaka individual
atau kelompok.
e)
Metode
Eksperiment
Suatu proses belajar dimana peserta didik
melakukan aktifitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan suatu yang di
pelajarinya.Dalam metode ini peserta didik di beri kesempatan untuk mengalami
sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses,mengamati suatu
obyek,menalisis.
f)
Metode
Demonstrasi
Proses belajar dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada
peserta didik suatu proses,situasi,benda atau cara suatu produk yang di
pelajari. Demonstrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan baik yang
sebenarnya,model, maupun tiruan dan di seratai dengan penjelasanya.
g)
Metode
Tutorial
Proses belajar yang di lakukan melalui proses bimbingan yang di
berikan/di lakukan oleh pendidik kepada peserta didik baik perorangan atau
dikelompok kecil.Peran pendidik sebagai fasilator,moderator,motivator dan
pembingbing sangat di butuhkan oleh peserta didik untuk mendampingi mereka
membahas menyelesaikan tugas-tugasnya.
2.
Cara
proses belajar yang efektif agar mencapai hasil belajar yang optimal
a)
Proses
belajar kelompok
menjadi salah satu metode efektif karena dalam suasana belajar berkelompok yang
cukup santai otak menjadi lebih rileks menerima ilmu-ilmu yang akan di
serap.Selain itu hal-hal yang belum di ketahui akan lebih mudah diselesaikan
dengan bekerja sama.
b)
Membuat
intisari dari setiap pelajaran, buatlah
rangkuman atau ringkasan dari setiap pelajaran yang peserta didik dapatkan baik
di lembaga sekolah maupun di tempat lain atau lewat belajar kelompok.Hal ini
akan lebih efisien mengingat intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran
yang sudah di baca ulang ini akan menjadi kata-kata kunci.
c)
Disiplin
dalam Belajar kedisiplinan memang perlu diterapkan dalam belajar,seperti
disiplin waktu dan disiplin dalam berkonsentrasi pada pelajaran.Dengan adanya
sifat disiplin dalam diri dapat di pastikan pelajaran dapat efektif dan
efisien.
d)
Menjadi
aktif Bertanya dan Ditanya jika ada hal yang belum jelas.
e)
Kembangkan
materi Yang sudah dipelajari dan berpikir kritis ala ilmuwan.
3.
Faktor-Faktor
yang mempengaruhi proses belajar
Ada beberapa faktor
yang mempengarhu proses dan hasil belajar yang terdiri dari faktor internal dan
eksternal yang akan di jelaskan Sebagai berikut:
a. Faktor
internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri
individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu.Faktor-faktor internal
meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
b.
Faktor
fisiologis.
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan
dengan kondisi fisik individu.Faktor-faktor ini di bedakan menjadi dua macam:Pertama,
keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi
aktifitas belajar seseorang.kondsi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan
pengaruh positif terhadap terhadap kegiatan serta proses belajar dan sebaliknya
kondisi yang lemah akan mempengaruhi dan menghambat tercapainya hasil belajar
yang maksimal.Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisioogis.Selama proses
belajar berlangsung,peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat
mempengaruhi hasil belajar,terutama panca indra karena dalam proses belajar
panca indra adalah pintu masuk bagi segala informasi yang di terima dan di
tangkap oleh manusia.
c.
Faktor
psikologis.
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan
psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar.Beberapa faktor
psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan peserta
didik,motifasi,minat,sikap dan bakat.
a)
Kecerdasan/Intelegensia
peserta didik
Pada umumnya kecerdasan di artikan sebagai kemampuan psiko-fisik
dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan
melalui cara yang tepat,bukan berkaitan dengan otak saja tetapi juga
organ-organ tubuh lainya faktor ini merupakan yang paling penting dalam proses belajar karena ini menentukan
kualitas belajar peserta didik.Semakin tinggi kecerdasan individu semakin
optimal juga hasil belajar yang dicapainya. Sebagai
faktor psikologis yng penting dalam mencapai hasil belajar yang optimal maka
pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimliki.
b)
Motivasi.
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektiffan
kegiatan belajar peserta didik.Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan
kegiatan belajar.Para ahli mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri
indvidu yang aktif mendorong,memberikan arah, menjaga prilaku setiap saat
(SLAVIN,1994). Motivasi juga dapat di atikan pengaruh kebutuhan–kebutuhan dankeinginan
terhadap intesitas dan arah prilaku seseorang.Motivasi terbagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik
adalah semua faktor yang berasal dari dalam individu mendorong untuk melakukan sesuatu yang
memberi pengaruh efektif,karena pengaruh intrinsik relative lama dan tidak
tergantung pada motivasi luar.Berikut adalah yang termasuk motivasi intrinsik
di antaranya adalah dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih
luas, Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan
untuk maju, Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan
dari orang-orang, Adanya kebutuhan untuk mengusai ilmu atau pengetahuan yang
berguna bagi dirinya,Yang kedua yaitu motivasi ekstrinsik adalah faktor yang
datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar
seperti pujian, peraturan, tata tertib,kurangnya respons dari lingkungan secara
positif akan mempengaruhi semangat belajar seseorang.
c)
Minat
Secara sederhana minat berarti kecenderungan
dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.Menurut
Reber (syah,2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi
disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya seperti
pemusatan perhatian keingintahuan, motivasi dan kebutuhan.
d)
Sikap
Dalam proses belajar, sikap
individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya.Sikap adalah gejala internal
yang mendimensi afektif berupa kecenderugan
untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relative tetap terhadap
obyek,orang,peristiwa dan sebagainya. Baik secara positif maupun negative
(syah,2003).
e)
Bakat
Faktor psiokologis yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat.Secara umum, bakat di definisikan sebagai
kemampuan potensial yang dimliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada
masa yang akan datang.Berkaitan dengan belajar bakat sebagai kemampuan umum
yang dimiliki seseorang untuk belajar.Dengan demikian bakat adalah kemampuan
seseorang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses
belajar.Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang di pelajari
maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia
akan mendapat hasil belajar yang optimal pada dasarnya setiap orang mempunyai
bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuanya
masing-masing.Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu
untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan
latihan.Individu yang telah mempunyai bakat tertentu akan lebih mudah menyerap
informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya.
4.
Faktor
–Faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor
endogen,faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar peserta
didik dalam hal ini Syah menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal yang
mempengaruhi proses belajar dapat di golongkan menjadi dua golongan yaitu
faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.
a)
Lingkungan
Sosial
Lingkungan Sosial sekolah,seperti pendidik,administrasi, dan
teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang peserta
didik.Hubungan harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi peserta
didik untuk belajar lebih baik.
Lingkungan sosial masyarakat,
kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal peserta didik akan memengaruhi
belajar. Lingkungan sosial keluarga, lingkungan yang
sangat memengaruhi kegiatan belajar.Ketegangan keluarga sifat-sifat orang tua,
pengeolaan keluarga semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar
peserta didik.
b)
Lingkungan
Non Sosial
Lingkungan alamiah,seperti kondisi udara yang segar, tidak panas
dan tidak dingin, dan lainnya lingkungan alamiah tersebut merupakan
faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar peserta didik.Sebaliknya,bila
kondisi lingkungan alam tidak mendukung proses belajar peserta didik akan
terlambat.
Lingkungan instrumental, yaitu perangkat beljar yang dapat di golongkan
dua macam. Pertama, hardware
seperti gedung, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan, prasarana. Kedua,
softwere seperti kurikulum,peraturan-peraturan sekolah.
5.
Faktor
pendekatan belajar
Faktor
pendekatan belajar yaitu, jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan
metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi
pelajaran.[44]
7.
