Perkembangan Bahasa dan Seksual Pada Anak SD (Observasi di SDN Cicalengka 12)



PERKEMBANGAN BAHASA DAN PERKEMBANGAN SEKSUAL PADA USIA ANAK SEKOLAH DASAR DI SDN CICALENGKA 12
OBSERVASI ANAK USIA SEKOLAH
Mata kuliah Perkembangan Peserta Didik (PPD) dan Psikologi dengan Dosen Pengampu:
 Nurodin, S.Kom.I, M.A., Kons




Team Observer
Aang, Kohar, Astri, Dian, Diki, Fina, Ginan, Imam, Laily, Lulu, Fahrurrozi, Haris, Nina, Nurajijah, Risyad, Sandy, Silvi, Uswatun
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM (PAI)
FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM (STAI) AL-FALAH
CICALENGKA-BANDUNG
2018

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Observasi
Dalam pendidikan tingkat dasar didalam bangsa ini, terdapat berbagai permasalahan yang menjadi problema yang berkepanjangan dan sukar untuk diselesaikan. Diantaranya seperti permasalahan perkembangan bahasa dan perkembangan seksual yang semakin hari semakin menjalar hingga pada tingkat sekolah dasar. Hal ini menjadi dilema bangsa yang dirasa harus segera bisa diselesaikan, mengingat anak merupakan aset penting bangsa untuk masa yang akan datang. Oleh karena itu kami mencoba untuk meneliti hal-hal yang menjadi sebab terhadap permasalahan ini.
Pada umumnya masyarakat Indonesia masih berada dalam proses transisi dari budaya lisan ke budaya tulisan. Kebiasaan membaca dan menulis masih belum berkembang dengan sepenuhnya pada anggota-anggota masyarakat. Kecenderungan mendapatkan informasi melalui percakapan (dengan lisan) tampaknya masih lebih kuat dari pada melaui bacaan (dengan tulisan). Kecenderungan ini dapat dilihat dari kenyataan bahwa minat dan kebiasaan membaca di kalangan siswa dan mahasiswa relatif masih lemah. Anjuran yang sering terdengar dari pihak pemerintah dan berbagai kalangan pemimpin masyarakat untuk meningkatkan minat dan kebiasaan membaca adalah juga merupakan bukti kecenderungan di atas.
Minat dan kebiasaan membaca yang baik, sebagai bagian penting dari budaya tulisan, tak mungkin dimiliki dalam waktu singkat. Pengembangannya makan waktu yang relatif lama, dan harus sejalan dengan perkembangan pendidikan pada anggota masyarakat umumnya. Disamping itu, sarana-sarana pendukung, terutama tersedianya buku-buku bacaan yang harganya terjangkau oleh masyarakat umumnya, dan perpustakaan-perpustakaan disemua tingkatan daerah, terutama dikecamatan dan desa, sangat perlu diusahakan. Dalam hubungan tersedianya buku-buku bacaan dimaksud, motivasi untuk menulis (mengarang) bagi para penulis buku perlu di perhatikan, khususnya berupa royalti yang pantas dan diberikan sepenuhnya pada waktunya serta pelaksanaan Undang-undang yang ketat dan tegas.  
Pengembangan minat dan kebiasaan membacanya yang baik harus dimulai sedini mungkin pada masa anak-anak. Orang tua, terutama ibu, dan guru-guru, terutama guru kelompok bermain, Taman Kanak-kanak, dan Sekolah Dasar kelas satu hingga kelas tiga, mempunyai peranan yang sangat menentukan dalam usaha-usaha pengembangan ini. Pengembangan minat dan kebiasaan membaca harus dimulai dari rumah. Untuk pengembangan itu, orang tua, dan juga guru, perlu mengetahui pokok-pokok perkembangan bahasa dan pikiran anak-anak. Di samping itu, jenis-jenis bacaan diketahui. Selanjutnya berbagai kelemahan anak dalam membaca juga harus mendapat perhatian dari orang tua dan guru, sehingga dapat diperbaiki atau dicegah sebelum terlambat.
Adapun mengenai pembelajaran perkembangan anak usia pra remaja bukan hanya perkembangan bahasa saja yang diperhatikan namun disisi lain perkembangan seks juga sangat penting untuk dipelajari pada perkembangan usia pra remaja ini.
Pendidikan seks merupakan salah satu cara untuk mengurangi atau mencegah penyalahgunaan seks, khususnya untuk mencegah dampak-dampak negatif yang tidak diharapkan seperti kehamilan diluar nikah, penyakit menular seksual (PMS), depresi dan perasaan berdosa.
Seks adalah kebutuhan secara alami yang melekat pada setiap manusia, bukan hanya pada usia dewasa saja teapi juga pada usia remaja. Maka dari itu pengetahuan pengajaran mengenai hubungan seks pembelajaran seks sangatlah diperlukan pada peserta didik terutama di usia pra-remaja (10-12) dan remaja awal (13/14-17th) Begitu banyak faktor dan pengaruh negatif yang bisa menimpa usia pra remaja dan usia remaja misalnya masalah pornografi atau pornoaksi, internet dan televisi yang kering akan nilai-nilai moral.
Berbagai tujuan yang telah disampaikan dimuka tentu tidak akan berhasil tanpa upaya dari para pendidik di berbagai instansi pendidikan. Para pendidik harus mendidik dan membimbing peserta didik secara optimal.  Pendidik harus mengetahui semua aspek dari peserta didik. Karena objek didalam pendidikan adalah peserta didik.
Peserta didik mempunyai banyak aspek dalam dirinya. Ada aspek fisik dan mental, serta ada pula aspek kognitif, afektif dan psikomotornya. Semua aspek tersebut dapat berkembang seiring berjalannya waktu. Tentu karena diiringi dengan pendidikan, pengalaman-pengalaman yang didapat, serta faktor lain yang mendukungnya. Jika terdapat faktor yang mendukung perkembangan peserta didik, maka akan ada faktor yang menghambat perkembangannya. Sehingga hal tersebut dapat pada perkembangan setiap peserta didik yang akan berbeda-beda, ada yang berkembang dengan cepat, normal bahkan ada yang lambat. Tergantung seberapa banyak faktor pendukung dan penghambatnya.
Maka disinilah pentingnya pendidik memahami perkembangan peserta didik. Agar para pendidik dapat mengetahui dan memahaminya. Sehingga pendidik dapat memahami keadaan peserta didiknya juga dapat mengembangan potensi-potensi yang dimilikinya.
Berdasarkan pemaparan diatas, maka kami akan menyusun observasi tentang perkembangan peserta didik. Namun kami akan membatasinya, yaitu hanya sebatas pada perkembangan bahasa dan seksualnya saja. Dan kami akan melakukan observasi ini di SDN XII Cicalengka. Sekolah ini kami anggap sesuai dengan observasi kami karena memiliki beberapa peserta didik yang mempunyai masalah dalam perkembangan bahasa dan seksualnya.[1]
B.     Rumusan Masalah 
1.      Bagaimana perkembangan bahasa peserta didik pada usia sekolah dasar dilihat dari aspek kognitif?
2.      Bagaimana perkembangan peserta didik pada usia sekolah dasar?
C.     Tujuan dan Manfaat Observasi
1.      Tujuan observasi. Adapun tujuan observasi ini adalah :
a.       Mengetahui perkembangan peserta didik pada usia sekolah dasar dari aspek bahasa dilihat dari ranah kognitifnya.
b.      Mengetahui perkembangan seksual peserta didik pada usia sekolah dasar.
2.      Manfaat observasi. Adapun manfaat observasi ini adalah :
a.       Bagi peneliti. Hasil observasi ini diharapkan dapat memberikan kebanggaan kepada bapak dosen yang telah menugaskan kami untuk menjalani observasi ini. Sehingga dapat memberikan penghargaan kepada kami sebagai peneliti.
b.      Bagi para pendidik. Hasil observasi ini diharapkan dapat membantu memberikan wawasan tentang perkembangan peserta didik dari aspek perkembangan bahasa yang dilihat dari ranah kognitif dan perkembangan seksualnya agar para pendidik dapat mencegah hal-hal yang dapat mengakibatkan penyimpangan, khususnya bagi peserta didik usia sekolah dasar.
c.       Bagi akademisi dan praktisi pendidikan. Hasil observasi ini diharapkan dapat memperkaya khazanah keilmuan dan dapat menjadi tambahan informasi juga referensi yang dapat dijadikan sebagai rujukan dalam menjalankan aktifitas pembelajaran.

D.    Metode Penelitian
Penelitian ini membutuhkan observasi dalam menggali data yang ada di lapangan, terutama yang berkaitan dengan perkembangan bahasa dan seksual dalam perkembangan peserta didik usia sekolah dasar di SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung. Oleh sebab itu, penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif yang berbentuk deskriptif. Furchan mengatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif (tulisan, ucapan atau prilaku yang dapat diamati dari orang yang dijadikan subjek dalam penelitian) itu sendiri.[2]
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang mendeskripsikan atau menggambarkan isi data yang didapat, kemudian menemukan fakta dengan interpretasi yang tepat. Data tersebut diambil dari hasil wawancara, catatan lapangan, foto, pengamatan, dokumen dan lain sebagainya. Dalam hal ini peneliti mengkaji dan menganalisis tentang perkembangan bahasa dan seksual dalam perkembangan peserta didik usia sekolah dasar di SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung. Hal tersebut sependapat dengan Moleong yang menyebutkan bahwa penelitian deskriptif adalah laporan penelitian yang berisi kutipan-kutipan data untuk memberi gambaran penyajian laporan.[3]
Peneliti menggunakan jenis penelitian kualitatif yang berbentuk deskriptif yakni karena ada beberapa pertimbangan sebagai berikut: 1) menjelaskan dan menguraikan masalah melalui penelitian kualitatif lebih mudah apabila berhadapan dengan kenyataan-kenyataan ganda, 2) penelitian kualitatif mengkaji secara langsung hakikat hubungan antara peneliti dengan informan. Penelitian jenis ini lebih peka dan merespon lebih cepat apabila diterapkan di lapangan serta mampuberadaptasi dengan banyak penajaman pengaruh bersama terhadap pola atau nilai yang dihadapi dalam penelitian.[4]
1.      Sumber Data
Sumber yang dijadikan data utama dalam penelitian kualitatif adalah perkataan dan tindakan, selebihnya merupakan data tambahan seperti dokumen, arsip, notulen dan lain-lain.[5] Pengambilan data yang dilakukan pada beberapa sumber data (subjek) dalam penelitian, yakni peserta didik di SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung. Berkaitan dengan hal tersebut maka jenis data dalam penelitian ini dibagi dalam:
a.     Data tertulis
Data utama ini diperoleh dengan cara mengisi daftar cek yang telah dibuat oleh peneliti melalui teknik observasi atau pengamatan terhadap keadaan dan tingkah laku peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
b.    Data kata-kata atau lisan
Pencatatan data ini dilakukan melalui kegiatan wawancara yaitu interviewer menggali keterangan dari informan selaku supplyer di lokasi penelitian. Dalam hal ini yaitu peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
c.     Foto atau gambar
Foto atau gambar merupakan alat bantu dari sumber benda yang tidak memungkinkan sumber data yang berupa benda atau pristiwa penting dalam hal tersebut dibawa sebagai barang bukti penelitian. Dalam penelitian ini, foto atau gambar digunakan dalam hal sajian data yang berupa benda maupun peristiwa yang terjadi di lapangan.
1.      Teknik Pengumpulan Data
a.     Interview (wawancara)
Interview yaitu proses tanya jawab secara lisan antara peneliti dengan responden yang keduanya sering berhadapan secara langsung. Interview adalah suatu kegiatan komunikasi verbal yang dilakukan oleh pewawancara untuk memperoleh informasi dari nara sumber (orang yang diwawancarai).[6]
Ada beberapa macam interview, yaitu structured interview, semistructured interview, unstructured interview. Tetapi dalam penelitian ini peneliti hanya menggunakan semistructured interview saja. Semistructured interview adalah wawancara untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka tanpa menafikan pedoman wawancara yang telah disusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya.[7]
Teknik ini digunakan untuk mewawancarai para peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung. Sehingga, peneliti akan memperoleh data tentang perkembangan bahasa dan seksual peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.




b.    Obsevasi (pengamatan)
Observasi adalah cara pengumpulan data melalui pengamatan yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang kelakuan manusia seperti yang terjadi dalam kenyataan. Peneliti secara langsung mengadakan pengamatan (tanpa alat) terhadap gejala-gejala yang dihadapai (diselidiki), baik pengamatan itu dilaksanakan dalam situasi yang sebenarnya maupun situasi buatan yang diadakan.[8]
Ada beberapa jenis observasi yang bisa digunakan, seperti observasi partisipatif (pasif, moderat, aktif dan lengkap), observasi terus terang atau tersamar dan observasi tak berstruktur. Tetapi dalam penelitian ini hanya menggunakan observasi partisipasi pasif saja. Partisipasi pasif adalah peneliti datang ketempat yang akan diamati, tinggalbeberapa waktu di tempat tersebut dan melakukan pengamatan tanpa ikut serta dalam kegiatannya.[9]
Dalam hal ini, peneliti mendatangi langsung lokasi yaitu SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung dan mengamati keadaan perkembangan peserta didik dilihat dari perkembangan bahasa dan seksual di SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
c.     Dokumentasi.
Dokumentasi adalah mencari data mengenai hal-hal atau variabel yang berkaitan dengan penelitian, yakni berupa catatan, transkrip, buku, surat kabar, agenda dan lain sebagainya.[10] Teknik ini dipakai untuk memperoleh data tentang keberadaan tempat, daerah dan wilayah. Dalam hal ini detil SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung yang meliputi: kondisi dan profil sekolah, jumlah staf pengajar dan lain sebagainya.
2.    Teknik Analisis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah non-statistik yaitu analisis data deskriptif. Analisis data menggunakan langkah-langkah yang masih bersifat umum yaitu reduksi data, penyajian data, serta verifikasi dan pengambilan kesimpulan, yang familiar disebut dengan model Miles dan Huberman.[11]
a.     Reduksi data (data reduction)
Merupakan proses pemilihan, penyederhanaan dan transformasi data kasar yang diperoleh dari catatan lapangan melalui wawancara, observasi dan dokumentasi.[12] Data yang diperoleh dari SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung ditulis kembali dalam bentuk uraian atau laporan terinci. laporan tersebut kemudian direduksi, dirangkum, dipilih hal-hal yang pokok dan difokuskan dalam hal-hal yang penting.
b.      Penyajian data (data display)
Penyajian data merupakan sekumpulan informasi dari reduksi data yang kemudian disajikan dalam laporan yang sistematis dan mudah dipahami.[13] Dalam hal ini data perkembangan bahasa dan seksual peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung.
c.     Verifikasi dan pengambilan kesimpulan (verification and conclusion drawing)
Pada tahap ini akan diverifikasi terlebih dahulu data yang telah disajikan, kemudian diambil kesimpulan terhadap data yang telah direduksi dari SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung kedalam laporan secara sistematis dengan cara membandingkan, menghubungkan dan memilih data yang mengarah pada pemecahan masalah serta mampu menjawab permasalahan untuk mencapai tujuan yang dikehendaki.[14]