Peran Guru Sebagai Pendidik
Pendidik dalam undang-undang Sisdiknas no. 20 tahun 2003
didefinisikan dengan tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru,
dosen konselor, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai
dengan kehususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, Bab XI Pasal 39 ayat 2
dikatakan bahwa guru sebagai pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas
merencanakan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran,
melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian
kepada masyarakat.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan
dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas
pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan
mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan
sekolahdan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran yang berkaitan dengan
mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadapaturan-aturan sekolah
dan norma hidup dalam keluarga dan perkembangan anak untuk memperoleh
pengalaman-pengalaman lebih lanjut. Oleh karena itu tugas guru dapat disebutpendidik
dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus
mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang
dengan norma-norma yang ada.
Model
pembelajaran berkarakter:
1.
Pembiasaan,
adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu
dapat menjadi kebiasaan.
2.
Keteladanan,
memiliki fungsi untuk membentuk kepribadian anak guna menyiapkan dan
mengembangkan SDM.
3.
Pembinaan
disiplin peserta didik, guru harus mampu menumbuhkan disiplin peserta didik,
terutama disiplin diri (slef-discipline).[45]
8.
Kelekatan Pendidikan dan Peserta Didik
a.
Pengertian
Kelekatan
Istilah
kelekatan (attachment) untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang Psikolog
dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih
lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada 1969, dimana kelekatan merupakan
suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya
dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua.
Bowlby
menyatakan bahwa hubungan tersebut akan bertahan cukup lama dalam rentang
kehidupan manusia yang diawali dengan kelekatan anak pada ibu atau figure lain
pengganti ibu. Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ainsworth
mengenai kelekatan. Ainsworth mengatakan bahwa kelekatan adalah ikatan
emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik,
mengikat mereka dalam suatu keadaan yang bersifat kekal sepanjang waktu.
Kelekatan merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat
(attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut
(Durkin, 1995).
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kelekatan adalah suatu
hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu
dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus, dalam hal ini biasanya
hubungan ditujukan pada ibu atau pengasuhnya. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik, bertahan cukup lama dan
memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak.[46]
b.
Kelekatan
antara Guru dan Siswa
Hubungan guru-anak merupakan proses interaksi timbal balik antara guru
dan anak yang melibatkan aspek kognitif, social dan emosi antarkeduanya. Proses
interaksi timbal balik tersebut tidak hanya menekankan pada interaksi
instruksional di dalam kelas, namun lebih dari itu dapat berkembang menjadi
hubungan individual antara seorang anak dan guru.
Dimensi hubungan guru-anak berdasarkan teori kelekatan yang membagi menjadi hubungan yang aman (secure) serta
menghindar dan ambivalen (insecure). Kesinambungan antara konsep kelekatan dan
hubungan guru-anak digambarkan dengan fakta bahwa hubungan antara perasaan aman
dalam suatu hubungan anak dengan orang dewasa di sekolah, dalam hal ini adalah
guru, dan kebebasan anak untuk mengeksplorasi lingkungannya berakar dari
kelekatan orang tua dengan anak. Guru di sekolah mempunyai peran yang sama
dengan orang tua. Seperti halnya orang tua-anak, hubungan guru-anak yang
terjalin di sekolah melibatkan emosi dan sosial antar keduanya. Pola hubungan yang penuh konflik
antara guru dan anak dapat menyebabkan masalah perilaku pada anak, misalnya
perilaku agresif dan antisosial, yang dapat menghambat proses adaptasi anak
terhadap lingkungan sekolah (Pianta
1999).[47]
Banyak factor yang mempengaruhi guru-anak, salah satunya adalah kualitas
kelekatan antara ibu dan anak, O’Connor dan McCartney (2007) mengemukakan bahwa
kualitas hubungan guru-anak dipengaruhi oleh pengalaman kelekatan anak dengan
ibunya. Konsep hubungan guru-anak berakar dari teori kelekatan (Blowlby, diacu
dalam Baker, 2006), sehingga kualitas kelekatan antara ibu dan anak yang
terbina sejak bayi hingga usia prasekolah dapat memprediksikan kualitas
hubungan guru-anak di sekolah. Studi terakhir yang dilakukan oleh O’Connor dan
McCartney (2007) menunjukan bahwa anak memiliki kelekatan aman dengan ibu
memiliki tingkat ketergantungan dengan guru yang lebih rendah dibandingkn anak
yang memiliki kelekatan tidak aman. Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap guru
menjadi suatu factor protektif bagi anak yang memiliki kelekatan yang tidak
aman dengan ibunya. Besarnya pengaruh kelekatan orang tua-anak terhadap hubungan
guru-anak dalam penelitian O’Connor dan McCartney (2007) masih relative kecil
sehingga memerlukan adanya suatu penelitian serupa untuk membuktikan bahwa
kelekatan yang tidak aman antara ibu dan anak dapat menyebabkan hubungan
ketergantungan atau hubungan penuh konflik antara anak dan guru.[48]
Di dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus mampu menjalin
hubungan yang baik dengan siswa, karena pada anak usia-usia sekolah dasar,
yaitu sekitar 6-12 tahun, mereka sedang berada pada periode kritis dalam
membentuk dorongan berprestasi, yaitu suatu masa dimana anak mengembangkan
kebiasaan untuk mencapai sukses. Sekali terbentuk, kebiasaan untuk melakukan kegiatan
dengan baik cenderung menetap sampai dewasa. Hal ini menunjukan bahwa tingkat
perilaku berprestasi pada masa kanak-kanak mempunyai korelasi yang tinggi
dengan perilaku berprestasi pada masa depan.
Dengan demikian, seorang anak memerlukan figure lekat untuk mendorongnya
dalam mencapai kesuksesan. Di sekolah, guru merupakan orang tua pengganti,
sehingga guru adalah figure lekat anak ketika berada disekolah[49].
Kelekatan siswa pada guru akan memengaruhi motivasi belajar siswa tersebut.
Semakin aman kualitas kelekatan siswa pada guru semakin tinggi pula motivasi
siswa dalam belajar. Kelekatan dikatakan memiliki kualitas aman ketika figure
lekat memperlakukan anak dengan penuh responsive, penuh kasih sayang dan penuh
perhatian. Dengan kelekatan aman, maka proses belajar mengajar akan berlangsung
optimal.
Kelekatan siswa pada guru yang terjalin dengan baik akan menyebabkan
anak tidak takut untuk berhubungan dengan figure lekatnya yaitu guru. Kualitas
kelekatan siswa pada guru mempunyai peran yang cukup signifikan. Semakin tinggi
kualitas kelekatan siswa pada guru, semakin tinggi pula prestasi belajarnya.
Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kualitas kelekatan siswa pada guru,
membawa resiko semakin buruk prestasi belajar.
9.
Metode Pembelajaran
a. Hakikat metode pembelajaran
Konsep pembelajaran menurut Corey
(Sagala, 2010:61). Adalah “suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk
memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi
khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran
merupakan subset khusus dari pendidikan”. Lingkungan belajar hendaknya dikelola
dengan baik karena pembelajaran memiliki peranan penting dalam pendidikan.
Sejalan dengan pendapat Sagala (2010: 61). Bahwa pembelajaran adalah
”membelajarkansiswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan
penentu utama keberhasilan pendidikan”.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 mengenai
Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, diuraikan bahwa:
“pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber
belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan,
dilaksanakan, dinilai, dan diawasi. Pelaksanaan pembelajaran merupakan
implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan,
kegiatan inti dan kegiatan penutup.”
Metode pembelajaran menurut Djamarah, SB. (2006: 46). ”suatu cara yang
dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan’. Dalam kegiatan
belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunaanya bervariasi sesuai
yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.
Dari konsep pembelajaran, metode pembelajaran adalah cara atau tahapan
yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai
tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme
metode pembelajaran.
b.
Macam-macam metode pembelajaran
1. Metode Karya wisata (Out Door)
Menurut Anitah (2008: 5.29) Pembelajaran Outdoor hampir identik dengan
pembelajaran karya wisata artinya aktivitas belajar siswa dibawa ke luar kelas.
Pembelajaran ini harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara
sistematis dan sistemik. Sering dalam
implementasi outdoor, siswa tidak memiliki panduan belajar sehingga esensi
kegiatan tersebut kurang dirasakan manfaatnya. Pembelajaran outdoor selain
untuk peningkatan kemampuan juga lebih bersifat untuk peningkatan aspek-aspek
psikologi siswa, seperti rasa senang dan rasa kebersamaan yang selanjutnya
berdampak terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.
Menurut Muslisch M (2009:239) Pembelajaran luar kelas adalah guru mengajak
siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan
tujuan mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. melalui pembelajaran luar kelas
peran guru adalah sebagai motivator artinya guru sebagai pemandu agar siswa
belajar secara aktif, kreatif, dan akrab dengan lingkungan.
Menurut barron P, (2009) dalam bukunya Aktivitas Permainan dan Ide Praktis
Belajar di Luar Kelas, Anak-anak SD perlu belajar di ruang terbuka karena:
a. Pembelajaran di ruang terbuka memberi anak
kebebasan untuk belajar menggunakan semua indera mereka. Pengalaman ini
mendorong pola pikir kreatif dan imajinatif.
b. Pembelajaran di ruang terbuka membantu
memperbaiki kemampuan belajar, perilaku, dan pemahaman anak di dalam kelas.
c. Pembelajaran diruang terbuka memberikan
pengalaman belajar yang kuat. Pengalaman ini membantu anak mengembangkan
hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya.
d. Pembelajaran di ruangan terbuka secara
nyata berdampak positif pada rasa percaya diri, harga diri, dan pengendalian
diri anak.
e. Belajar di ruang terbuka sering kali
melibatkan banyak pengalaman praktis dan langsung. Semuanya ini sangat
menguntungkan bagi pembelajar kinestetik, yaitu anak yang lebih cepat
mempelajari sesuatu dengan mengerjakannya secara langsung.
f. Belajar di ruang terbuka sangat
menyenangkan bagi guru dan siswa.
Keuntungan dari belajar di luar kelas Keuntungan dari belajar di luar kelas menurut
(sudjana, 2007: 208). Ialah Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak
membosankan siswa duduk di kelas berjam- jam, sehingga motivasi belajar siswa
akan lebih tinggi, Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan
dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alamiah, Sumber
belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka
ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan dan lain-
lain, Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di
lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan
di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
2. Metode Talking Stick
Metode pembelajaran talking stick adalah Metode pembelajaran yang dilakukan
dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan
dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya.[50] Metode pembelajaran talking stick
dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berorientasi pada
terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu
siswa kepada siswa yang lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan
selanjutnya mengajukan pertanyaan. Saat guru selesai mengajukan pertanyaan, maka siswa
yang sedang memegang tongkat, itulah yang yang memperoleh kesempatan untuk
menjawab pertanyaan tersebut.Teknis pelaksanaan metode Talking Stick sebagai
mana tercantum dalam buku panduan materi sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan
Pendidikan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional 2006 dapat
digambarkan sebagai berikut:
a.
Guru menyiapkan sebuah tongkat
b.
Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari,
kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari
materi
c.
Setelah selesai membaca materi pelajaran, siswa
diperintahkan untuk menutup buku
d.
Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa,
setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut
harus menjawabnya, demikian seterusnya hingga seluruh siswa mendapat bagian
untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru
e.
Guru memberikan kesimpulan
f.
Melakukan evaluasi, dan
g.
Menutup pelajaran.
Kelebihan Dan Kekurangan Menggunakan
Metode Talking Stick ialah Kelebihannya, yaitu Menguji kesiapan siswa,
Melatih membaca dan memahami dengan cepat, Agar lebih giat belajar (belajar
dahulu). Dan kekurangannya, yaitu Membuat siswa senam jantung dan Membuat siswa
minder karena belum terbiasa.
3. Metode Simulasi
Metode Simulasi, menurut Hamalik dalam
Taniredja, dkk (2011: 40) simulasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam
semua sistem pengajaran, terutama dalam desain instruksional yang berorientasi
pada tujuan-tujuan tingkah laku. Latihan-latihan ketrampilan menuntut praktik
yang dilaksanakan di dalam situasi kehidupan nyata (dalam pekerjaan tertentu),
atau dalam situasi simulasi yang mengandung ciri-ciri situasi kehidupan
senyatanya. Latihan-latihan dalam bentuk simulasi pada dasarnya berlatih melaksanakan
tugas-tugas yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008:
27-28) ada beberapa langkah-langkah dalam penggunaan metode simulasi, yaitu :
a. Penentuan topik dan tujuan simulasi
b. Guru memberikan gambaran secara garis besar
situasi yang akan disimulasikan
c. Guru memimpin pengorganisasian kelompok,
peranan-peranan yang akan dimainkan, pengaturan ruangan, pengaturan alat, dan
sebagainya
d. Pemilihan pemegang peranan
e. Guru memberikan keterangan tentang peranan
yang akan dilakukan
f. Guru memberikan kesempatan untuk
mempersiapkan diri kepada kelompok dan pemegang peranan
g. Menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan
simulasi
h. Pelaksanaan simulasi
i.
Evaluasi dan pemberian balikan
j.
Latihan ulang.
Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008: 28) dalam pembelajaran metode
simulasi ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu sebagai berikut,
Kelebihan Metode Simulasi ialah Menyenangkan, sehingga siswa secara wajar
terdorong untuk berpartisipasi, Menggalakkan guru untuk mengembangkan aktivitas
simulasi, Memungkinkan eksperimen
berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya, Memvisualkan hal-hal
yang abstrak, Tidak memerlukan ketrampilan komunikasi yang pelik, Memungkinkan
terjadinya interaksi antar siswa, Menimbulkan respon yang positif dari siswa
yang lamban, kurang cakap dan kurang motivasi, Melatih berpikir kritis karena
siswa terlibat dalam analisa proses, kemajuan simulasi.[51]
10. Proses Belajar Anak Usia Sekolah Dasar
A.
Proses
Belajar
Belajar sebagai mana yang dikemukana oleh Sardiman (2003: 20),
bahwa “belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan
serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru,
dan lain sebagainya”. Belajar juga akan lebih baik kalau subjek belajar
mengalami atau melakukannya. Belajar suatu proses interaksi antara diri manusia
(id-ego-super ego) dengan lingkungan yang berwujud pribadi, fakta, konsep atau
teori. Dalam hal ini terkandung suatu maksud bahwa proses interaksi itu adalah:
(1) proses internalisasi ke dalam diri yang belajar, (2) dilakukan secara
aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.[52]
Slameto (2003:2) mendefinisikan belajar
sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu
perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil
pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Baharuddin (2010:12) belajar merupakan aktivitas yang dilakukan
seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan
atau pengalaman-pengalaman.[53]
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi
antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut
teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang
dimasukkan pada sangkar tertutup. Pintunya akan dapat dibuka secara otomatis
bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori
Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error yaitu : adanya
aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasi
terhadap berbagai respon yang salah, dan ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai
tujuan.[54]
B. Karakteristik Utama Proses Belajar Anak SD[55]
a)
Senang
Bermain
Artinya dalam usia yang masih dini anak
cenderung untuk ingin bermain dan menghabiskan waktunya hanya untuk bermain
karena anak masih polos yang dia tahu hanya bermain maka dari itu agar tidak
megalami masa kecil kurang bahagia anak tidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahui karakter anak sehingga
dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai dan mencapai
sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermain sambil
belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematika dll.)
dengan diselingi pelajaran yang ringan (keterampilan, olahraga dll.)