3.    Pengecekan Keabsahan Data
Upaya menjaga keabsahan data dalam penelitian ini, penulis menggunakan beberapa teknik triangulasi. Adapun teknik triangulasi yang digunakan sebagai berikut:
a.     Triangulasi Sumber. Menggunakan berbagai sumber data seperti hasil wawancara, hasil observasi dan dokumen.[15] Peneliti melakukan wawancara dengan informan untuk mendapatkan data yang lengkap dan relevan tentang keadaan perkembangan peserta didik dilihat dari perkembangan bahasa dan seksual peserta didik SDN 12 Cicalengka Kabupaten Bandung sesuai dengan pedoman wawancara. Peneliti juga melakukan observasi untuk mengamati realita yang terjadi di tempat tersebut.
b.    Triangulasi Teori. Penggunaan berbagai teori yang berlainan untuk memastikan bahwa data yang dikumpulkan sudah memenuhi syarat.[16] Pada penelitian ini, berbagai teori telah dipaparkan pada bab II untuk dipergunakan dan menguji terkumpulnya data tersebut. Teori tentang keadaan perkembangan peserta didik dilihat dari perkembangan bahasa dan seksual yang didapatkan oleh peneliti tidak hanya pada buku cetak saja melainkan juga memasukkan teori berdasarkan jurnal, artikel dan literatur lainnya.
c.     Triangulasi Metode. Penggunaan berbagai metode untuk meneliti suatu hal atau keadaan, seperti interview dan observasi.[17] Dalam penelitian ini, peneliti melakukan wawancara langsung dengan informan yang ditunjang dengan observasi pada saat wawancara dilakukan.
E.     Studi Pustaka
Studi pustaka merupakan uraian tentang hasil penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian yang sedang direncanakan.Dengan segala keterbatasan peneliti, ada beberapa kajian dan karya lain yang ditemui untuk mendukung penelitian ini:
1.      Memahami Pola Perkembangan Bahasa Anak dalam Konteks Pendidikan Oleh Iswah Adriana.[18] Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa anak dikatakan siap atau matang berbicara dan belajar bahasa apabila aspek motorik bicara (koordinasi otot bicara) dan aspek mental bicara (kemampuan berpikir) anak sudah mulai berfungsi dengan baik. Pada saat anak mulai masuk sekolah merupakan masa yang paling baik untuk belajar bahasa. Anak selalu bertanya mengenai segala yang dilihat dan ditemui dalam kehidupan sehari-hari. Anak mulai membangun kosa-kata yang biasanya merupakan kata benda, kata kerja, kata sifat, kata keterangan, kata merangkai/pengganti dari apa saja yang dijumpai anak dalam kehidupan sehari-hari khususnya mengenai warna, waktu, uang, dan kata popular yang digunakan kelompok anak atau teman sebaya. Selanjutnya perkembangan bahasa dengan pembentukan kalimat, dimulai dengan kalimat sederhana menjadi kalimat lengkap.
2.      Perkembangan Bahasa Anak oleh Yulia Palupi. Adapun kesimpulan yang dapat diambil dari tulisan Yulia Palupi adalah bahwa anak mengalami bahasa itu melalui pertanyaan-pertanyaan yang sering diajukan, respon dan interaksi. Anak –anak mempelajari bahasa melalui interaksi dengan orang dewasa. Orang dewasa memulai dan merespon dengan cara mendengarkan, mengerti, memperluas dan menjadi model. Jadi bahasa pada anak itu berkembang, dari sederhana ke kompleks. Perkembangn bahasa anak merupakan kombinasi antara interaksi social, emosi, kemampuan kognitif, dan perkembangan fisik motoriknya. Semua perkembangan tersebut dikombinasikan dengan apa yang terjadi dalam beberapa tahun tahap perkembangan anak.[19]
Perkembangan anak usia dini, bahasa merupakan berkomunikasi dnegan orang lain, mencakup semua cara untuk berkomunikasi dimana pikiran dan perasaan dinyatakan dalam bentuk tulisan,  lisan, isyarat atau gerak dengan menggunakan kata-kata kalimat bunyi gambar atau lukisan. Dengan bahasa semua manusia dapat mengenal dirinya, sesame manusia, alam sekitar, ilmu pengetahuan dan nilai-nilai moral atau Agama. Usia sekolah dasar merupakan masa berkembang pesatnya kemampuan mengenal dan menguasai perbendaharaan kata (vocabulary). Pada masa awal sekolah dasar (usia 6 tahun) atau sudah menguasai sekitar 2.500 kata usia 8 tahun 20.000 kata dan pada masa akhir (usia 11 sampai 12 tahun) telah menguasai 50.000 kata. (Abin Syamsudin M,1991; Nana Syaodih S, 1990)[20]
3.      Faktor-Faktor yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang oleh Rizki Dwi Hartono dan Nur Dyah Gianawati.[21] Seksualitas merupakan salah satu aspek kehidupan yang semakin lama semakin menarik perhatian manusia sebagai mahkluk sosial. Pada era globalisasi sekarang ini yang dirasakan berjalan semakin cepat seiring dengan diikutinya peningkatan kemajuan teknologi yang memberikan nilai tambah dengan mudahnya mengakses segala informasi, hal ini memiliki dampak terhadap pola kehidupan masyarakat dari berbagai kalangan terutama remaja. Masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa. Dalam rentang waktu kurang dari dasawarsa terakhir, kenakalan remaja semakin menunjukkan peningkatan yang sangat memprihatinkan. Diantara berbagai macam kenakalan remaja, seks bebas selalu menjadi bahasan yang selalu menarik untuk diteliti selain kasus tawuran dan pecandu alkohol. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa faktor internal dan faktor eksternal saling mempengaruhi satu sama lain. Sehingga mengakibatkan informan pokok melakukan hubungan seks.[22]
4.      Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar oleh Esther Kartika.[23] Kesimpulan yang didapat dari tulisan Esther Kartika adalah bahwa upaya untuk memacu minat membaca siswa adalah dengan memaksimalkan peran guru dalam memperkenalkan buku kepada anak sejak dini, memotivasi dan menumbuhkan rasa cinta terhadap buku, serta menyelenggarakan kegiatan yang dapat mengisi waktu luang anak dengan kegiatan-kegiatan yang menuntut untuk berinteraksi dengan buku, seperti penyelenggaraan jam-jam cerita di perpustakaan sekolah, pemberian tugas membaca, penyelenggaraan majalah dinding, lomba membaca, lomba membuat kliping, buletin sekolah, pameran buku, pemberian bimbingan teknis membaca serta kegiatan-kegiatan lain yang sejenisnya.
5.      Perilaku Seksual Anak Usia Pra Remaja di Sekitar Lokalisasi dan Faktor yang Mempengaruhi oleh Yulita Amaliyasari dan Nunik Puspitasari.[24] Dapat disimpulkan bahwa Kondisi anak-anak pra remaja yang tinggal di daerah lokalisasi mengalami dampak yang cukup besar kepada sikap seksual yang tidak wajar. Disisi lain berbagai elemen yang seharusnya memperhatikan kondisi perkembangan anak lebih sering acuh dalam permasalahan ini, seperti Orang tua, perangkat desa, dan masyarakat. Sehingga banyak anak yang tinggal di daerah lokalisasi terbentuk menjadi orang-orang yang memiliki sikap seksual yang tidak wajar. 
F.      Sistematika Penulisan
Penulisan hasil observasi ini akan kami bahas dan uraikan dengan sistematika sebagai berikut :
Bab I pendahuluan, berisi tentang latar belakang penulisan observasi, rumusan masalah, tujuan dan manfaat observasi, metode observasi, studi pustaka juga sistematika penulisan observasi. Bab II analisis teori, menguraikan teori tentang hakikat perkembangan peserta didik, perkembangan peserta didik periode sekolah dasar, karakteristik perkembangan bahasa peserta didik usia sekolah dasar, karakteristik perkembangan seksual peserta didik usia sekolah  dasar, peran guru sebagai pendidik, metode pembelajaran, dan proses belajar anak usia sekolah dasar. Bab IV gambaran umum lokasi dan subjek penelitian, membahas tentang keadaan SDN XII Cicalengka, keterangan partisipan juga analisis data yang didapat dari observasi ini. Bab IV hasil observasi, membahas tentang hasil observasi berupa analisis data yang telah didapat, kemudian dihubungkan dengan landasan teori yang telah diuraikan pada bab II. Bab V penutup, berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan mengenai perkembangan bahasa dan seksual peserta didik pada usia sekolah dasar. Dan saran yang membangun bagi pendidik di sekolah dasar.