b)
Senang
Bergerak,
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan
mentalnya anak menjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa
tidak capek mereka tidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli
anak duduktenangpaling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai
calon guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak
berpindah atau bergerak.Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain
sebagainya.
c)
Senang
Bekerja
Dalam kelompok Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya
sebagai seorang manusia, anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk sosial
yang bersosialisasi dengan orang lain terutama teman sebayanya, terkadang
mereka membentuk suatu kelomppok tertentu untuk bermain. Dalam kelompok
tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan aturan kelompok, belajar setia
kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar
menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat
(sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan demokrasi. Hal ini
dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar menetapkan metode
atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran seperti yang telah
disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil misalnya 3-4 anak
agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan
sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu
kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama,
disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat
orang lain juga.
d)
Senang
Merasakan/Melakukan Sesuatu Secara Langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap
operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar
menghubungkan konsep konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam
pemahaman anak SD semua materiatau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan
dan dilaksanakan sendiri agar mereka bisa paham dengan konsep awal yang
diberikan. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang
angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan,pera jenis kelamin, moral, dan
sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guruhendaknya merancang model
pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses
pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arahmata angina,
dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung
setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui
secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
e)
Anak
Cengeng Pada Umur Anak SD,
Anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin diperhatikan dan
dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus selalu
dibimbing.Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode
pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing
dan mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
f)
Anak
Sulit Memahami Isi Pembicaraan Orang Lain.
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah
dalam memahami apa yang diberikan guru, disini guru harus dapat membuat atau
menggunakan metode yang tepat misalnya dengan cara metode ekperimen agar anak
dapat memahami pelajaran yang diberikan dengan menemukan sendiri inti dari
pelajaran yang diberikan sedangkan dengan ceramah yang dimana guru
Cuma berbicara didepan membuat anak malah tidak pmemahamiisi dari apa yang
dibicarakan oleh gurunya.
g)
Senang
Diperhatikan
Di dalam suatu interaksi sosial anak biasanya mencari perhatian
teman atau gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan
berbagai caradilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk
mengarahkan perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab
misalnya, anak yang ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya
dengan guru agar anak lain beserta guru memperhatikannya.
h)
Senang
Meniru
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering
dia lihat dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan
dikenakan orang yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak
yang terpengaruh acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu,
misalkan acara smack down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan
karena ada berita anak yang melakukan gerakan dalam smack down pada temannya,
yang akhirnya membuat temannyaterluka. Namun sekarang acara televisi
sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton sebagai calon guru kita hanya
dapat mengarahkan orang tua agar selalu mengawasi anaknya saat dirumah. Contoh
lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian dari
anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus menjaga tindakan, sikap,
perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang
baik untuk anak didik kita.
C.
Tahap Belajar Anak Usia
SD[56]
1. Konkret
Konkret mengandung makna
proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat,
didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada
pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
2. Integratif
Pada tahap usia sekolah
dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka
belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini
melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi
bagian.
3. Hierarkis
Pada tahapan usia
sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal
yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks.
BAB III
Gambaran Umum Lokasi dan Subjek Penelitian
A. Lokasi Penelitian
1.
Kondisi SDN 12 Cicalengka
Sekolah Dasar Negeri 12 Cicalengka merupakan salah satu lembaga
pendidikan negeri berakreditasi “B” yang telah berdiri sejak 1982 tepatnya
diputuskan pada tanggal 12 Juli 1982. Sekolah ini beralamat di Jl Raya Timur
Cicalengka no.05 Rt/Rw 1/1 Dusun Kaca-kaca Desa Cicalengka Wetan Kecamatan
Cicalengka Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.
Menurut kepala sekolah, pendirian sekolah ini merupakan salah satu wujud
tanggung jawab pemerintah dalam upaya mencerdaskan bangsa. Hal ini merupakan
langkah pemerintah untuk menarik minat masyarakat dan khususnya masyarakat
sekitar sekolah terhadap pendidikan, upaya masyarakat untuk menyekolahkan
anaknya dalam tiap tahunnya relatif tinggi.
2.
Keadaan Fisik Sekolah
Luas tanah yang dimiliki oleh SDN 12 Cicalengka ± 755 m2.
Tanah sebesar itu dibangun untuk kepentingan ruang belajar sebanyak 6 kelas
sebesar ± 7x7 meter perkelasnya, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang
operator dan ruang perpustakaan. Untuk kepentingan olahraga, sarana yang
tersedia kurang memadai. Lapangan olahraga milik sekolah yang dipakai bersama
dengan SD 3 terlampau kecil untuk digunakan olahraga. Sehingga olahraga
seringkali di lapangan milik masyarakat dengan ikut membantu biaya kebersihan
dan perbaikan. Sarana pendidikan lain yang dimiliki sekolah adalah buku-buku
dan anatomi tubuh. Buku-buku yang dimiliki telah lengkap dan cukup bagi seluruh
siswa yang ada. Namun, ruangan perpustakaan yang kurang memadai karena
terlampau kecil.
3.
Keadaan Guru dan Siswa
Jumlah pengajar di SDN 12 Cicalengka sebanyak 17 orang. Sementara jumlah
siswa untuk tahun pelajaran 2017/2018 sebanyak 507 orang yang terbagi kepada :
kelas 1 sebanyak 98 siswa, kelas 2 sebanyak 98 siswa, kelas 3 sebanyak 72
siswa, kelas 4 sebanyak 82 siswa, kelas 5 sebanyak 88 siswa, kelas 6 sebanyak
69 siswa.
Sedangkan keadaan tenaga pengajar yang ada di SDN 12 Cicalengka
seluruhnya telah berpendidikan S1 dan hanya satu orang yang berpendidikan S2,
yaitu guru PAI kelas tinggi.
Pelaksanaan proses belajar mengajar di SDN 12 Cicalengka dibagi kepada
dua bagian, yaitu kelas pagi dan kelas siang. Tiap tingkatnya memiliki jadwal
masuk dan keluar yang berbeda-beda. Bagi kelas 1&2 pagi di mulai pada pukul
07.00-10.00 dan kelas siang dimulai pukul 10.00-12.30. Bagi kelas 3pagi dimulai
pukul 07.00-10.30 dan kelas siang dimulai pukul 10.30-14.00. bagi kelas
4,5&6 pagi 07.00-10.45 dan kelas siang dimulai pukul 10.45-selesai.
Pembelajaran pagi dan siang dilakukan di
ruangan yang sama pada tiap tingkatnya dikarenakan sekolah memiliki 12 rombel.
B. Keadaan Partisipan
Setelah kita melakukan observasi kita melihat karakter peserta didik
diantaranya :
1. Eka Swara Somandinata, ia peserta didik
kelas 3 yang memiliki karakter yang kurang serius dalam belajarnya. Dan juga
kurang perhatiannya orang tua terhadap peserta didik. Ketika sedang mengerjakan
suatu tugas sering kali ia tengok kiri dan kanan. Dan ketika dari pihak
observasi memberikan tugas menulis, ia lamban karena tidak bisa membaca dan
menulis sehingga harus dibantu oleh pihak observasi.
2. Ajeng Kholifah Aulia, ia peserta didik
kelas 4 yang karakternya juga kurang serius dalam menanggapi pelajaran yang
sedang di terangkan oleh gurunya. Ketika temannya sedang maju kedepan ia tidak
memperhatikannya, malah asyik mengobrol dengan teman sebangkunya dan
berpindah-pindah tempat duduk. Ia juga sukar dalam menangkap maksud yang
disampaikan gurunya. Kadang ia juga lupa terhadap penyampaian gurunya misalnya
ketika guru bilang “mata pencaharian itu kerjaan”, ia malah bertanya lagi apa itu
mata pencaharian. Disini kita bisa lihat bahwa dia tidak serius dalam
menanggapi dan mendengarkan ketika gurunya sedang menjelaskan.