BAB II
Analisis Teori Tentang Perkembangan Bahasa dan Seksual Peserta Didik Sekolah Dasar
1.        Hakikat Perkembangan Peserta Didik
A.    Pengertian
            Perkembangan di artikan sebagai perubahan-perubahan yang di alami oleh individu atau organisme menuju tingkat kedewasaannya yang berlangsung secara sistematis,progresif dan berkesinambungan baik fisik maupun psikis. Perkembangan juga berkaitan dengan beberapa konsep perubahan (growth),kematangan(growth), dan belajar(learing) serta latihan(training).
Perkembangan individu dapat ditunjukan dengan munculnya atau hilangnya, bertambahnya, atau berkurangnya bagian-bagian, fungsi-fungsi atau sifat-sifat psikofisis, baik secara kuantitatif maupun kualitatif, yang sampai batas tertentu dapat di amati dan diukur dengan mempergunakan teknik dan istrumen yang sesuai. Contoh perkembangan proses berfikir,kemampuan berbahasa dan lain-lain.
Dapat disimpulkan dari uraian di atas bahwa yang dimaksud Hakikat perkembangan peserta didik adalah sebagai suatu proses yang bersifat progresif dan menyebabkan tercapainya kemampuan karakteristrik psikis yang baru. Perkembangan dapat dicapai karena adanya proses belajar, dan proses belajar hanyalah mungkin berhasil bila jika ada kematangan dan kesungguhan. Perkembangan bertambahnya kemampuan (skill) dalam stuktur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur dan dapat di ramalkan, sebagai hasil dari proses kematangan dan kesungguhan.  
B.     Ciri-Ciri Perkembangan
Mengenai ciri-ciri perkembangan dalam diri individu atau organismedapat diuraikan sebagai berikut: 
1.      Terjadinya perubahan ukuran dalam aspek fisik (tinggi badan, berat badan dan organ-organ tubuh lainnya) sedangkan aspek psikis (semakin bertambahnya perbendaharaan kata dan matangnya kemampuan berpikir, mengangat serta serta menggunakan imajinasi kreatif).
2.      Terjadinya perubahan propersi dalam aspek fisik (proporsi tubuh anak berubah sesuai dengan fase perkembangannya dan pada usia remaja proporsi tubuh mendekati proporsi tubuh dewasa, sedangkan pada aspek psikis (perubahan imajinasi dari yang fantasi ke realitas dan perubahan perhatiannya dari yang tertuju kepada dirinya sendiri perlahan-lahan meluas kepada orang lain terutama kepada teman sebayanya).
3.      Lenyapnya tanda-tanda lama dalam aspek fisik (lenyapnya kelenjar thymus/kelenjar kanak-kanak yang terletak pada bagian dada rambut halus dan gigisusu) sedangkan pada aspek psikis (lenyapnya masa mengoceh/meraban bentu gerak gerik kanak-kanak seperti merangkak dan perilaku impulsive seperti melakukan sesuatu sebelum berpikir).
4.      Munculnya tanda-tanda baru dalam aspek fisik (tumbuh/pergantiuan gigi dan matangnya organ-organ seksual pada usia remaja baik primer seperti menstruasi pada wanita dan mimpi basa pada pria maupun sekunder seperti membernya npinggul atau buah dada pada wanita dan tumbuhnya kumis serta perubahan suara pada wanita) sedangkan pada aspek psikis (berkembangnya rasa ingin tau terutama yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, lingkungan alam, nilai-nilai moral dan agama). 
C.    Prinsip-prinsip Perkembangan
Perkembangan individu berlangsung sepanjang hayat, dimulai sejak masa pertemuan sel ayah dengan ibu (masa konsepsi) dan berakhir pada saat kematiannya. Perkembangan individu ini bersifat dinamis, perubahannya kadang-kadang lambat, tetapi bisa juga cepat, hanya berkenaan dengan salah satu aspek ataupun beberapa aspek perkembangan. Perkembangan tiap individu juga tidak selalu seragam, seorang berbeda dengan yang lainnya baik dalam temponya, iramanya maupun kualitasnya.
Dalam perkembangan individu dikenal prinsip-prinsip perkembangan sebagai berikut:
1.      Perkembangan berlangsung seumur hidup dan meliputi semua aspek. Perkembangan bukan hanya berkenaan dengan aspek-aspek tertentu tetapi menyangkut semua aspek. Perkembangan aspek tertentu mungkin lebih terlihat dengan jelas, sedangkan aspek yang lainnya lebih tersembunyi. Perkembangan tersebut juga berlangsung terus sampai akhir hayatnya, hanya pada saat tertentu perkembangannya lambat bahkan sangat lambat, sedangkan pada saat lain sangat cepat. Jalannya perkembangan individu itu berirama dan irama perkembangan setiap anak tidak selalu sama.
2.      Setiap anak memiliki kecepatan (tempo) dan kualitas perkembangan yang berbeda. Seseorang mungkin mempunyai kemampuan berpikir dan membina hubungan sosial yang sangat tinggi dan tempo perkembangannya dalam segi itu sangat cepat, sedang dalam aspek lainnya seperti keterampilan atau estetika kemampuannya kurang dan perkembangannya lambat. Sebaliknya, ada anak yang ketrampilan dan estetikanya berkembang pesat sedangkan kemampuan berpikir dan hubungan sosialnya agaklambat. 
3.      Perkembangan secara relatif beraturan, mengikuti pola-pola tertentu. Perkembangan sesuatu segi didahului atau mendahului segi yang lainnya. Anak bisa merangkak sebelum anak bisa berjalan, anak bisa meraban sebelum anak bisa berbicara, dan sebagainya.
4.      Perkembangan berlangsung secara berangsur-angsur sedikit demi sedikit. Secara normal perkembangan itu berlangsung sedikit demi sedikit tetapi dalam situasi-situasi tertentu dapat juga terjadi loncatan-loncatan. Sebaliknya dapat juga terjadi kemacetan perkembangan aspek tertentu.
5.      Perkembangan berlangsung dari kemampuan yang bersifat umum menuju ke yang lebih khusus, mengikuti proses diferensiasi dan integrasi. Perkembangan dimulai dengan dikuasainya kemampuan-kemampuan yang bersifat umum, seperti kemampuan memegang dimulai dengan memegang benda besar dengan kedua tangannya, baru kemudian memegang dengan satu tangan tetapi dengan kelima jarinya. Perkembangan berikutnya ditunjukkan dengan anak dapat memegang dengan beberapa jari, dan akhirnnya menggunakan ujung-ujung jarinya. Dalam perkembangan terjadi proses diferensiasi atau penguraian ke hal yang lebih kecil dan terjadi pula proses integrasi. Dalam integrasi ini beberapa kemampuan khusus/kecil itu bergabung membentuk satu kecakapan atau keterampilan.
6.      Secara normal perkembangan individu mengikuti seluruh fase, tetapi karena faktor-faktor khusus, fase tertentu dilewati secara cepat, sehingga nampak ke luar seperti tidak melewati fase tersebut, sedangkan fase lainnya diikuti dengan sangat lambat, sehingga nampak seperti tidak berkembang.
7.      Sampai batas-batas tertentu, perkembangan sesuatu aspek dapat dipercepat atau diperlambat. Perkembangan dipengaruhi oleh faktor pembawaan dan juga faktor lingkungan. Kondisi yang wajar dari pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang wajar pula. Kekurangwajaran baik yang berlebih atau berkekurangan dari faktor pembawaan dan lingkungan dapat menyebabkan laju perkembangan yang lebih cepat atau lebih lambat.
8.      Perkembangan aspek-aspek tertentu berjalan sejajar atau berkorelasi dengan aspek lainnya. Perkembangan kemampuan sosial berkembang sejajar dengan kemampuan berbahasa, kemampuan motorik sejajar dengan kemampuan pengamatan dan lain sebagainya.
9.      Pada saat-saat tertentu dan dalam bidang-bidang tertentu perkembangan pria berbeda dengan wanita. Pada usia 12-13 tahun, anak wanita lebih cepat matang secara sosial dibandingkan dengan laki-laki. Fisik laki-laki umumnya tumbuh lebih tinggi dibandingkan dengan wanita. Laki-laki lebih kuat dalam kemampuan inteleknya sedangkan wanita lebih kuat dalam kemampuan berbahasa dan estetikanya. 
D. Teori
Teori-teori tentang Hakikat Perkembangan Peserta Didik
1.      Teori Psikodinamika
Teori ini meyakini bahwa tingkah laku manusia merupakan hasil tenaga yang beroperasi di dalam pikiran, yang sering tanpa disadari oleh individu.
2.      Teori Behavioristik
Teori ini meyakini bahwa hasil dari pembawaan genetis dan pengaruh lingkungan atau situasional.
3.      Teori Humanistik
Teori ini meyakini bahwa manusia memiliki kecenderungan bawaan untuk melakukan self-actualization untuk berjuang menjadi apa yang mereka mampu.
4.      Teori Psikologi Transpersonal
Psikologi transpersonal merupakan pengembangan psikologi humanistik. Aliran psikologi ini disebut aliran keempat psikologi. S.I Shapiro dan Denise H. Lojoie (1992) menggambarkan psikologi transpersonal sebagai transpersonalpsychologyisconcertedwiththe study ofhumanityshighestpotential, andwiththerecognitionundertansding, andrealizationofunitive, spiritual, andtranscendentstatesofconsciousness.
5.      Teori Nativisme
Teori ini berpandangan bahwa segala sesuatunya ditentukan oleh faktor-faktor yang dibawa sejak lahir. Jadi perkembangan individu itu semata-mata dimungkinkan dan ditentukan oleh dasar turunan, misalnya kalau ayahnya pintar maka kemungkinan besar anaknya pintar.
6.      Teori Empirisme
Teori ini berpandangan bahwa hasil belajar peserta didik besar pengaruhnya pada faktor lingkungan.
7.      Teori Konvergensi
Teori ini berpandangan bawah perkembangan individu itu baik dasar (bakat,keturunan) maupun lingkungan, kedua-duanya memainkan peranan penting.
2.        Perkembangan Peserta Didik Periode Sekolah Dasar
Perkembangan periode SD berada dalam priode akhir masa kanak-kanak, yakni kira-kira rentan usia 6 / 7 tahun, sampai saatnya tiba masa individu matang secara seksual yakni perkiraan usia 13 tahun, Periode ini di tandai dengan kondisi yang sangat mempengaruhi penyesuaian peribadi dan penyesuaian sosial.
Priode ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan. Aspek kognitif anak SD yang memiliki ciri khas realistik.  Sebagian besar belum mampu memahami konsep-konsep abstrak, dan di sifatkan sebagai ralisme. Aspek afektif, pada priode sd ada waktu dimana anak mengalami emosi yang hebat dan meningginya emosi menjadi priode ketidak setabilan dikarnakan keadaan fisik dan lingkungan berakibat anak terssebut sulit di kendalikan. Aspek psikomotor, dalam aspek ini anak priode sd memiliki khususan yang lain di antaranya, perubahan-perubahan ukuran tubuh, dan lingkungan, setatus keluarha juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan aspek psikomotor.[25]
3.        Karakteristik Perkembangan Bahasa Peserta Periode Sekolah Dasar
Karakteristik siswa adalah keseluruhan pola kelakuan dan kemampuan yang ada pada siswa sebagai hasil dari pembawaan dari lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya.
Mengenai karakteristik siswa inni ada 3 hal yang perlu diperhatikan :
1)   Karakteristik atau keadaan yang berkenaan kemampuan awal, seperti kemampuan intelektual, kemampuan berpikir, mengucapkan hal-hal yang berkaitan dengan aspek psikomotor dan lain-lain.
2)   Karakteristik yang berhubungan dengan latar belakang dan status sosial.
3)   Karakteristik yang berkenaan dengan perbedaan-perbedaan kepribadian seperti sikap, perasaan, minat dll.[26]
Dalam lingkungan pendidikan formal yang berlangsung di sekolah sering ditemukan berbagai macam karakter siswa seperti rajin, cerdas, malas, berani, penakut, pemarah, nakal, cerewet, pemalu, egois, pendiam, pengganggu dan sulit bekerjasama.
Perkembangan, artinya setiap tahap dari seluruh perkembangan anak, berarti mulai adanya diferensasi baru pada anak itu, baik jasmani maupun rohaninya. Hal yang perlu diperhatikan pula ialah bahwa tiap suatu fase yang dialami oleh anak, merupakan masa peralihan atau masa persiapan bagi masa selanjutnya. Bahwa anak mempunyai irama perkembangannya masing-masing.
Mengenai ranah perkembangan siswa ini akan memaparkan tahapan yang terkait dengan faktor pembentuk karakteristik siswa diantaranya perkembangan bahasa.
Bahasa telah berkembang sejak anak berusia 4-5 bulan. Maka harus senantiasa dibimbing oleh orangtuanya untuk belajar berbicara mulai dari yang sederhana hingga ia terampil berkomunikasi dengan mempergunakan bahasa. Oleh karena itu, bahasa berkembang setahap demi setahap sesuai dengan pertumbuhan organ pada anak serta bimbingan orang-orang terdekatnya.[27]
Sebagai sarana untuk berkomunikasi dengan orang lain, bahasa merupakan media yang sangat signifikan bagi proses perkembangan siswa didik. Sarana ini merupakan upaya untuk menyatakan pikiran, perasaan dengan emosi seseorang yang juga mencangkup pengungkapan dalam bentuk lambang atau simbol. Bagi anak usia sekolah dasar perkembangan bahasa meliputi beberapa tahap, yaitu:
1)   Tahapan pemahaman, menjelaskan dan mengelompokkan objek yang ditemukan secara sederhana dan mudah dipahami.
2)   Tahap perbendaharaan kata yang diupayakan melalui penghafalan kata dan penguasaan tanda baca.
3)   Tahap membuat kalimat, yaitu dalam memberi perintah menyatakan pendapat dan ide-ide.
4)   Ucapan, dengan melakukan percakapan atau dialog-dialog sederhana yang menginformasikan tentang lingkungan.
Pada dasarnya anak-anak usia sd telah menguasai struktur bahasa secara sempurna. Anak usia 6 tahun harus sudah menguasai hampir semua jenis struktur kalimat. Usia 6-9/10 tahun, panjang kalimat akan bertambah. Kalimat panjang biasanya tidak teratur dan terpotong-potong. Setelah usia 9 tahun anak mulai menggunakan kalimat yang singkat dan padat.
Keterampilan dalam berbahasa memiliki  4 aspek atau ruang lingkup[28], yaitu :
1.    Keterampilan mendengarkan
2.    Keterampilan berbicara
3.    Keterampilan membaca
4.    Keterampilan menulis
Disekolah dasar keterampilan mendengarkan meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng, drama, dll. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, pikiran dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan benda dll. Keterampilan membaca meliputi kemampuan memahami teks bacaan melalui membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi kemampuan menulis permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang, menulis surat undangan dll.
4.        Karakteristik Perkembangan Seksual Peserta Periode Sekolah Dasar
Perilaku seks adalah tingkah laku yang di dorong oleh hasrat seksual, baik dengan lawan jenis maupun sesama jenis.[29] Dalam kamus oxford seks berarti suatu kenyataan yang membedakan manusia masing-masing sebagai laki-laki atau perempuan. Menurut UU no 20 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan WHO dalam hendra (2007), yang dikatakan masuk usia anak dalah sebelum usia 18  tahun dan yang belum menikah. Menurut suryanah (2002), yang dikatakan usia anak adalah umur 6-12 tahun.
Pada saat anak di usia sekolah dasar sudah mulai berbicara mengenai persoalan seks, yang disebabkan oleh  terjadinya perubahan fisik dan emosi didalam dirinya. Pada saat anak memasuki usia 6 atau 7 tahun, anak mulai menunjukkan kesadaran, minat terhadap perbedaan fisik laki-laki dan perempuan, usia 8 tahun anak mulai menyinggung masalah seks, usia 9 tahun mulai berbicara mengenai seks dengan teman sebayanya dan menggunakan istilah seksual dalam mengucapkan kata-kata kotor atau membuat puisi dan mulai belajar tentang organ seks mereka sendiri, dan pada umur 10 tahun anak akan belajar dari temannya tentang menstruasi dan hubungan seks (Wuryani , 2008).
Dalam era globalisasi diperlukan sumber daya manusia yang berkualitas harus dimulai sejak dini. Tidak hanya dalam pertumbuhan fisik saja, tetapi juga dalam perkembangan mental, sosial dan emosional.[30] Media massa merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi terhadap perkembangan perilaku seksual, media sangat banyak menonjolkan aspek pornografi, misalnya foto atau gambar wanita yang tidak berpakaian atau berpakaian mini, di bagian sampul depan dan di bagian gambar dalam majalah, dan juga kisah kisah yang mengambarkan hubungan seksual di dalam media cetak.[31] Menurut Dewi (2010), media yang paling mempengaruhi perilaku seksual anak  adalah  TV, majalah, Internet, computer, buku, dan yang paling berpengaruh terhadap kenakalan anak adalah komik.
Pada anak usia sekolah yang memasuki umur 10 tahun minat terhadap materi seks dan kebutuhan untuk bertambah dramatis. Ini karena terjadi perubahan fisik dan emosi didalam dirinya. Berfikir tentang seks lebih dari sebelumnya dan berbicara tentang materi seks dengan temannya, yang sama-sama tidak mendapatkan informasi seperti dirinya. Maka sangat diperlukan peranan orang tua untuk memberikan perhatian dan informasi yang dibutuhkan untuk membina perilaku anak yang kemudian akan tumbuh menjadi remaja dan dewasa (Wuryani, 2008).[32] Suatu komunikasi memiliki peran sangat penting dalam kehidupan, termasuk dibidang pendidikan, guna mewujudkan murid berkualitas. Pada hakikatnya proses belajar-mengajar merupakan kegiatan interaksi dan komunikasi antara guru dengan murid. Sebagai pendidik untuk mengatasi masalah anak sekolah dasar yang sudah mulai berbicara seks itu hendak diberi pengawasan oleh guru atau orang tua, peran guru dan orang tua sangatlah penting untuk menyelamatkan generasi yang lebih baik.
Dalam hadis  menjelaskan yang artinya “ Seorang muslim (baik laki-laki atau perempuan) adalah seorang yang yang dapat menyelamatkan manusia yang lain dari lisannya (ucapannya) dan tangnnya (tindakannya), sedangkan yanng disebut seorang “muhajir” yaitu yang meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh allah untuknya.( H.R Bukhari-Muslim ).
Dalam pengawasan anak haruslah didekatkan oleh agama, karna dalam agama telah menjelaskan cara mendidk anak yang benar dalam perkataan atau perbuatan. Upaya tersebut harus dimulai sejak dini, bila awal sudah didapat bibit-bibit yang baik dan diberikan lingkungan yang kondusif, maka diharapkan tumbuh kembang anak akan optimal seperti yang diharapkan (Soetjningsih, 2007).
Meskipun usia seperti itu (6-13tahun) tergolong dalam usia anak-anak namun pada usia tersebut harus sudah dimulainya pendidikan pengenalan atau pengajaran mengenai perkembangan seksual di usianya dengan selalu diawasi oleh pendidik. Tujuan pendidikan seks yang sebenarnya untuk transfer nilai-nilai budaya bangsa kepada peserta didik untuk memberikan kesadaran bukan sekedar pengetahuan.
Pendidikan seks secara eksplisit memang belum ada, akan tetapi pendidikan seks telah masuk dalam beberapa mata pelajaran, diantaranya biologi, agama dan Bimbingan Konseling.[33] Seperti Mengenalkan Alat Reproduksi dalam Biologi , Proses Pembuahan Atau Fertilisasi, Mimpi basah dalam Pendidikan Agama, Aktivitas Seksual Remaja dalam Bimbingan dan Konseling hingga Pendidikan Seks mengenai Solusi dan Pencegahan Seks yang Menyimpang.
Berhubungan seks yang tak sehat sangat berdampak negatif bagi kesehatan setiap orang yang melakukannya (Penyakit Menular Seksual) Selain melalui kontak seksual, PMS juga dapat menular lewat penggunaan bersama jarum suntik  dan dari ibu ke anak, selama atau setelah persalinan. PMS terutama berisiko pada mereka yang berganti-ganti pasangan. Semakin sering anda berganti pasangan, semakin besar risiko anda terinfeksi PMS. Jenis penyakit menular seksual yang selama ini terjadi di dunia ini bermacam-macam, diantaranya; Klamidia, Gonore (GO), Herpes genitalis, HIV/AIDS. AIDS, Kutil kelamin, Sifilis, Hepatitis.
Maka dari itu sangatlah penting pendidikan seksual ditanamkan dari sejak usia kanak-kanak untuk mengingatkan bahayanya jika ia melakukan hal tersebut.

5.        Perkembangan Cognitif
Pendidikan merupakan kebutuhan primer bagi setiap manusia guna menjalani hidup agarselaras dengan tujuan dan cita‐cita. Pintu gerbang awal untuk memperoleh pendidikan dimulai dari sekolah dasar, sebagai institusi formal yang berkewajiban membekali anak dengan multiintelegensi sesuai dengan kurikulum yang dibakukan. Semakin maju dan kompleksnya dunia pendidikan khususnya tingkat sekolah dasar (SD), telah menciptakan paradigma bahwakeberhasilan anak hanya ditentukan secara akademis yang diukur melalui kecerdasan kognitif berdasarkan angka rapor maupun hasil tes Intelligence Quotient (IQ).Padahal, dalam kehidupan sehari‐hari anak juga perlu mengembangkan kecerdasan afektif dan psikomotorik, guna mengimbangi kemampuan anak dalam memahami sesuatu secara teori dan praktik.
Sebagai bagian dari tahap pertumbuhan dan perkembangan manusia menuju dewasa,fase anak‐anak memiliki keistimewaan tersendiri yang dikenal dengan masa keemasan atau golden age[34], yaitu masa terbentuknya pondasi sikap, perilaku, mental, serta kecerdasan (spiritual, intelektual, emosional, kinestetik, seni, dan sosial) yangsemuanya terjadi secara intensif[35]. Keistimewaan tersebut sudah mulai dipahami olehsebagian besar guru dan orang tua yang saling bekerja sama untuk memaksimalkanpotensi anak. Khususnya dalam hal kecerdasan, anak‐anak terus dilatih untukmenonjolkan kecerdasannya melalui berbagai cara.
Dari berbagai kecerdasan di atas, guru dan orang tua cenderung fokus padakecerdasan intelektual. Anak diwajibkan mengikuti program pendidikan formal tingkatSekolah Dasar (SD), sebagai langkah awal program wajib belajar 12 tahun. Orang tuamendukung dengan memfasilitasinya. Jika intensitas dan kualitas pendidikan anak disekolah dirasa kurang, orang tua menambahkan les privat. Di satu sisi, upaya tersebut dianggap tepat demi masa depan anak. Namun di sisi lain, muncul paradigma bahwakeberhasilan anak SD sangat ditentukan oleh intelektual yang mengarah ke ranahkognitif dan tes intelegensi (Lucy, 2009:5). Hal ini diperkuat dengan ketentuan darisekolah yang masih menerapkan sistem pendidikankonvensional, dengan kurikulumyang menitikberatkan pada ranah kognitif 90% danafektif hanya 10%[36].Kecerdasan afektif dan psikomotorik cenderung diabaikan.[37]
Meskipun memiliki kapabilitas sempurna di bidang kognitif, anak belum bisa dikatakan sebagia manusia utuh jika tidak memiliki kecerdasan afektif dan psikomotorik. Hal ini juga belum banyak disadari oleh guru dan orang tua. Padahal, anak juga membutuhkan kedua kecerdasan di atas untuk menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan, yang sebenarnya bias diwujudkan dalam bentuk permainan. Melalui permainan, anak bisa memperoleh berbagai nilai sekaligus mengembangkan imajinasi dan kreativitasnya.[38]
Dalam buku psikologi pendidikan, perkembangan adalah perubahan kualitatif daripada fungsi-fungsi kepribadian manusia berhubungan dengan aspek jasmaniah dan aspek kejiwaan.[39]
a.       Perkembangan kognitif anak
Istilah kognitif berasal kata cognition yang padanannya knowing, yang berarti mengetahui. Dalam arti luas cognition (kognisi) ialah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan (Neisser, 1976).
Dalam perkembangan selanjutnya, istilah kognitif menjadi populer sebagai salah satu domain wilayah psikologis manusia yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan pemahaman, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, kesenjangan, keyakinan, ranah kejiwaan yang berpusat diotak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan ranah rasa (Chaplin,1972).

b.      Perkembangan Afektif Anak
Afektif berkenaan dengan perasaan takut atau cinta, mempengaruhi keadaan perasaan dan emosi, mempunyai gaya atau makna menunjukkan perasaan (tentang gaya bahasa atau makna).[40]Seseorang individu dalam merespon sesuatu lebih banyak diarahkan oleh penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif. Akan tetapi pada saat tertentu di dalam kehidupannya, dorongan emosionalnya banyak bercampur tangan dan mempengaruhi pemikiran dalam tingkah lakunya. Perasaan-perasaan yang menyertai perbuatan kita sehari-hari disebut warna afektif. Warna afektif kadang-kadang kuat, lemah, tidak jelas (samar-samar). Dalam hal ini warna afektif tersebut kuat, maka perasaan-perasaan menjadi lebih mendalam, lebih luas, dan lebih terarah. Perasaan-peraan ini disebut emosi (Sarlito, 1982: 59)[41]
c.       Perkembangan Motor (fisik) Anak
Dalam psikologi, kata motor digunakan sebagai istilah yang menunjukkan pada hal, keadaan, dan kegiatan yang melibatkan otot-otot dan gerakan-gerakannya, juga kelenjar-kelenjar dan sekresinya (pemgeluaran ciran/getah). Secara singkat, motor dapat pula dipahai sebgai segala keadaan yang meningkatkan atau menghasilkan stimulasi/rancangan terhadap kegiatan organ-organ fisik.[42]
Perkembangan motorik sangat menunjang keberhasilan peserta didik, oleh karena itu sekolah perlu memfasilitasi perkembangan motorik anak itu secara fungsional. Upaya-upaya sekolah untuk memfasilitasi perkembangan motorik anak secara fungsional tersebut, diantaranya sebagai berikut:
1.      Sekolah merancang pelajaran ketrampilan yag bermanfaat bagi perkembangan atau kehidupan anak, seperti menjahit, mengetik atau kerajinan tangan lainnya.
2.      Sekolah memberikan pelajaran senam atau olahraga kepada para siswa, yang jenisnya disesuaikan dengan usia siswa.
3.      Sekolah perlu merekrut (mengangkat) guru-guru yang memiliki keahlian dalam bidang-bidang tersebut diatas.
4.      Sekolah menyediakan sarana untuk keberlangsungan penyelenggaraan pelajaran tersebut, seperti alat-alat yang di perlukan, dan tempat atau lapangan olahraga.[43]
6.        Proses Belajar Peserta Didik
a.       Pengertian proses belajar
Proses adalah kata yang berasal dari bahasa latin “processus” yang berarti “berjalan ke depan”.Kata ini menunjukkan konotasi urutan langka atau kemajuan yang mengarah pada suatu sasaran atau tujuan.Menurut Chalpin (1972),proses adalah any change in any object or organism,particulary a behavioral or psychological change (proses adalah suatu perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan). Danmenurut Robert, M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya: The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa: Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.Jadi,proses belajar dapat di artikan sebagai tahapan perubahan prilaku kognitif,afektif dan psikomotorik yang terjadi dalam diri seseorang. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang maju dari pada keadaan sebelumnya.
Ketidakcocokkan sering terjadi dalam sebuah proses belajar, jika pekerjaan sudah tersusun rapih dan sesuai dengan tingkat kebutuhan anak yang sedang belajar,maka proses belajar akan menjadi pengalaman yang positif, tanpa kegagalan. Namun terkadang pelajaran dan beberapa system pembelajaran di susun dengan tidak hati-hati, atau mengabaikan filosofi struktur dalam proses belajar yang akan membuat peserta didik seolah-olah di paksa untuk memahimi bacaan-bacaan yang tidak meraka pahami. Berlatih merupakan salah satu proses belajar dimana kita bisa melatih diri hingga melewati sebuah titik kita merasa sudah memahami sesuatu overleaning. Selain berlatih Berpikir kreatif juga termasuk dalam proses belajar yang tergantung pada beberapa konsep dan kelompok informasi dalam memori peserta didik dan kamampuan untuk mencari hubungannya.
Berdasarkan pengertian tentang belajar, maka dapat disimpulkan bahwa proses belajar merupakan proses interaksi siswa dengan pendidik, sumber belajar, dan lingkungan. Ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan dalam hal yang berkaitan dengan belajar. Seperti yang dikemukakan oleh Reigeluth & Chellman (2007:6), beberapa hal penting tersebut antara lain: apa seharusnya produk belajar itu, tempat proses belajar dirancang dan dibangun, seharusnya belajar itu diimplementasikan, bagaimana seharusnya pembelajaran itu dievaluasi, bagaimana belajar seharusnya dinilai, apa isi yang seharusnya dibelajarkan, bagaimana orang mempelajari, dan hubungan timbal balik diantara semua jenis pengetahuan tentang belajar.
Berhubungan dengan hal tersebut di atas, sebelum pelaksanaan proses belajar, beberapa hal penting tersebut harus diperhatikan, sehingga proses belajar yang direncanakan bisa lebih optimal. Dari berbagai pendapat mengengai teori belajar, semua unsur tentang segala teori belajar dapat digolongkan menjadi dua, yaitu:
·      Metode belajar: Semua hal yang dilakukan dengan bertujuan memudahkan belajar atau pengembangan manusia. Istilah lain sering digunakan untuk sebagian atau semua gagasan ini termasuk strategi, teknik, siasat, dan pendekatan. 
·      Situasi belajar: semua aspek dari konteks belajar yang berguna untuk memutuskan kapan dgunakan dan kapan tidak digunakan sebuah metode belajar tertentu. 
Sedangkan situasi belajar terbagi menjadi dua kategori penting, yaitu:
a)      Nilai tentang pengajaran, yakni tentang tujuan pembelajaran, kriteria, metode, dan siapa yang berkuasa.
b)      Kondisi yakni tentang hakikat atau asal dari isi pengajaran, para pelajar atau siswa, lingkungan belajar, atau paksaan pembangunan pengajaran.
1.         Macam-Macam metode proses belajar dan Cara efektif untuk belajar
Berikut ini adalah macam-macam metode proses belajar yang di antaranya adalah:
a)    Metode ceramah
Metode ceramah adalah proses belajar yang di laksanakan oleh guru umumnya yang di dominasi dengan ceramah.
b)   Metode Tanya Jawab
Metode suatu cara mengelola pembelajaran dengan mnenghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang mengarahkan perserta didik memhami materi tersebut.Metode Tanya jawab akan lebih efektif apabila materi yang akan menjadi topic bahasan menarik dan menantang dan memilki aplikasi yang tinggi.
c)      Metode diskusi
Metode suatu cara mengelola pembeljaran dan penyajian materi melalui pemecahan masalh, atau analisis system produk teknologi yang pemecahanya sangat terbuka.Metode ini dinilai menunjang keaktifan peserta didik bila diskusi melibatkan semua anggota diskusi dan menghasilkan suatu pemecahan masalah,jika metode ini dikelola dengan baik,antusiasme peserta didik untuk terlibat dalam metode ini sangat tinggi.
d)     Metode pemberian tugas
Proses belajar yaitu dengan penyajian materi melalui penugasan peserta didik untuk melekukan suatu pekerjaan yang dapat di kerjaka individual atau kelompok.
e)      Metode Eksperiment
Suatu proses belajar dimana peserta didik melakukan aktifitas percobaan dengan mengalami dan membuktikan suatu yang di pelajarinya.Dalam metode ini peserta didik di beri kesempatan untuk mengalami sendiri atau melakukan sendiri dengan mengikuti suatu proses,mengamati suatu obyek,menalisis.
f)       Metode Demonstrasi
Proses belajar dengan memperagakan atau mempertunjukkan kepada peserta didik suatu proses,situasi,benda atau cara suatu produk yang di pelajari. Demonstrasi dapat dilakukan dengan menunjukkan baik yang sebenarnya,model, maupun tiruan dan di seratai dengan penjelasanya.
g)      Metode Tutorial
Proses belajar yang di lakukan melalui proses bimbingan yang di berikan/di lakukan oleh pendidik kepada peserta didik baik perorangan atau dikelompok kecil.Peran pendidik sebagai fasilator,moderator,motivator dan pembingbing sangat di butuhkan oleh peserta didik untuk mendampingi mereka membahas menyelesaikan tugas-tugasnya.
2.         Cara proses belajar yang efektif agar mencapai hasil belajar yang optimal
a)      Proses belajar kelompok menjadi salah satu metode efektif karena dalam suasana belajar berkelompok yang cukup santai otak menjadi lebih rileks menerima ilmu-ilmu yang akan di serap.Selain itu hal-hal yang belum di ketahui akan lebih mudah diselesaikan dengan bekerja sama.
b)      Membuat intisari dari setiap pelajaran, buatlah rangkuman atau ringkasan dari setiap pelajaran yang peserta didik dapatkan baik di lembaga sekolah maupun di tempat lain atau lewat belajar kelompok.Hal ini akan lebih efisien mengingat intisari atau kesimpulan dari setiap pelajaran yang sudah di baca ulang ini akan menjadi kata-kata kunci.
c)      Disiplin dalam Belajar kedisiplinan memang perlu diterapkan dalam belajar,seperti disiplin waktu dan disiplin dalam berkonsentrasi pada pelajaran.Dengan adanya sifat disiplin dalam diri dapat di pastikan pelajaran dapat efektif dan efisien.
d)     Menjadi aktif Bertanya dan Ditanya jika ada hal yang belum jelas.
e)      Kembangkan materi Yang sudah dipelajari dan berpikir kritis ala ilmuwan.
3.         Faktor-Faktor yang mempengaruhi proses belajar
Ada beberapa faktor yang mempengarhu proses dan hasil belajar yang terdiri dari faktor internal dan eksternal yang akan di jelaskan Sebagai berikut:
a. Faktor internal
Faktor internal adalah faktor-faktor yang berasal dari dalam diri individu dan dapat mempengaruhi hasil belajar individu.Faktor-faktor internal meliputi faktor fisiologis dan faktor psikologis.
b.      Faktor fisiologis.
Faktor-faktor fisiologis adalah faktor-faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu.Faktor-faktor ini di bedakan menjadi dua macam:Pertama, keadaan tonus jasmani. Keadaan tonus jasmani pada umumnya sangat mempengaruhi aktifitas belajar seseorang.kondsi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap terhadap kegiatan serta proses belajar dan sebaliknya kondisi yang lemah akan mempengaruhi dan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.Kedua, keadaan fungsi jasmani/fisioogis.Selama proses belajar berlangsung,peran fungsi fisiologis pada tubuh manusia sangat mempengaruhi hasil belajar,terutama panca indra karena dalam proses belajar panca indra adalah pintu masuk bagi segala informasi yang di terima dan di tangkap oleh manusia.
c.       Faktor psikologis.
Faktor-faktor psikologis adalah keadaan psikologis seseorang yang dapat mempengaruhi proses belajar.Beberapa faktor psikologis yang utama mempengaruhi proses belajar adalah kecerdasan peserta didik,motifasi,minat,sikap dan bakat.
a)      Kecerdasan/Intelegensia peserta didik
Pada umumnya kecerdasan di artikan sebagai kemampuan psiko-fisik dalam mereaksikan rangsangan atau menyesuaikan diri dengan lingkungan melalui cara yang tepat,bukan berkaitan dengan otak saja tetapi juga organ-organ tubuh lainya faktor ini merupakan yang paling penting  dalam proses belajar karena ini menentukan kualitas belajar peserta didik.Semakin tinggi kecerdasan individu semakin optimal juga hasil belajar yang dicapainya. Sebagai faktor psikologis yng penting dalam mencapai hasil belajar yang optimal maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimliki.
b)      Motivasi.
Motivasi adalah salah satu faktor yang mempengaruhi keefektiffan kegiatan belajar peserta didik.Motivasilah yang mendorong siswa ingin melakukan kegiatan belajar.Para ahli mendefinisikan motivasi sebagai proses di dalam diri indvidu yang aktif mendorong,memberikan arah, menjaga prilaku setiap saat (SLAVIN,1994). Motivasi juga dapat di atikan pengaruh kebutuhan–kebutuhan dankeinginan terhadap intesitas dan arah prilaku seseorang.Motivasi terbagi menjadi dua yaitu motivasi intrinsik adalah semua faktor yang berasal dari dalam individu  mendorong untuk melakukan sesuatu yang memberi pengaruh efektif,karena pengaruh intrinsik relative lama dan tidak tergantung pada motivasi luar.Berikut adalah yang termasuk motivasi intrinsik di antaranya adalah dorongan ingin tahu dan ingin menyelidiki dunia yang lebih luas, Adanya sifat positif dan kreatif yang ada pada manusia dan keinginan untuk maju, Adanya keinginan untuk mencapai prestasi sehingga mendapat dukungan dari orang-orang, Adanya kebutuhan untuk mengusai ilmu atau pengetahuan yang berguna bagi dirinya,Yang kedua yaitu motivasi ekstrinsik adalah faktor yang datang dari luar individu tetapi memberi pengaruh terhadap kemauan untuk belajar seperti pujian, peraturan, tata tertib,kurangnya respons dari lingkungan secara positif akan mempengaruhi semangat belajar seseorang.
c)      Minat
Secara sederhana minat berarti kecenderungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu.Menurut Reber (syah,2003) minat bukanlah istilah yang popular dalam psikologi disebabkan ketergantungannya terhadap berbagai faktor internal lainnya seperti pemusatan perhatian keingintahuan, motivasi dan kebutuhan.
d)     Sikap
Dalam proses belajar, sikap individu dapat mempengaruhi keberhasilan proses belajarnya.Sikap adalah gejala internal yang mendimensi afektif berupa kecenderugan untuk mereaksi atau merespons dengan cara yang relative tetap terhadap obyek,orang,peristiwa dan sebagainya. Baik secara positif maupun negative (syah,2003).
e)      Bakat
Faktor psiokologis yang mempengaruhi proses belajar adalah bakat.Secara umum, bakat di definisikan sebagai kemampuan potensial yang dimliki seseorang untuk mencapai keberhasilan pada masa yang akan datang.Berkaitan dengan belajar bakat sebagai kemampuan umum yang dimiliki seseorang untuk belajar.Dengan demikian bakat adalah kemampuan seseorang menjadi salah satu komponen yang diperlukan dalam proses belajar.Apabila bakat seseorang sesuai dengan bidang yang sedang di pelajari maka bakat itu akan mendukung proses belajarnya sehingga kemungkinan besar ia akan mendapat hasil belajar yang optimal pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuanya masing-masing.Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakukan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan.Individu yang telah mempunyai bakat tertentu akan lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya.
4.      Faktor –Faktor eksogen/eksternal
Selain karakteristik siswa atau faktor-faktor endogen,faktor-faktor eksternal juga dapat memengaruhi proses belajar peserta didik dalam hal ini Syah menjelaskan bahwa faktor-faktor eksternal yang mempengaruhi proses belajar dapat di golongkan menjadi dua golongan yaitu faktor lingkungan sosial dan faktor lingkungan nonsosial.