3. Andriansyah, ia peserta didik kelas 3 SDN
12 Cicalengka. Ia tidak dapat membaca akan tetapi ia dapat menulis. Ia lebih suka
diam dan kurang bersosialisasi dengan teman lainnya. Hal itu karena kurangnya
perhatian, bimbingan dan kasih sayang orang tua, dikarenakan ibunya bekerja dan
ayahnya telah meninggal dunia, ia berkehidupan minim, sehingga ibunya bekerja
untuk menggantikan posisi ayah. Dan Andriansyah diasuh oleh neneknya, dan
neneknya tidak memperhatikan perkembangan belajarnya. Sehingga perkembangan
dalam belajarnya terlambat, cara pengasuhann antara ibu dan nenek akan sangat
berbeda. Sebenarnya jika dia lebih diperhatikan dalam perkembangan kognitif,
afektif, dan psikomotoriknya ia akan bisa berkembang sesuai dengan usianya.
4. Rizki Suriya Aziz, ia peserta didik kelas
3 SDN 12 Cicalengka yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan teman di
kelasnya. Ia termasuk salah satu siswa yang sering alfa (jarang masuk) karena
ketidak adanya motivasi untuk dia belajar. Ia hidup bersama ibunya sedangkan
yang ia butuhkan adalah perhatian dan pantauan dari ayahnya langsung, sedangkan
ayahnya bekerja diluar kota dan jarang pulang akhirnya ia suka tidak masuk
sekolah, karena ia hanya takut dan mematuhi peraturan yang dikatakan oleh
ayahnya saja tidak dengan yang lainnya termasuk ibunya yang merawatnya. Rizki
Suriya Aziz pernah bermasalah waktu ia
duduk di semester 1 ia tidak suka masuk sekolah, sehingga wali kelas
berinisiatif kepada teman-temannya untuk dating kerumahnya langsung dan mengajak
untuk sekolah, satu dua kali gagal dan akhirnya yang dating setiap pagi untuk
kerumahnya ditambah, yang biasanya hanya 2 orang menjadi lebih dari 2
orang. Rizki Suriya Aziz merupakan siswa
yang dapat dikatakan kurang dalam kefokusan pembelajaran saat KBM atau materi
sedang berlangsung. Anak tersebut lebih aktif untuk bermain dari pada
memperhatikan pembelajaran dan senang mengganggu teman yang lainnya saat
pembelajaran berlangsung.
5. Rasya Aditia Putra, ia peserta didik
kelas 3 SDN 12 Cicalengka. Ia terlahir dari keluarga yang tergolong sibuk,
sehingga kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua. Dan tinggal
di lingkungan yang tergolong kurang baik. Hal ini mempengaruhi tingkah lakunya
yang pemalu, namun di dalam pergaulannya cukup menghawatirkan. Berbahasa kotor,
kemudian bercanda yang berlebihan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan
didalam pergaulannya. Di sekolahpun ia pernah melakukan kasus yang cukup
mengejutkan, mengingat usianya yang masih terlalu muda. Yakni menyentuh
kemaluan teman perempuannya, walaupu hanya dengan maksud bercanda. Di
sekolahpun, dalam kegiatan KBM, Rasya dapat dikatakan kurang serius. Ia kerap
bercanda dengan kawan-kawannya, dan yang membuat khawatir ia berbicara
menggunakan kata-kata yang sepantasnya tidak diucapkan apalagi oleh anak
seusianya.
BAB IV
HASIL OBSERVASI
A.
Pembahasan
Hasil Observasi
Untuk
anak Sdn Cicalengka 12 khususnya untuk anak kelas III, ialah memiliki kesulitan
dan kurang lancarnya dalam membaca, karena apabila anak tersebut tidak lancar
dalam membacanya akan tertinggal beberapa pelajaran. Maka langkah-langkah yang
digunakan oleh wali kelas tersebut ialah memberikan tambahan waktu khusus yaitu
les dan dilaksankan les tersebut disekolah itu sendiri, dan langkah kedua orang
tua untuk memberi waktu intens anak dan memberikan dukungan atas perkembangan.
Ada
beberapa anak yang memang kesulitan dalam masalah membacanya diantaranya :Rizki Surya Aziz, Andriansyah dan Eka Swara
Somandinata. Atas hasil observasi penulis kepada wali kelas III itu sendiri
ialah Andiansyah faktornya kehidupan ekonominya kurang, ayahnya meninggal,
ibunya terlalu sibuk bekerja dan ia tinggal bersama neneknya dan neneknya
kurang perhatian dalam belajar, dan solusinya anak-anak yang seperti itu
disebangkukan dengan anak yang berprestasi dan dibimbing oleh teman
sebangkunya. Eka Swara Somandinata, kelemaha ia kurangnya focus dalam belajar
dan solusinya ia les dirumah dan kurangnya dukungam terhadap orang tuanya.
1.
Hasil Observasi mengenai Hakikat Perkembangan Peserta Didik, Perkembangan Peserta Didik
Periode SD, Karakteristik Perkembangan Bahasa Peserta SD, Perkembangan Seksual
Peserta Didik, dan Perkembangan Kognitif.
Prinsip-prinsip
perkembangan.
Didalam perkembangan individu dikenal prinsip-prinsip perkembangan,diantaranya
perkembangan berlangsung seumur hidup, setiap anak memiliki kecepatan tempo
dalam berfikir, Ada yang cepat dan ada yang lambat, diantaranya dari segi sosial atau dari segi kepribadiannya. Dan berdasarkan
hasil observasi yang dilakukanhal itu memang relevan dengan kenyataan yang ada seperti siswa
yang sering melamun saat belajar cenderung sukar untuk menyatakan pendapatnya.
Dalam
perkembangan peserta didik sekolah dasar biasanya mulai matang pada usia 13
tahun, yaitu mempengaruhi penyesuain pribadi dan penyesuaian sosial. Dan
terjadinya ketidak stabilan emosional dikarenakan
keadaan fisik dan lingkungan berakibat anak terssebut sulit di kendalikan.
Serta keluarga dapat berpengaruh dalam perkembangan peserta didik, jika
pendidikan dilingkungan keluarganya mendidik dengan baik maka kepribadian
anakpun akan baik, begitupun sebaliknya jika dari lingkungan keluarganya kurang
baik dalam mendidik anak atau kurang perhatian terhadap perkembangan anaknya,
maka akan terjadi perbedaan antara anak yang didik dan anak yang kurang dididik
dilingkungan rumahnya.
Dalam
perkembangan anak sekolah dasar banyak memiliki perbedaan karakter, diantaranya
dalam bertutur kata. Dan perkataan anak sekolah dasar haruslah sangat kita
perhatikan, karna itu awal dari perkembangan bahasa.bahasa yang harus kita
perhatikan diantaranya dari lingkungan keluarga, teman, sosial, ada beberapa
cara agar peserta didik berbahasa dengan baik dan benar. Diantaranya
keterampilan mendengarkan meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah,
dongeng, drama, dll. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan
perasaan, pikiran dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa,
pengenalan benda dll. Keterampilan membaca meliputi kemampuan memahami teks
bacaan melalui membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi
kemampuan menulis permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang, menulis
surat undangan dll.
SDN Cicalengka
12 khususnya untuk anak kelas III, ternyata ditemukan ada siswa yang memiliki kesulitan
dan kurang lancarnya dalam membaca, dan sangat berpengaruh terhadap
pembelajarannya, karena jika anak tersebut tidak lancar dalam membaca akan
tertinggal beberapa pelajaran. Maka langkah-langkah atau cara yang dilakukan
oleh seorang wali kelas atau guru tersebut adalah dengan memberikan tambahan
waktu khusus yaitu les(belajar tambahan) diluar jam pelajaran setelah pelajaran
sekolah selesai dan dilaksankan les tersebut disekolah secara privat (pribadi)
dengan cara pembelajarannya tidak disamakan oleh siswa yang unggul daripada
siswa tersebut, dan langkah kedua adalah perhatian orang tua untuk memberi
waktu intens anak dan memberikan dukungan atas perkembangan.