a)      Lingkungan Sosial
Lingkungan Sosial sekolah,seperti pendidik,administrasi, dan teman-teman sekelas dapat memengaruhi proses belajar seorang peserta didik.Hubungan harmonis antara ketiganya dapat menjadi motivasi bagi peserta didik untuk belajar lebih baik.
Lingkungan sosial masyarakat, kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal peserta didik akan memengaruhi belajar. Lingkungan sosial keluarga, lingkungan yang sangat memengaruhi kegiatan belajar.Ketegangan keluarga sifat-sifat orang tua, pengeolaan keluarga semuanya dapat memberi dampak terhadap aktivitas belajar peserta didik.
b)      Lingkungan Non Sosial
Lingkungan alamiah,seperti kondisi udara yang segar, tidak panas dan tidak dingin, dan lainnya lingkungan alamiah tersebut merupakan faktor-faktor yang dapat memengaruhi aktivitas belajar peserta didik.Sebaliknya,bila kondisi lingkungan alam tidak mendukung proses belajar peserta didik akan terlambat.
Lingkungan instrumental, yaitu perangkat beljar yang dapat di golongkan dua macam. Pertama, hardware seperti gedung, alat-alat belajar, fasilitas belajar, lapangan, prasarana. Kedua, softwere seperti kurikulum,peraturan-peraturan sekolah.
5.      Faktor pendekatan belajar
Faktor pendekatan belajar yaitu, jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.[44]
7.        Peran Guru Sebagai Pendidik
Pendidik dalam undang-undang Sisdiknas no. 20 tahun 2003 didefinisikan dengan tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen konselor, tutor, instruktur, fasilitator, dan sebutan lain yang sesuai dengan kehususannya, serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan.
Dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003, Bab XI Pasal 39 ayat 2 dikatakan bahwa guru sebagai pendidik adalah tenaga profesional yang bertugas merencanakan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (supporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan (supervisor) serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolahdan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat.
Peran guru sebagai pendidik merupakan peran yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadapaturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan perkembangan anak untuk memperoleh pengalaman-pengalaman lebih lanjut. Oleh karena itu tugas guru dapat disebutpendidik dan pemeliharaan anak. Guru sebagai penanggung jawab pendisiplinan anak harus mengontrol setiap aktivitas anak-anak agar tingkah laku anak tidak menyimpang dengan norma-norma yang ada.
Model pembelajaran berkarakter:
1.      Pembiasaan, adalah sesuatu yang sengaja dilakukan secara berulang-ulang agar sesuatu itu dapat menjadi kebiasaan.
2.      Keteladanan, memiliki fungsi untuk membentuk kepribadian anak guna menyiapkan dan mengembangkan SDM.
3.      Pembinaan disiplin peserta didik, guru harus mampu menumbuhkan disiplin peserta didik, terutama disiplin diri (slef-discipline).[45]
8.        Kelekatan Pendidikan dan Peserta Didik
a.       Pengertian Kelekatan
Istilah kelekatan (attachment) untuk pertama kalinya dikemukakan oleh seorang Psikolog dari Inggris pada tahun 1958 bernama John Bowlby. Kemudian formulasi yang lebih lengkap dikemukakan oleh Mary Ainsworth pada 1969, dimana kelekatan merupakan suatu ikatan emosional yang kuat yang dikembangkan anak melalui interaksinya dengan orang yang mempunyai arti khusus dalam kehidupannya, biasanya orang tua.
Bowlby menyatakan bahwa hubungan tersebut akan bertahan cukup lama dalam rentang kehidupan manusia yang diawali dengan kelekatan anak pada ibu atau figure lain pengganti ibu. Pengertian ini sejalan dengan apa yang dikemukakan Ainsworth mengenai kelekatan. Ainsworth mengatakan bahwa kelekatan adalah ikatan emosional yang dibentuk seorang individu dengan orang lain yang bersifat spesifik, mengikat mereka dalam suatu keadaan yang bersifat kekal sepanjang waktu. Kelekatan merupakan suatu hubungan yang didukung oleh tingkah laku lekat (attachment behavior) yang dirancang untuk memelihara hubungan tersebut (Durkin, 1995).
Dapat disimpulkan bahwa yang dimaksud dengan kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus, dalam hal ini biasanya hubungan ditujukan pada ibu atau pengasuhnya. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik, bertahan cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak.[46]
b.      Kelekatan antara Guru dan Siswa
Hubungan guru-anak merupakan proses interaksi timbal balik antara guru dan anak yang melibatkan aspek kognitif, social dan emosi antarkeduanya. Proses interaksi timbal balik tersebut tidak hanya menekankan pada interaksi instruksional di dalam kelas, namun lebih dari itu dapat berkembang menjadi hubungan individual antara seorang anak dan guru.
Dimensi hubungan guru-anak berdasarkan teori kelekatan yang membagi  menjadi hubungan yang aman (secure) serta menghindar dan ambivalen (insecure). Kesinambungan antara konsep kelekatan dan hubungan guru-anak digambarkan dengan fakta bahwa hubungan antara perasaan aman dalam suatu hubungan anak dengan orang dewasa di sekolah, dalam hal ini adalah guru, dan kebebasan anak untuk mengeksplorasi lingkungannya berakar dari kelekatan orang tua dengan anak. Guru di sekolah mempunyai peran yang sama dengan orang tua. Seperti halnya orang tua-anak, hubungan guru-anak yang terjalin di sekolah melibatkan emosi dan sosial antar   keduanya. Pola hubungan yang penuh konflik antara guru dan anak dapat menyebabkan masalah perilaku pada anak, misalnya perilaku agresif dan antisosial, yang dapat menghambat proses adaptasi anak terhadap lingkungan sekolah (Pianta  1999).[47]
Banyak factor yang mempengaruhi guru-anak, salah satunya adalah kualitas kelekatan antara ibu dan anak, O’Connor dan McCartney (2007) mengemukakan bahwa kualitas hubungan guru-anak dipengaruhi oleh pengalaman kelekatan anak dengan ibunya. Konsep hubungan guru-anak berakar dari teori kelekatan (Blowlby, diacu dalam Baker, 2006), sehingga kualitas kelekatan antara ibu dan anak yang terbina sejak bayi hingga usia prasekolah dapat memprediksikan kualitas hubungan guru-anak di sekolah. Studi terakhir yang dilakukan oleh O’Connor dan McCartney (2007) menunjukan bahwa anak memiliki kelekatan aman dengan ibu memiliki tingkat ketergantungan dengan guru yang lebih rendah dibandingkn anak yang memiliki kelekatan tidak aman. Tingkat ketergantungan yang tinggi terhadap guru menjadi suatu factor protektif bagi anak yang memiliki kelekatan yang tidak aman dengan ibunya. Besarnya pengaruh kelekatan orang tua-anak terhadap hubungan guru-anak dalam penelitian O’Connor dan McCartney (2007) masih relative kecil sehingga memerlukan adanya suatu penelitian serupa untuk membuktikan bahwa kelekatan yang tidak aman antara ibu dan anak dapat menyebabkan hubungan ketergantungan atau hubungan penuh konflik antara anak dan guru.[48]
Di dalam kegiatan belajar mengajar, seorang guru harus mampu menjalin hubungan yang baik dengan siswa, karena pada anak usia-usia sekolah dasar, yaitu sekitar 6-12 tahun, mereka sedang berada pada periode kritis dalam membentuk dorongan berprestasi, yaitu suatu masa dimana anak mengembangkan kebiasaan untuk mencapai sukses. Sekali terbentuk, kebiasaan untuk melakukan kegiatan dengan baik cenderung menetap sampai dewasa. Hal ini menunjukan bahwa tingkat perilaku berprestasi pada masa kanak-kanak mempunyai korelasi yang tinggi dengan perilaku berprestasi pada masa depan.
Dengan demikian, seorang anak memerlukan figure lekat untuk mendorongnya dalam mencapai kesuksesan. Di sekolah, guru merupakan orang tua pengganti, sehingga guru adalah figure lekat anak ketika berada disekolah[49]. Kelekatan siswa pada guru akan memengaruhi motivasi belajar siswa tersebut. Semakin aman kualitas kelekatan siswa pada guru semakin tinggi pula motivasi siswa dalam belajar. Kelekatan dikatakan memiliki kualitas aman ketika figure lekat memperlakukan anak dengan penuh responsive, penuh kasih sayang dan penuh perhatian. Dengan kelekatan aman, maka proses belajar mengajar akan berlangsung optimal.
Kelekatan siswa pada guru yang terjalin dengan baik akan menyebabkan anak tidak takut untuk berhubungan dengan figure lekatnya yaitu guru. Kualitas kelekatan siswa pada guru mempunyai peran yang cukup signifikan. Semakin tinggi kualitas kelekatan siswa pada guru, semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Begitu juga sebaliknya, semakin rendah kualitas kelekatan siswa pada guru, membawa resiko semakin buruk prestasi belajar.
9.        Metode Pembelajaran
a.       Hakikat metode pembelajaran
Konsep pembelajaran  menurut Corey (Sagala, 2010:61). Adalah “suatu proses dimana lingkungan seseorang secara disengaja dikelola untuk memungkinkan ia turut serta dalam tingkah laku tertentu dalam kondisi-kondisi khusus atau menghasilkan respon terhadap situasi tertentu, pembelajaran merupakan subset khusus dari pendidikan”. Lingkungan belajar hendaknya dikelola dengan baik karena pembelajaran memiliki peranan penting dalam pendidikan. Sejalan dengan pendapat Sagala (2010: 61). Bahwa pembelajaran adalah ”membelajarkansiswa menggunakan asas pendidikan maupun teori belajar merupakan penentu utama keberhasilan pendidikan”.
Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 41 Tahun 2007 mengenai Standar Proses untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, diuraikan bahwa: “pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Proses pembelajaran perlu direncanakan, dilaksanakan, dinilai, dan diawasi. Pelaksanaan pembelajaran merupakan implementasi dari RPP. Pelaksanaan pembelajaran meliputi kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan kegiatan penutup.”
Metode pembelajaran menurut Djamarah, SB. (2006: 46). ”suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan’. Dalam kegiatan belajar mengajar, metode diperlukan oleh guru agar penggunaanya bervariasi sesuai yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.  Dari konsep pembelajaran, metode pembelajaran adalah cara atau tahapan yang digunakan dalam interaksi antara peserta didik dan pendidik untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sesuai dengan materi dan mekanisme metode pembelajaran.