Ada beberapa
anak yang memang kesulitan dalam masalah membacanya diantaranya :Rizki Surya Aziz, Andriansyah dan Eka Swara
Somandinata. Atas hasil observasi penulis kepada wali kelas III itu sendiri
ialah siswa yang bernama Andiansyah yang diletarbelakangi oleh faktor kehidupan ekonominya kurang,
ayahnya telah meninggal, dan ibunya terlalu sibuk bekerja dan ia
tinggal bersama neneknya dan neneknyapun kurang memperhatikan dalam pola dan cara belajar andriansyah, dan sebagai solusinya guru/wali kelas anak-anak yang seperti itu diposisikan tempat
duduknya dengan anak yang berprestasi dan dibimbing oleh teman sebangkunya dikelas . Eka Swara Somandinata, kelemahan ia kurang fokusnya dalam belajar dan solusinya ia diberikan les (belajar tambahan) dirumah namun dalam pembelajarannya Eka
merupakan siswa yang pembelajarannya kurangnya dukungam terhadap orang tuanya.
Berdasarkan
teori perkembangan seksual oleh Nanda
Rahmawti 2012 anak di usia sekolah dasar sudah mulai berbicara mengenai
persoalan seks, yang disebabkan oleh
terjadinya perubahan fisik dan emosi didalam dirinya ternyata berdasarkan
hasil observasi yang dilakukan kemarin hal itu tidak relevan karena yang kami
temukan tidak sesuai dengan apa yang dilihat, pada keadaan di sekolah kemarin
tidak ditemukan siswa usia dasar yang berbicara mengenai seksual
Dan perkembangan Kognitif
dapat dikatakan sebagai knowing atau perkembangan yang berkaitan dengan pengetahuan, ternyata aspek kognitif sangat berpengaruh terhadap
cara pembelajaran siswa, seperti pemecahan suatu soal, pemahaman terhadap
materi yang diberikan oleh guru sampai sengan penyimpanan apa yang disampaikan
dan juga menganai rasa keinginan siswa untuk belajar.
2.
Peran guru sebagai pendidik dan kelekatan dengan peserta didik.
Hubungan antara
peran guru dan kelekatan pendidikan dengan hasil observasi. Peran guru
sebagai seorang pendidik merupakan pera-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas
memberi bantuan dan dorongan (suporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan
“supervisor” serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisplinkan anak agar
anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam
keluarga dan masyarakat
Kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau
hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya
yang mempunyai arti khusus, dalam hal ini biasanya hubungan ditujukan pada ibu
atau pengasuhnya. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik, bertahan cukup
lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan
anak.
Hubungan hasil
observasi dengan teori peran guru di SDN 12 Cicalengka peran guru sangat
membantu dan berpengaruh dalam meningkatkan kedisiplinan dan dalam meningkatkan
motivasi belajar sehingga peserta didik dapat mematuhi gurunya. Namun pada
intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang
untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan
sebagai keseluruhan daya ingat didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin
kelangsungan dan memeberikan arah kegiatan belajar, sehinga diharapkan tujuan
dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab
seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak mungkin melakukan
aktivitas belajar. Peran guru di SDN 12 Cicalengka juga, memberikan arahan
terhadap peserta didik yang menyimpang dengan cara menyeluruh dengan tidak menyudutkan
salah satu orang yang berprilaku menyimpang.
Kelekatan
pendidik dan peserta didik di SDN 12 Cicalengka sangat baik, pendidik dapat
memahami keadaan peserta didik/siswa.
Karena ketika muncul masalah dipeserta didik guru tersebut merangkul dan
memotivasi sisiwa tersebut agar tidak mengulangi kesalahannya.
3.
Hubungan antara hasil observasi dengan teori tentang proses belajar
peserta didik usia sekolah dasar
Berdasarkan hasil observasi terhadap
partisipan yang diobservasi bahwa relevansi antara perkembangan dan pertumbuhan
anak, metode pembelajaran dari guru terhadap proses belajar siswa sangat
berpengaruh, karena gaya belajar anak usia sekolah dasar mempunyai
karakteristik tertentu, seperti senang bermain misalnya, dalam hal ini guru
dituntut untuk bisa memilih metode pembelajaran yang sesuai seperti
-menyampaikan pelajaran dengan atau sambil bermain-, kenapa harus sambil
bermain, karena ketika seorang guru menyampaikan pelajaran dengan metode
ceramah, sedangkan karakteristik belajar siswa lebih suka bermain, maka
pelajaran akan skar diserap oleh siswa dan cenderung akan lebih monoton, karena
selain senang bermain, anak usia sekolah dasar juga memunyai karakteristik
senang bergerak (aktif).
Mengenai proses belajar anak usia sekolah
dasar, tidak lepas dari tahap-tahap belajarnya, tahap-tahap tersebut adalah
konkret, integrasi dan hierarkis, untuk tahap belajar konkret yaitu proses
belajar siswa dimulai dar hal-hal yang dapat dilihat, diraba, dicium, dan titik penekanan dari hal ini
lingkungan sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Dari data hasil
observasi yang telah kami lakukan bahwa materi yang diajarkan oleh guru kepada
muridnya sesuaidenga kemampuan dan tahapan belajar anak didik tersebut, hal ini
terlihat dari materinya yang tidak terlalu berat untuk kategori anak usia
sekolah dasar dan murid pun mudah memahaminya seperti, guru hanya membahas
tentang do’a-do’a dalam sholat saja tidak sampai membahas kepada hakikat dari
do’a-do’a tersebut, karena jika guru membahasa sampai kepada hakikatnya kepada
anak usia sekolah dasar yang tahap belajarnya masih dalam tahapn konkret, maka
hanya akan membuat anak didik ssemakin sulit memahami pelajaran tersebut.
4.
Hubungan antara hasil observasi dengan metode pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi terdapat relevansi antara
metode pembelajaran dengan proses belajar. Guru dituntut untuk bisa memilih
metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan, dari sekian
banyak metode yang biasa dilakukan atau dipakai untuk anak. yang dipakai di SDN
12 Cicalengka diantaranya metode ceramah
dan praktik. Karena dengan metode ceramah biasanya siswa lebih mudah menangkap
pelajaran yang disampaikan oleh guru begitupun guru juga lebih menguasai
keadaan siswa dikelas. Tapi dari hasil observasi kami melihat kelemahan dari
metode ceramah ini diantaranya membosankan atau konsentrasi anak tidak semuanya
sama memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru, diantaranya sebagian ada
yang memperhatikan dan sebagian yang tidak memperhatikan.Adapun metode praktik
tentunya berkaitan dengan metode ceramah, metode praktik sebagai antisipasi
kebosanan siswa dan juga bisa membuat siswa lebih aktif dan mudah dipahami.
Kelemahan metode praktik di SDN 12 Cicalengka ini yaitu kurangnya sarana
sebagai alat untuk metode praktik ini.
BAB V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarakan hasil obaservasi, dapat disimpulkan bahwa
perkembangan anak baik itu perkembangan bahasa maupun seksual dapat dilihat
dari aspek kognitif anak itu sendiri,
seperti kemampuan anak dalam mendengarkan, berbicara, membaca dan keterampilan
menulis. Kemampuan-kemampuan tersebut sangat mempengaruhi perkembangan bahasa
anak, karena ketika salah satu dari kemampuan tersebut kurang, maka
perkembangan bahasa anak itu terganggu atau bermasalah. Sedangkan perkembangan seksual anak dapat dilihat dari
perilaku dan gaya bicara siswa tersebut
yang sudah berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan denga seksual. Namun,
dalam kasus ini (hasil observasi), perkembangann seksualnya masih dalam batas
wajar, seperti, dia hanya mengetahui bahwa dia berbeda dengan yang lain (lawan
jenis), bergaul dengan lawan jenis dalam batas yang diwajarkan dan untuk puncak
perkembangan seksual usia anak sekolah
dasar terlihat di umur 12-13 tahun.
Dari semua perkembangan bahasa dan seksual anak, terdapat dua faktor
yang mempengaruhi cepat atau lambatnya perkembangan tersebut yaitu intrinsik
dan ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah potensi yang ada pada diri anak
tersebut dan faktor ekstrinsik meliputi: pertama, keluarga, karena
keluarga adalah lingkungan pertama dimana anak tersebut tumbuh, jika
keluarganya mendidiknya dengan baik, maka output dari anak tersebut akan baik
terlebih dari segi bahasa dan seksualnya. Kedua, sekolah dimana anak
tersebut bergaul dengan teman-temannya. Ketiga, lingkungan masyarakat,
yang mana lingkungan tersebut sangat mempengaruhi si anak selain keluarga dan
sekolah, karena tidak menutup kemungkinan anak
tersebut bergaul dengan orang yang lebih dewasa darinya yang menyebabkan
perkembangan bahasa dan seksualnya tuumbuh lebih cepat.Selain itu, peran orang
tua dan guru sangat menentukan terhadap perkembangan bahasa dan seksualnya.
Bagaimana orang tua dan guru tersebut mendidik,mengajar dan mengarahkan akan melekat pada dirinya sehingga menjadi perilaku dan kebiasaany yang nantinya
akan berdampak pada proses belajar anak tersebut.
B.
Saran
Watak dan prilaku anak akan
terciptaoleh lingkugannya, maka untuk membentuk watak serta prilaku anak yang
baik sangat diperlukan peranan orang tua untuk mendampingi perkembangan bahasa hingga
perkembangan seksualnya. Orang tua harus memiliki waktu untuk bisa memberikan
pengalaman, keilmuan hingga bercerita bersama anaknya dalam prihal kegiatannya
disekolah agar dapat mengontrol perkembangannya, dan mengetahui bagaimana
perkembangan pembelajarannya, perkembangan bergaul, sosialisainya dan juga yang
lainnya.
C.
Daftar Pustaka
Buku
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah,
Sekolah, dan Masyarakat, (Gema Insani Press:Jakarta), 1995, hal. 170-175.
Ahmad Tanzeh, Pengantar
Metode Penelitian, Cet. I (Yogyakarta, Teras, 2009), hlm. 66.
Anji Fathunaja,
Reorientasi Pendidikan Seks Terhadap Anak Usia Remaja di Sekolah (Memadukan
Sains dan Agama dalam Pembelajaran), Yogyakarta. hlm
Arif Furchan, Pengantar
Penelitian dalam Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), hlm. 21.
Budiman,
L. 2007. Menjadi Orang Tua Idaman: Menyelami Dunia Anak.Jakarta:Kompas
Eka Ervika. Kelekatan
(Attachment) Pada Anak. Program Studi
Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara. 2005.
Ernawulan S, Perkembangan Anak Usia Dini, Bahan Pelatihan
Pembelajaran Terpadu Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi 2003, Dosen PGTK FIP UPI.
Hartono Dwi Rizki, Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Remaja Berperilaku
Menyimpang,
James A. Black
& Dean J. Champion, Methodes And Issues In Social Research, Terj. E.
Koswara, Dira Salam dan Alfin Ruzhendri (Bandung: Rafika Adiatama, 2009), hlm.
306.
Lexy J.
Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cet. XXII (Bandung: Rosdakarya,
2006), hlm. 6.
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 330.
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 331.
Lucy,
B. 2009. Mendidik Sesuai Dengan Minat dan Bakat Anak. Jakarta:
TanggaPustaka
Muhamad Afandi,
S.Pd., M.Pd Evi Chamalah, S.Pd., M.Pd, Oktarina Puspita Wardani, S.Pd., M.Pd
Pengantar: Prof. Dr. H. Gunarto, M.Hum. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN DI
SEKOLAH. UNISSULA Press 2013
Muhammad Afandi, Evi Chamalah & Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajarann
Disekolah (Semarang, Sultan Agung Press, 2013), hlm. 83
Muhammad Afandi, Evi Chamalah & Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajarann
Disekolah (Semarang, Sultan Agung Press, 2013)
Muhibbin Syah, Op.Cit, hlm 60
Nanda Rahmawti,2012. Gambaran Perilaku Seksual Pada Anak
Usia Sekolah Kelas 6 Di Tinjau Dari Media Cetak Dan Media Elektronik Sekolah
Dasar Negeri 16 Banda Aceh Tahun 2012, hlm1
Neti Hemawati, Puji Lestari, Rini Hildayani. Peran kualitas kelekatan
ibu-anak, gender anak dan rasio guru-anak terhadap kualitas hubungan guru-anak
usia prasekolah. Jur. Ilm, Kel & Kons. Vol. 5. No. 2. Fakultas Ekologi
Manusia IPB. 2012.
Rika Hardani. Pengaruh
kelekatan anak dengan orang tua, guru, teman dan control diri terhadap perilaku
pornografi anak SMP. 2017. Institut Pertanian Bogor.
Rizki Dwi Hartono dan Nur Dyah Gianawati, Faktor-Faktor yang Menyebabkan
Remaja Berperilaku Menyimpang, Artikel Ilmiah Hasil Penelitian, Jurusan
Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas
Jember, Jember 2013.
S. Nasution, Metode
Research( Jakarta: Bumi Askara, 2011), hlm. 106.
Sugiyono, Metode
Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Cet. XVII (Bandung:
Alfabeta, 2012), hlm. 233.
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 227.
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 246.
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 252.
Suharsimi
Arikunto, Manajemen Penelitian Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media,
2008), hlm. 24
Sunarto, agung
hartono, perkembangan peserta didik, (Jakarta : PT. Rineka Cipta,2006) hlm
148-149
Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
Syamsu Yusuf
L.N, Nani M. Sugandhi, Perkembangan pesearta didik, (Jakarta
: rajawali pers, 2012) h.60
Zainal Arifin, Penelitian
Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru, Cet. II (Bandung: Rosdakarya, 2012),
hlm. 53-54.
Internet
Dena Kaifal
Kurni, 2015, Perkembangan Bahasa Anak SD, http://denakaifal201491048.wiblog.esaunggul.ac.id/2015/01/23/perkembangan-bahasa-anak-sd/
http://www.fipumj.net/artikel1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc‐STRATEGI‐
PEMBELAJARAN‐ANAK‐USIA‐DINI.html (diakses: 21 April 2018, 01.40 WIB)
PEMBELAJARAN‐ANAK‐USIA‐DINI.html (diakses: 21 April 2018, 01.40 WIB)
http://www.voa‐islam.com/read/muslimah/2009/07/25/456/masa‐keemasan‐
anak/ (diakses :21 April 2018 , 01.30 WIB
anak/ (diakses :21 April 2018 , 01.30 WIB
Siti Rahmah
Syarifuddin, 2014, karakteristik dan perkembangan anakusia sd,
(http://id.shvoong.com/sosialsciences/education/2156062pengertian-metode-talking
stick/)
http://mooza-alkaz.blogspot.co.id/2012/03/makalah-proses-dan-hasil-belajar.html (diakses: Pukul 05.13 WIB, Minggu, 01 April 2018)
Jurnal
Esther Kartika,
Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan Penabur, No.03,
Desember 2004.