b.        Macam-macam metode pembelajaran
1.      Metode Karya wisata (Out Door)
Menurut Anitah (2008: 5.29) Pembelajaran Outdoor hampir identik dengan pembelajaran karya wisata artinya aktivitas belajar siswa dibawa ke luar kelas. Pembelajaran ini harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi secara sistematis dan sistemik.  Sering dalam implementasi outdoor, siswa tidak memiliki panduan belajar sehingga esensi kegiatan tersebut kurang dirasakan manfaatnya. Pembelajaran outdoor selain untuk peningkatan kemampuan juga lebih bersifat untuk peningkatan aspek-aspek psikologi siswa, seperti rasa senang dan rasa kebersamaan yang selanjutnya berdampak terhadap peningkatan motivasi belajar siswa.
Menurut Muslisch M (2009:239) Pembelajaran luar kelas adalah guru mengajak siswa belajar di luar kelas untuk melihat peristiwa langsung di lapangan dengan tujuan mengakrabkan siswa dengan lingkungannya. melalui pembelajaran luar kelas peran guru adalah sebagai motivator artinya guru sebagai pemandu agar siswa belajar secara aktif, kreatif, dan akrab dengan lingkungan.
Menurut barron P, (2009) dalam bukunya Aktivitas Permainan dan Ide Praktis Belajar di Luar Kelas, Anak-anak SD perlu belajar di ruang terbuka karena:
a.       Pembelajaran di ruang terbuka memberi anak kebebasan untuk belajar menggunakan semua indera mereka. Pengalaman ini mendorong pola pikir kreatif dan imajinatif.
b.      Pembelajaran di ruang terbuka membantu memperbaiki kemampuan belajar, perilaku, dan pemahaman anak di dalam kelas.
c.       Pembelajaran diruang terbuka memberikan pengalaman belajar yang kuat. Pengalaman ini membantu anak mengembangkan hubungan dengan lingkungan dan alam sekitarnya.
d.      Pembelajaran di ruangan terbuka secara nyata berdampak positif pada rasa percaya diri, harga diri, dan pengendalian diri anak.
e.       Belajar di ruang terbuka sering kali melibatkan banyak pengalaman praktis dan langsung. Semuanya ini sangat menguntungkan bagi pembelajar kinestetik, yaitu anak yang lebih cepat mempelajari sesuatu dengan mengerjakannya secara langsung.
f.       Belajar di ruang terbuka sangat menyenangkan bagi guru dan siswa.
Keuntungan dari belajar di luar kelas  Keuntungan dari belajar di luar kelas menurut (sudjana, 2007: 208). Ialah Kegiatan belajar lebih menarik dan tidak membosankan siswa duduk di kelas berjam- jam, sehingga motivasi belajar siswa akan lebih tinggi, Hakikat belajar akan lebih bermakna sebab siswa dihadapkan dengan situasi dan keadaan yang sebenarnya atau bersifat alamiah, Sumber belajar menjadi lebih kaya sebab lingkungan yang dapat dipelajari bisa beraneka ragam seperti lingkungan sosial, lingkungan alam, lingkungan buatan dan lain- lain, Siswa dapat memahami dan menghayati aspek-aspek kehidupan yang ada di lingkungannya, sehingga dapat membentuk pribadi yang tidak asing dengan kehidupan di sekitarnya, serta dapat memupuk cinta lingkungan.
2.      Metode Talking Stick
Metode pembelajaran talking stick adalah Metode pembelajaran yang dilakukan dengan bantuan tongkat, siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah siswa mempelajari materi pokoknya.[50] Metode pembelajaran talking stick dipergunakan guru dalam mencapai tujuan pembelajaran yang berorientasi pada terciptanya kondisi belajar melalui permainan tongkat yang diberikan dari satu siswa kepada siswa yang lainnya pada saat guru menjelaskan materi pelajaran dan selanjutnya mengajukan pertanyaan. Saat guru selesai mengajukan pertanyaan, maka siswa yang sedang memegang tongkat, itulah yang yang memperoleh kesempatan untuk menjawab pertanyaan tersebut.Teknis pelaksanaan metode Talking Stick sebagai mana tercantum dalam buku panduan materi sosialisasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Nasional 2006 dapat digambarkan sebagai berikut:
a.         Guru menyiapkan sebuah tongkat
b.        Guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari, kemudian memberikan kesempatan kepada siswa untuk membaca dan mempelajari materi
c.         Setelah selesai membaca materi pelajaran, siswa diperintahkan untuk menutup buku
d.        Guru mengambil tongkat dan memberikan kepada siswa, setelah itu guru memberikan pertanyaan dan siswa yang memegang tongkat tersebut harus menjawabnya, demikian seterusnya hingga seluruh siswa mendapat bagian untuk menjawab pertanyaan yang diajukan guru
e.         Guru memberikan kesimpulan
f.         Melakukan evaluasi, dan
g.        Menutup pelajaran.
Kelebihan Dan Kekurangan Menggunakan  Metode Talking Stick ialah Kelebihannya, yaitu Menguji kesiapan siswa, Melatih membaca dan memahami dengan cepat, Agar lebih giat belajar (belajar dahulu). Dan kekurangannya, yaitu Membuat siswa senam jantung dan Membuat siswa minder karena belum terbiasa.
3.      Metode Simulasi
Metode Simulasi, menurut Hamalik dalam Taniredja, dkk (2011: 40) simulasi adalah suatu teknik yang digunakan dalam semua sistem pengajaran, terutama dalam desain instruksional yang berorientasi pada tujuan-tujuan tingkah laku. Latihan-latihan ketrampilan menuntut praktik yang dilaksanakan di dalam situasi kehidupan nyata (dalam pekerjaan tertentu), atau dalam situasi simulasi yang mengandung ciri-ciri situasi kehidupan senyatanya. Latihan-latihan dalam bentuk simulasi pada dasarnya berlatih melaksanakan tugas-tugas yang akan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008: 27-28) ada beberapa langkah-langkah dalam penggunaan metode simulasi, yaitu :
a.       Penentuan topik dan tujuan simulasi
b.      Guru memberikan gambaran secara garis besar situasi yang akan disimulasikan
c.       Guru memimpin pengorganisasian kelompok, peranan-peranan yang akan dimainkan, pengaturan ruangan, pengaturan alat, dan sebagainya
d.      Pemilihan pemegang peranan
e.       Guru memberikan keterangan tentang peranan yang akan dilakukan
f.       Guru memberikan kesempatan untuk mempersiapkan diri kepada kelompok dan pemegang peranan
g.       Menetapkan lokasi dan waktu pelaksanaan simulasi
h.      Pelaksanaan simulasi
i.        Evaluasi dan pemberian balikan
j.        Latihan ulang.
Menurut Hasibuan dan Moedjiono (2008: 28) dalam pembelajaran metode simulasi ini juga memiliki kelebihan dan kelemahan yaitu sebagai berikut, Kelebihan Metode Simulasi ialah Menyenangkan, sehingga siswa secara wajar terdorong untuk berpartisipasi, Menggalakkan guru untuk mengembangkan aktivitas simulasi,  Memungkinkan eksperimen berlangsung tanpa memerlukan lingkungan yang sebenarnya, Memvisualkan hal-hal yang abstrak, Tidak memerlukan ketrampilan komunikasi yang pelik, Memungkinkan terjadinya interaksi antar siswa, Menimbulkan respon yang positif dari siswa yang lamban, kurang cakap dan kurang motivasi, Melatih berpikir kritis karena siswa terlibat dalam analisa proses, kemajuan simulasi.[51]
10.  Proses Belajar Anak Usia Sekolah Dasar
A.    Proses Belajar
Belajar sebagai mana yang dikemukana oleh Sardiman (2003: 20), bahwa “belajar merupakan perubahan tingkah laku atau penampilan, dengan serangkaian kegiatan misalnya dengan membaca, mengamati, mendengarkan, meniru, dan lain sebagainya”. Belajar juga akan lebih baik kalau subjek belajar mengalami atau melakukannya. Belajar suatu proses interaksi antara diri manusia (id-ego-super ego) dengan lingkungan yang berwujud pribadi, fakta, konsep atau teori. Dalam hal ini terkandung suatu maksud bahwa proses interaksi itu adalah: (1) proses internalisasi ke dalam diri yang belajar, (2) dilakukan secara aktif, dengan segenap panca indera ikut berperan.[52]
Slameto (2003:2) mendefinisikan belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya. Baharuddin (2010:12) belajar merupakan aktivitas yang dilakukan seseorang untuk mendapatkan perubahan dalam dirinya melalui pelatihan-pelatihan atau pengalaman-pengalaman.[53]
Menurut Thorndike belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa yang disebut stimulus dan respon. Teori belajar ini disebut teori connectionism. Eksperimen yang dilakukan adalah dengan kucing yang dimasukkan pada sangkar tertutup. Pintunya akan dapat dibuka secara otomatis bila knop di dalam sangkar disentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori Trial dan Error. Ciri-ciri belajar dengan Trial dan Error yaitu : adanya aktivitas, ada berbagai respon terhadap berbagai situasi, ada eliminasi terhadap berbagai respon yang salah, dan ada kemajuan reaksi-reaksi mencapai tujuan.[54]
B.     Karakteristik Utama Proses Belajar Anak SD[55]
a)      Senang Bermain
Artinya dalam usia yang masih dini anak cenderung untuk ingin bermain dan menghabiskan waktunya hanya untuk bermain karena anak masih polos yang dia tahu hanya bermain maka dari itu agar tidak megalami masa kecil kurang bahagia anak tidak boleh dibatasi dalam bermain. Sebagai calon guru SD kita harus mengetahui karakter anak sehingga dalam penerapan metode atau model pembelajaran bisa sesuai dan mencapai sasaran, misalnya model pembelajran yang santai namun serius, bermain sambil belajar, serta dalam menyusun jadwal pelajaran yang berat(IPA, matematika dll.) dengan diselingi pelajaran yang ringan (keterampilan, olahraga dll.)
b)      Senang Bergerak,
Anak senang bergerak maksudnya dalam masa pertumbuhan fisik dan mentalnya anak menjadi hiperaktif lonjak kesana kesini bahkan seperti merasa tidak capek mereka tidak mau diam dan duduk saja menurut pengamatan para ahli anak duduktenangpaling lama sekitar 30 menit. Oleh karena itu, kita sebagai calon guru hendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak berpindah atau bergerak.Mungkin dengan permaianan, olahraga dan lain sebagainya.
c)      Senang Bekerja
Dalam kelompok Anak senang bekerja dalam kelompok maksudnya sebagai seorang manusia, anak-anak juga mempunyai insting sebagai makhluk sosial yang bersosialisasi dengan orang lain terutama teman sebayanya, terkadang mereka membentuk suatu kelomppok tertentu untuk bermain. Dalam kelompok tersebut anak dapat belajar memenuhi aturan aturan kelompok, belajar setia kawan, belajar tidak tergantung pada diterimanya dilingkungan, belajar menerimanya tanggung jawab, belajar bersaing dengan orang lain secara sehat (sportif), mempelajarai olah raga, belajar keadilan dan demokrasi. Hal ini dapat membawa implikasi buat kita sebagai calon guru agar menetapkan metode atau model belajar kelompok agar anak mendapatkan pelajaran seperti yang telah disebutkan di atas, guru dapat membuat suatu kelompok kecil misalnya 3-4 anak agar lebih mudah mengkoordinir karena terdapat banyak perbedaan pendapat dan sifat dari anak-anak tersebut dan mengurangi pertengkaran antar anak dalam satu kelompok. Kemudian anak tersebut diberikan tugas untuk mengerjakannya bersama, disini anak harus bertukar pendapat anak menjadi lebih menghargai pendapat orang lain juga.
d)     Senang Merasakan/Melakukan Sesuatu Secara Langsung.
Ditinjau dari teori perkembangan kognitif, anak SD memasuki tahap operasional konkret. Dari apa yang dipelajari di sekolah, ia belajar menghubungkan konsep konsep baru dengan konsep-konsep lama. Jadi dalam pemahaman anak SD semua materiatau pengetahuan yang diperoleh harus dibuktikan dan dilaksanakan sendiri agar mereka bisa paham dengan konsep awal yang diberikan. Berdasarkan pengalaman ini, siswa membentuk konsep-konsep tentang angka, ruang, waktu, fungsi-fungsi badan,pera jenis kelamin, moral, dan sebagainya. Dengan demikian kita sebagai calon guruhendaknya merancang model pembelajaran yang memungkinkan anak terlibat langsung dalam proses pembelajaran. Sebagai contoh anak akan lebih memahami tentang arahmata angina, dengan cara membawa anak langsung keluar kelas, kemudian menunjuk langsung setiap arah angina, bahkan dengan sedikit menjulurkan lidah akan diketahui secara persis dari arah mana angina saat itu bertiup.
e)      Anak Cengeng Pada Umur Anak SD,
Anak masih cengeng dan manja. Mereka selalu ingin diperhatikan dan dituruti semua keinginannya mereka masih belum mandiri dan harus selalu dibimbing.Di sini sebagai calon guru SD maka kita harus membuat metode pembelajaran tutorial atau metode bimbingan agar kita dapat selalu membmbing dan mengarahkan anak, membentuk mental anak agar tidak cengeng.
f)       Anak Sulit Memahami Isi Pembicaraan Orang Lain.
Pada pendidikan dasar yaitu SD, anak susah dalam memahami apa yang diberikan guru, disini guru harus dapat membuat atau menggunakan metode yang tepat misalnya dengan cara metode ekperimen agar anak dapat memahami pelajaran yang diberikan dengan menemukan sendiri inti dari pelajaran yang  diberikan sedangkan dengan ceramah yang dimana guru Cuma berbicara didepan membuat anak malah tidak pmemahamiisi dari apa yang dibicarakan oleh gurunya.
g)      Senang Diperhatikan
Di dalam suatu interaksi sosial anak biasanya mencari perhatian teman atau gurunya mereka senang apabila orang lain memperhatikannya, dengan berbagai caradilakukan agar orang memperhatikannya. Di sini peran guru untuk mengarahkan perasaan anak tersebut dengan menggunakan metode tanya jawab misalnya, anak yang ingin diperhikan akan berusaha menjawab atau bertantya dengan guru agar anak lain beserta guru memperhatikannya.
h)      Senang Meniru
Dalam kehidupan sehari hari anak mencari suatu figur yang sering dia lihat dan dia temui. Mereka kemudian menirukan apa yang dilakukan dan dikenakan orang yang ingin dia tiru tersebut. Dalam kehidupan nyata banyak anak yang terpengaruh acara televisi dan menirukan adegan yang dilakukan disitu, misalkan acara smack down yang dulu ditayangkan sekarang sudah ditiadakan karena ada berita anak yang melakukan gerakan dalam smack down pada temannya, yang akhirnya membuat  temannyaterluka. Namun sekarang acara televisi sudah dipilah-pilah utuk siapa acara itu ditonton sebagai calon guru kita hanya dapat mengarahkan orang tua agar selalu mengawasi anaknya saat dirumah. Contoh lain yang biasanya ditiru adalah seorang guru yang menjadi pusat perhatian dari anak didiknya. Kita sebagai calon guru harus menjaga tindakan, sikap, perkataan, penampilan yang bagus dan rapi agar dapat memberikan contoh yang baik untuk anak didik kita.
C.     Tahap Belajar Anak Usia SD[56]
1.      Konkret
Konkret mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar.
2.      Integratif
Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian.
3.      Hierarkis
Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks.
BAB III
Gambaran Umum Lokasi dan Subjek Penelitian
A.      Lokasi Penelitian
1.      Kondisi SDN 12 Cicalengka
Sekolah Dasar Negeri 12 Cicalengka merupakan salah satu lembaga pendidikan negeri berakreditasi “B” yang telah berdiri sejak 1982 tepatnya diputuskan pada tanggal 12 Juli 1982. Sekolah ini beralamat di Jl Raya Timur Cicalengka no.05 Rt/Rw 1/1 Dusun Kaca-kaca Desa Cicalengka Wetan Kecamatan Cicalengka Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.
Menurut kepala sekolah, pendirian sekolah ini merupakan salah satu wujud tanggung jawab pemerintah dalam upaya mencerdaskan bangsa. Hal ini merupakan langkah pemerintah untuk menarik minat masyarakat dan khususnya masyarakat sekitar sekolah terhadap pendidikan, upaya masyarakat untuk menyekolahkan anaknya dalam tiap tahunnya relatif tinggi.
2.      Keadaan Fisik Sekolah
Luas tanah yang dimiliki oleh SDN 12 Cicalengka ± 755 m2. Tanah sebesar itu dibangun untuk kepentingan ruang belajar sebanyak 6 kelas sebesar ± 7x7 meter perkelasnya, ruang guru, ruang kepala sekolah, ruang operator dan ruang perpustakaan. Untuk kepentingan olahraga, sarana yang tersedia kurang memadai. Lapangan olahraga milik sekolah yang dipakai bersama dengan SD 3 terlampau kecil untuk digunakan olahraga. Sehingga olahraga seringkali di lapangan milik masyarakat dengan ikut membantu biaya kebersihan dan perbaikan. Sarana pendidikan lain yang dimiliki sekolah adalah buku-buku dan anatomi tubuh. Buku-buku yang dimiliki telah lengkap dan cukup bagi seluruh siswa yang ada. Namun, ruangan perpustakaan yang kurang memadai karena terlampau kecil.
3.      Keadaan Guru dan Siswa
Jumlah pengajar di SDN 12 Cicalengka sebanyak 17 orang. Sementara jumlah siswa untuk tahun pelajaran 2017/2018 sebanyak 507 orang yang terbagi kepada : kelas 1 sebanyak 98 siswa, kelas 2 sebanyak 98 siswa, kelas 3 sebanyak 72 siswa, kelas 4 sebanyak 82 siswa, kelas 5 sebanyak 88 siswa, kelas 6 sebanyak 69 siswa.
Sedangkan keadaan tenaga pengajar yang ada di SDN 12 Cicalengka seluruhnya telah berpendidikan S1 dan hanya satu orang yang berpendidikan S2, yaitu guru PAI kelas tinggi.
Pelaksanaan proses belajar mengajar di SDN 12 Cicalengka dibagi kepada dua bagian, yaitu kelas pagi dan kelas siang. Tiap tingkatnya memiliki jadwal masuk dan keluar yang berbeda-beda. Bagi kelas 1&2 pagi di mulai pada pukul 07.00-10.00 dan kelas siang dimulai pukul 10.00-12.30. Bagi kelas 3pagi dimulai pukul 07.00-10.30 dan kelas siang dimulai pukul 10.30-14.00. bagi kelas 4,5&6 pagi 07.00-10.45 dan kelas siang dimulai pukul 10.45-selesai. Pembelajaran pagi dan siang dilakukan  di ruangan yang sama pada tiap tingkatnya dikarenakan sekolah memiliki 12 rombel.