Fatonah, S. 2009. Menumbuhkan Kecerdasan Majemuk (Multiple
Intelligence)AnakDengan Mengenal Gaya Belajarnya Dalam Pembelajaran IPA SD. Jurnal
Al‐ Bidayah, Vol 1[2], h 229‐245. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Iswah Adriana,
Memahami Pola Perkembangan Bahasa Anak dalam Konteks Pendidikan, Jurnal
Tadris, Volume 3, Nomor 1, 2018.
Samiudin.
Jurnal Studi Islam. Pentingnya memahami perkembangan anak untuk menyesuaikan
Cara mengajar yang diberikan, Vol. 12, No.1, April 2017
Yulia
Amaliyasari dan Nunik Puspitasari, Perilaku Seksual Anak Usia Pra Remaja Di
Sekitar Lokalisasi dan Faktor yang Mempengaruhi. Jurnal Penelitian.Din.Sos. Vol.
7, No.1, April 2008.
Yulia Helti, Karakteristik
Perkembangan Bahasa Anak SD dalam Berkomunikasi,jurnal STKIP YDB Lubuk Agung,hlm 5
Yulia Palupi, Perkembangan Bahasa Anak, Jurnal, Alumni IKIP PGRI
Wates, 2015
[1]
Berdasarkan observasi di SD Cicalengka,05 april 2018
[2]
Arif Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka
Belajar, 2005), hlm. 21.
[3]
Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru, Cet. II
(Bandung: Rosdakarya, 2012), hlm. 53-54.
[4]
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cet. XXII (Bandung:
Rosdakarya, 2006), hlm. 6.
[5]
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian Pendidikan (Yogyakarta: Aditya
Media, 2008), hlm. 24.
[6]
James A. Black & Dean J. Champion, Methodes And Issues In Social
Research, Terj. E. Koswara, Dira Salam dan Alfin Ruzhendri (Bandung: Rafika
Adiatama, 2009), hlm. 306.
[7] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif
Kualitatif dan R & D, Cet. XVII (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 233.
[8]
S. Nasution, Metode Research( Jakarta: Bumi Askara, 2011), hlm. 106.
[9] Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 227.
[10]
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Cet. I (Yogyakarta, Teras,
2009), hlm. 66.
[11]
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 246.
[14]
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 252.
[15]
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 330.
[17]
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 331.
[18]
Iswah Adriana, Memahami Pola Perkembangan Bahasa Anak dalam Konteks Pendidikan,
Jurnal Tadris, Volume 3, Nomor 1, 2018.
[19]Yulia Palupi, Perkembangan Bahasa Anak, Jurnal, Alumni
IKIP PGRI Wates, 2015
[20]Ernawulan S, Perkembangan Anak Usia Dini, Bahan
Pelatihan Pembelajaran Terpadu Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi 2003, Dosen PGTK FIP UPI.
[21]Rizki Dwi Hartono dan Nur Dyah Gianawati,
Faktor-Faktor yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang, Artikel Ilmiah
Hasil Penelitian, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial
dan Ilmu Politik, Universitas Jember, Jember 2013.
[22]Hartono Dwi Rizki, Faktor-Faktor Yang Menyebabkan
Remaja Berperilaku Menyimpang,
[23]
Esther Kartika, Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan
Penabur, No.03, Desember 2004.
[24]
Yulia Amaliyasari dan Nunik Puspitasari, Perilaku Seksual Anak Usia Pra Remaja
Di Sekitar Lokalisasi dan Faktor yang Mempengaruhi. Jurnal
Penelitian.Din.Sos. Vol. 7, No.1, April 2008.
[25]Samiudin. Jurnal Studi
Islam. Pentingnya memahami perkembangan anak untuk menyesuaikan Cara
mengajar yang diberikan, Vol. 12, No.1, April 2017
[26]SitiRahmah
Syarifuddin, 2014,karakteristik danperkembangananak usia sd,
[27]
Yulia Helti, Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak SD dalam Berkomunikasi,jurnal STKIP YDB Lubuk Agung,hlm 5
[28]
Dena Kaifal Kurni, 2015, Perkembangan Bahasa Anak SD, http://denakaifal201491048.wiblog.esaunggul.ac.id/2015/01/23/perkembangan-bahasa-anak-sd/
[29]
Nanda Rahmawti,2012. Gambaran Perilaku Seksual Pada Anak
Usia Sekolah Kelas 6 Di Tinjau Dari Media Cetak Dan Media Elektronik Sekolah
Dasar Negeri 16 Banda Aceh Tahun 2012, hlm1
[33]Anji Fathunaja, Reorientasi Pendidikan Seks Terhadap Anak Usia Remaja di
Sekolah (Memadukan Sains dan Agama dalam Pembelajaran), Yogyakarta. hlm 9
[34]http://www.voa‐islam.com/read/muslimah/2009/07/25/456/masa‐keemasan‐
anak/ (diakses :21 April 2018 , 01.30 WIB)
anak/ (diakses :21 April 2018 , 01.30 WIB)
[35]http://www.fipumj.net/artikel1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc‐STRATEGI‐
PEMBELAJARAN‐ANAK‐USIA‐DINI.html (diakses: 21 April 2018, 01.40 WIB)
PEMBELAJARAN‐ANAK‐USIA‐DINI.html (diakses: 21 April 2018, 01.40 WIB)
[36]Lucy, B. 2009. Mendidik Sesuai Dengan Minat dan BakatAnak.Jakarta:
TanggaPustaka
[37]Fatonah, S. 2009. Menumbuhkan Kecerdasan
Majemuk(MultipleIntelligence) AnakDengan Mengenal Gaya Belajarnya Dalam
PembelajaranIPA SD. Jurnal Al‐Bidayah, Vol 1[2], h229‐245. Yogyakarta: UIN
Sunan Kalijaga
[38]Budiman, L. 2007. Menjadi Orang Tua Idaman: Menyelami Dunia
Anak. Jakarta:Kompas
[41]
Sunarto, agung hartono, perkembangan peserta didik, (Jakarta : PT. Rineka
Cipta,2006) hlm 148-149
[43]
Syamsu Yusuf L.N, Nani M. Sugandhi, Perkembangan pesearta didik, (jakarta :
rajawali pers, 2012) h.60
[44]http://mooza-alkaz.blogspot.co.id/2012/03/makalah-proses-dan-hasil-belajar.html
(diakses: Pukul 05.13 WIB, Minggu, 01 April 2018)
[45]Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah,
Sekolah, dan Masyarakat, (Gema Insani Press:Jakarta), 1995, hal. 170-175.
[46]Eka
Ervika. Kelekatan (Attachment) Pada Anak. Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas
Sumatera Utara. 2005.
[47]Rika Hardani. Pengaruh
kelekatan anak dengan orang tua, guru, teman dan control diri terhadap perilaku
pornografi anak SMP. 2017. Institut Pertanian Bogor.
[48]Neti Hemawati, Puji Lestari, Rini Hildayani. Peran
kualitas kelekatan ibu-anak, gender anak dan rasio guru-anak terhadap kualitas
[49]hubungan guru-anak usia prasekolah. Jur. Ilm, Kel & Kons. Vol. 5. No. 2. Fakultas
Ekologi Manusia IPB. 2012.
[50](http://id.shvoong.com/sosialsciences/education/2156062pengertian-metode-talking
stick/)
[51]Muhammad
Afandi, Evi Chamalah &Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajarann
Disekolah (Semarang, Sultan Agung Press, 2013), hlm. 83
[52]Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
[53]Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
[54]ibid
[55]Muhamad Afandi, S.Pd., M.Pd Evi Chamalah,
S.Pd.,M.Pd, Oktarina Puspita Wardani, S.Pd., M.Pd Pengantar: Prof. Dr.H.
Gunarto, M.Hum. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN DISEKOLAH. UNISSULA Press 2013
Trimakasih sangat membantu sekali 😁
BalasHapus