B.       Keadaan Partisipan
Setelah kita melakukan observasi kita melihat karakter peserta didik diantaranya :
1.      Eka Swara Somandinata, ia peserta didik kelas 3 yang memiliki karakter yang kurang serius dalam belajarnya. Dan juga kurang perhatiannya orang tua terhadap peserta didik. Ketika sedang mengerjakan suatu tugas sering kali ia tengok kiri dan kanan. Dan ketika dari pihak observasi memberikan tugas menulis, ia lamban karena tidak bisa membaca dan menulis sehingga harus dibantu oleh pihak observasi.
2.      Ajeng Kholifah Aulia, ia peserta didik kelas 4 yang karakternya juga kurang serius dalam menanggapi pelajaran yang sedang di terangkan oleh gurunya. Ketika temannya sedang maju kedepan ia tidak memperhatikannya, malah asyik mengobrol dengan teman sebangkunya dan berpindah-pindah tempat duduk. Ia juga sukar dalam menangkap maksud yang disampaikan gurunya. Kadang ia juga lupa terhadap penyampaian gurunya misalnya ketika guru bilang “mata pencaharian itu kerjaan”, ia malah bertanya lagi apa itu mata pencaharian. Disini kita bisa lihat bahwa dia tidak serius dalam menanggapi dan mendengarkan ketika gurunya sedang menjelaskan.
3.      Andriansyah, ia peserta didik kelas 3 SDN 12 Cicalengka. Ia tidak dapat membaca akan tetapi ia dapat menulis. Ia lebih suka diam dan kurang bersosialisasi dengan teman lainnya. Hal itu karena kurangnya perhatian, bimbingan dan kasih sayang orang tua, dikarenakan ibunya bekerja dan ayahnya telah meninggal dunia, ia berkehidupan minim, sehingga ibunya bekerja untuk menggantikan posisi ayah. Dan Andriansyah diasuh oleh neneknya, dan neneknya tidak memperhatikan perkembangan belajarnya. Sehingga perkembangan dalam belajarnya terlambat, cara pengasuhann antara ibu dan nenek akan sangat berbeda. Sebenarnya jika dia lebih diperhatikan dalam perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotoriknya ia akan bisa berkembang sesuai dengan usianya.
4.      Rizki Suriya Aziz, ia peserta didik kelas 3 SDN 12 Cicalengka yang memiliki latar belakang yang berbeda dengan teman di kelasnya. Ia termasuk salah satu siswa yang sering alfa (jarang masuk) karena ketidak adanya motivasi untuk dia belajar. Ia hidup bersama ibunya sedangkan yang ia butuhkan adalah perhatian dan pantauan dari ayahnya langsung, sedangkan ayahnya bekerja diluar kota dan jarang pulang akhirnya ia suka tidak masuk sekolah, karena ia hanya takut dan mematuhi peraturan yang dikatakan oleh ayahnya saja tidak dengan yang lainnya termasuk ibunya yang merawatnya. Rizki Suriya Aziz  pernah bermasalah waktu ia duduk di semester 1 ia tidak suka masuk sekolah, sehingga wali kelas berinisiatif kepada teman-temannya untuk dating kerumahnya langsung dan mengajak untuk sekolah, satu dua kali gagal dan akhirnya yang dating setiap pagi untuk kerumahnya ditambah, yang biasanya hanya 2 orang menjadi lebih dari 2 orang.  Rizki Suriya Aziz merupakan siswa yang dapat dikatakan kurang dalam kefokusan pembelajaran saat KBM atau materi sedang berlangsung. Anak tersebut lebih aktif untuk bermain dari pada memperhatikan pembelajaran dan senang mengganggu teman yang lainnya saat pembelajaran berlangsung.
5.      Rasya Aditia Putra, ia peserta didik kelas 3 SDN 12 Cicalengka. Ia terlahir dari keluarga yang tergolong sibuk, sehingga kurang mendapat perhatian dan pengawasan dari orang tua. Dan tinggal di lingkungan yang tergolong kurang baik. Hal ini mempengaruhi tingkah lakunya yang pemalu, namun di dalam pergaulannya cukup menghawatirkan. Berbahasa kotor, kemudian bercanda yang berlebihan sudah menjadi hal yang biasa dilakukan didalam pergaulannya. Di sekolahpun ia pernah melakukan kasus yang cukup mengejutkan, mengingat usianya yang masih terlalu muda. Yakni menyentuh kemaluan teman perempuannya, walaupu hanya dengan maksud bercanda. Di sekolahpun, dalam kegiatan KBM, Rasya dapat dikatakan kurang serius. Ia kerap bercanda dengan kawan-kawannya, dan yang membuat khawatir ia berbicara menggunakan kata-kata yang sepantasnya tidak diucapkan apalagi oleh anak seusianya.



BAB IV
HASIL OBSERVASI
A.    Pembahasan Hasil Observasi
Untuk anak Sdn Cicalengka 12 khususnya untuk anak kelas III, ialah memiliki kesulitan dan kurang lancarnya dalam membaca, karena apabila anak tersebut tidak lancar dalam membacanya akan tertinggal beberapa pelajaran. Maka langkah-langkah yang digunakan oleh wali kelas tersebut ialah memberikan tambahan waktu khusus yaitu les dan dilaksankan les tersebut disekolah itu sendiri, dan langkah kedua orang tua untuk memberi waktu intens anak dan memberikan dukungan atas perkembangan.
Ada beberapa anak yang memang kesulitan dalam masalah membacanya diantaranya :Rizki Surya Aziz, Andriansyah dan Eka Swara Somandinata. Atas hasil observasi penulis kepada wali kelas III itu sendiri ialah Andiansyah faktornya kehidupan ekonominya kurang, ayahnya meninggal, ibunya terlalu sibuk bekerja dan ia tinggal bersama neneknya dan neneknya kurang perhatian dalam belajar, dan solusinya anak-anak yang seperti itu disebangkukan dengan anak yang berprestasi dan dibimbing oleh teman sebangkunya. Eka Swara Somandinata, kelemaha ia kurangnya focus dalam belajar dan solusinya ia les dirumah dan kurangnya dukungam terhadap orang tuanya.

1.      Hasil Observasi mengenai Hakikat Perkembangan Peserta Didik, Perkembangan Peserta Didik Periode SD, Karakteristik Perkembangan Bahasa Peserta SD, Perkembangan Seksual Peserta Didik, dan Perkembangan Kognitif.
Prinsip-prinsip perkembangan.
Didalam perkembangan individu dikenal prinsip-prinsip perkembangan,diantaranya perkembangan berlangsung seumur hidup, setiap anak memiliki kecepatan tempo dalam berfikir, Ada yang cepat dan ada yang lambat, diantaranya dari segi sosial atau dari segi kepribadiannya. Dan berdasarkan hasil observasi yang dilakukanhal itu memang relevan dengan kenyataan yang ada seperti siswa yang sering melamun saat belajar cenderung sukar untuk menyatakan pendapatnya.
Dalam perkembangan peserta didik sekolah dasar biasanya mulai matang pada usia 13 tahun, yaitu mempengaruhi penyesuain pribadi dan penyesuaian sosial. Dan terjadinya ketidak stabilan emosional dikarenakan keadaan fisik dan lingkungan berakibat anak terssebut sulit di kendalikan. Serta keluarga dapat berpengaruh dalam perkembangan peserta didik, jika pendidikan dilingkungan keluarganya mendidik dengan baik maka kepribadian anakpun akan baik, begitupun sebaliknya jika dari lingkungan keluarganya kurang baik dalam mendidik anak atau kurang perhatian terhadap perkembangan anaknya, maka akan terjadi perbedaan antara anak yang didik dan anak yang kurang dididik dilingkungan rumahnya.
Dalam perkembangan anak sekolah dasar banyak memiliki perbedaan karakter, diantaranya dalam bertutur kata. Dan perkataan anak sekolah dasar haruslah sangat kita perhatikan, karna itu awal dari perkembangan bahasa.bahasa yang harus kita perhatikan diantaranya dari lingkungan keluarga, teman, sosial, ada beberapa cara agar peserta didik berbahasa dengan baik dan benar. Diantaranya keterampilan mendengarkan meliputi kemampuan memahami bunyi bahasa, perintah, dongeng, drama, dll. Keterampilan berbicara meliputi kemampuan mengungkapkan perasaan, pikiran dan informasi secara lisan mengenai perkenalan, tegur sapa, pengenalan benda dll. Keterampilan membaca meliputi kemampuan memahami teks bacaan melalui membaca intensif dan sekilas. Keterampilan menulis meliputi kemampuan menulis permulaan, dikte, mendeskripsikan benda, mengarang, menulis surat undangan dll.
SDN Cicalengka 12 khususnya untuk anak kelas III, ternyata ditemukan ada siswa yang memiliki kesulitan dan kurang lancarnya dalam membaca, dan sangat berpengaruh terhadap pembelajarannya, karena jika anak tersebut tidak lancar dalam membaca akan tertinggal beberapa pelajaran. Maka langkah-langkah atau cara yang dilakukan oleh seorang wali kelas atau guru tersebut adalah dengan memberikan tambahan waktu khusus yaitu les(belajar tambahan) diluar jam pelajaran setelah pelajaran sekolah selesai dan dilaksankan les tersebut disekolah secara privat (pribadi) dengan cara pembelajarannya tidak disamakan oleh siswa yang unggul daripada siswa tersebut, dan langkah kedua adalah perhatian orang tua untuk memberi waktu intens anak dan memberikan dukungan atas perkembangan.
Ada beberapa anak yang memang kesulitan dalam masalah membacanya diantaranya :Rizki Surya Aziz, Andriansyah dan Eka Swara Somandinata. Atas hasil observasi penulis kepada wali kelas III itu sendiri ialah siswa yang bernama Andiansyah yang diletarbelakangi oleh faktor kehidupan ekonominya kurang, ayahnya telah meninggal, dan ibunya terlalu sibuk bekerja dan ia tinggal bersama neneknya dan neneknyapun kurang memperhatikan dalam pola dan cara belajar andriansyah, dan sebagai solusinya guru/wali kelas anak-anak yang seperti itu diposisikan tempat duduknya dengan anak yang berprestasi dan dibimbing oleh teman sebangkunya dikelas . Eka Swara Somandinata, kelemahan ia kurang fokusnya dalam belajar dan solusinya ia diberikan les (belajar tambahan) dirumah namun dalam pembelajarannya Eka merupakan siswa yang pembelajarannya kurangnya dukungam terhadap orang tuanya.
Berdasarkan teori perkembangan seksual oleh Nanda Rahmawti 2012 anak di usia sekolah dasar sudah mulai berbicara mengenai persoalan seks, yang disebabkan oleh  terjadinya perubahan fisik dan emosi didalam dirinya ternyata berdasarkan hasil observasi yang dilakukan kemarin hal itu tidak relevan karena yang kami temukan tidak sesuai dengan apa yang dilihat, pada keadaan di sekolah kemarin tidak ditemukan siswa usia dasar yang berbicara mengenai seksual
Dan perkembangan Kognitif dapat dikatakan sebagai knowing atau perkembangan yang berkaitan dengan pengetahuan, ternyata aspek kognitif sangat berpengaruh terhadap cara pembelajaran siswa, seperti pemecahan suatu soal, pemahaman terhadap materi yang diberikan oleh guru sampai sengan penyimpanan apa yang disampaikan dan juga menganai rasa keinginan siswa untuk belajar.
2.      Peran guru sebagai pendidik dan kelekatan dengan peserta didik.
Hubungan antara peran guru dan kelekatan pendidikan dengan hasil observasi. Peran guru sebagai seorang pendidik merupakan pera-peran yang berkaitan dengan tugas-tugas memberi bantuan dan dorongan (suporter), tugas-tugas pengawasan dan pembinaan “supervisor” serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisplinkan anak agar anak itu menjadi patuh terhadap aturan-aturan sekolah dan norma hidup dalam keluarga dan masyarakat
 Kelekatan adalah suatu hubungan emosional atau hubungan yang bersifat afektif antara satu individu dengan individu lainnya yang mempunyai arti khusus, dalam hal ini biasanya hubungan ditujukan pada ibu atau pengasuhnya. Hubungan yang dibina bersifat timbal balik, bertahan cukup lama dan memberikan rasa aman walaupun figur lekat tidak tampak dalam pandangan anak.
Hubungan hasil observasi dengan teori peran guru di SDN 12 Cicalengka peran guru sangat membantu dan berpengaruh dalam meningkatkan kedisiplinan dan dalam meningkatkan motivasi belajar sehingga peserta didik dapat mematuhi gurunya. Namun pada intinya bahwa motivasi merupakan kondisi psikologis yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam kegiatan belajar, motivasi dapat dikatakan sebagai keseluruhan daya ingat didalam diri siswa yang menimbulkan, menjamin kelangsungan dan memeberikan arah kegiatan belajar, sehinga diharapkan tujuan dapat tercapai. Dalam kegiatan belajar, motivasi sangat diperlukan, sebab seseorang yang tidak mempunyai motivasi dalam belajar tidak mungkin melakukan aktivitas belajar. Peran guru di SDN 12 Cicalengka juga, memberikan arahan terhadap peserta didik yang menyimpang dengan cara menyeluruh dengan tidak menyudutkan salah satu orang yang berprilaku menyimpang.
Kelekatan pendidik dan peserta didik di SDN 12 Cicalengka sangat baik, pendidik dapat memahami keadaan peserta didik/siswa.  Karena ketika muncul masalah dipeserta didik guru tersebut merangkul dan memotivasi sisiwa tersebut agar tidak mengulangi kesalahannya.
3.      Hubungan antara hasil observasi dengan teori tentang proses belajar peserta didik usia sekolah dasar
Berdasarkan hasil observasi terhadap partisipan yang diobservasi bahwa relevansi antara perkembangan dan pertumbuhan anak, metode pembelajaran dari guru terhadap proses belajar siswa sangat berpengaruh, karena gaya belajar anak usia sekolah dasar mempunyai karakteristik tertentu, seperti senang bermain misalnya, dalam hal ini guru dituntut untuk bisa memilih metode pembelajaran yang sesuai seperti -menyampaikan pelajaran dengan atau sambil bermain-, kenapa harus sambil bermain, karena ketika seorang guru menyampaikan pelajaran dengan metode ceramah, sedangkan karakteristik belajar siswa lebih suka bermain, maka pelajaran akan skar diserap oleh siswa dan cenderung akan lebih monoton, karena selain senang bermain, anak usia sekolah dasar juga memunyai karakteristik senang bergerak (aktif).
Mengenai proses belajar anak usia sekolah dasar, tidak lepas dari tahap-tahap belajarnya, tahap-tahap tersebut adalah konkret, integrasi dan hierarkis, untuk tahap belajar konkret yaitu proses belajar siswa dimulai dar hal-hal yang dapat dilihat, diraba,  dicium, dan titik penekanan dari hal ini lingkungan sangat berpengaruh dalam proses belajar siswa. Dari data hasil observasi yang telah kami lakukan bahwa materi yang diajarkan oleh guru kepada muridnya sesuaidenga kemampuan dan tahapan belajar anak didik tersebut, hal ini terlihat dari materinya yang tidak terlalu berat untuk kategori anak usia sekolah dasar dan murid pun mudah memahaminya seperti, guru hanya membahas tentang do’a-do’a dalam sholat saja tidak sampai membahas kepada hakikat dari do’a-do’a tersebut, karena jika guru membahasa sampai kepada hakikatnya kepada anak usia sekolah dasar yang tahap belajarnya masih dalam tahapn konkret, maka hanya akan membuat anak didik ssemakin sulit memahami pelajaran tersebut.
4.      Hubungan antara hasil observasi dengan metode pembelajaran
Berdasarkan hasil observasi terdapat relevansi antara metode pembelajaran dengan proses belajar. Guru dituntut untuk bisa memilih metode pembelajaran yang sesuai dengan materi yang disampaikan, dari sekian banyak metode yang biasa dilakukan atau dipakai untuk anak. yang dipakai di SDN 12  Cicalengka diantaranya metode ceramah dan praktik. Karena dengan metode ceramah biasanya siswa lebih mudah menangkap pelajaran yang disampaikan oleh guru begitupun guru juga lebih menguasai keadaan siswa dikelas. Tapi dari hasil observasi kami melihat kelemahan dari metode ceramah ini diantaranya membosankan atau konsentrasi anak tidak semuanya sama memperhatikan apa yang disampaikan oleh guru, diantaranya sebagian ada yang memperhatikan dan sebagian yang tidak memperhatikan.Adapun metode praktik tentunya berkaitan dengan metode ceramah, metode praktik sebagai antisipasi kebosanan siswa dan juga bisa membuat siswa lebih aktif dan mudah dipahami. Kelemahan metode praktik di SDN 12 Cicalengka ini yaitu kurangnya sarana sebagai alat untuk metode praktik ini.
BAB V
PENUTUP
A.      Kesimpulan
Berdasarakan hasil obaservasi, dapat disimpulkan bahwa perkembangan anak baik itu perkembangan bahasa maupun seksual dapat dilihat dari aspek kognitif  anak itu sendiri, seperti kemampuan anak dalam mendengarkan, berbicara, membaca dan keterampilan menulis. Kemampuan-kemampuan tersebut sangat mempengaruhi perkembangan bahasa anak, karena ketika salah satu dari kemampuan tersebut kurang, maka perkembangan bahasa anak itu terganggu atau bermasalah. Sedangkan perkembangan seksual anak dapat dilihat dari perilaku  dan gaya bicara siswa tersebut yang sudah berbicara mengenai hal-hal yang berhubungan denga seksual. Namun, dalam kasus ini (hasil observasi), perkembangann seksualnya masih dalam batas wajar, seperti, dia hanya mengetahui bahwa dia berbeda dengan yang lain (lawan jenis), bergaul dengan lawan jenis dalam batas yang diwajarkan dan untuk puncak perkembangan seksual usia anak sekolah  dasar terlihat di umur 12-13 tahun.
Dari semua perkembangan bahasa dan seksual anak, terdapat dua faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya perkembangan tersebut yaitu intrinsik dan ekstrinsik. Faktor intrinsik adalah potensi yang ada pada diri anak tersebut dan faktor ekstrinsik meliputi: pertama, keluarga, karena keluarga adalah lingkungan pertama dimana anak tersebut tumbuh, jika keluarganya mendidiknya dengan baik, maka output dari anak tersebut akan baik terlebih dari segi bahasa dan seksualnya. Kedua, sekolah dimana anak tersebut bergaul dengan teman-temannya. Ketiga, lingkungan masyarakat, yang mana lingkungan tersebut sangat mempengaruhi si anak selain keluarga dan sekolah, karena tidak menutup kemungkinan anak tersebut bergaul dengan orang yang lebih dewasa darinya yang menyebabkan perkembangan bahasa dan seksualnya tuumbuh lebih cepat.Selain itu, peran orang tua dan guru sangat menentukan terhadap perkembangan bahasa dan seksualnya. Bagaimana orang tua dan guru tersebut mendidik,mengajar dan mengarahkan  akan melekat pada dirinya sehingga  menjadi perilaku dan kebiasaany yang nantinya akan berdampak pada proses belajar anak tersebut.
B.       Saran
Watak dan prilaku anak akan terciptaoleh lingkugannya, maka untuk membentuk watak serta prilaku anak yang baik sangat diperlukan peranan orang tua untuk mendampingi perkembangan bahasa hingga perkembangan seksualnya. Orang tua harus memiliki waktu untuk bisa memberikan pengalaman, keilmuan hingga bercerita bersama anaknya dalam prihal kegiatannya disekolah agar dapat mengontrol perkembangannya, dan mengetahui bagaimana perkembangan pembelajarannya, perkembangan bergaul, sosialisainya dan juga yang lainnya.

C.      Daftar Pustaka

Buku
Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Gema Insani Press:Jakarta), 1995, hal. 170-175.
Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Cet. I (Yogyakarta, Teras, 2009), hlm. 66.
Anji Fathunaja, Reorientasi Pendidikan Seks Terhadap Anak Usia Remaja di Sekolah (Memadukan Sains dan Agama dalam Pembelajaran), Yogyakarta. hlm
Arif Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), hlm. 21.
Budiman, L. 2007. Menjadi Orang Tua Idaman: Menyelami Dunia Anak.Jakarta:Kompas
Eka Ervika. Kelekatan (Attachment) Pada Anak. Program Studi  Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara. 2005.
Ernawulan S, Perkembangan Anak Usia Dini, Bahan Pelatihan Pembelajaran Terpadu Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi 2003,  Dosen PGTK FIP UPI.
Hartono Dwi Rizki, Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang,
James A. Black & Dean J. Champion, Methodes And Issues In Social Research, Terj. E. Koswara, Dira Salam dan Alfin Ruzhendri (Bandung: Rafika Adiatama, 2009), hlm. 306.
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cet. XXII (Bandung: Rosdakarya, 2006), hlm. 6.
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 330.
Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 331.
Lucy, B. 2009. Mendidik Sesuai Dengan Minat dan Bakat Anak. Jakarta: TanggaPustaka
Muhamad Afandi, S.Pd., M.Pd Evi Chamalah, S.Pd., M.Pd, Oktarina Puspita Wardani, S.Pd., M.Pd Pengantar: Prof. Dr. H. Gunarto, M.Hum. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN DI SEKOLAH. UNISSULA Press 2013
Muhammad  Afandi, Evi Chamalah & Puspita  Wardani, Model dan Metode Pembelajarann Disekolah (Semarang, Sultan Agung Press, 2013), hlm. 83
Muhammad  Afandi, Evi Chamalah & Puspita  Wardani, Model dan Metode Pembelajarann Disekolah (Semarang, Sultan Agung Press, 2013)
Muhibbin Syah, Op.Cit, hlm 60
Nanda Rahmawti,2012. Gambaran Perilaku Seksual Pada Anak Usia Sekolah Kelas 6 Di Tinjau Dari Media Cetak Dan Media Elektronik Sekolah Dasar Negeri 16 Banda Aceh Tahun 2012, hlm1
Neti Hemawati, Puji Lestari, Rini Hildayani. Peran kualitas kelekatan ibu-anak, gender anak dan rasio guru-anak terhadap kualitas hubungan guru-anak usia prasekolah. Jur. Ilm, Kel & Kons. Vol. 5. No. 2. Fakultas Ekologi Manusia IPB. 2012.
Rika Hardani. Pengaruh kelekatan anak dengan orang tua, guru, teman dan control diri terhadap perilaku pornografi anak SMP. 2017. Institut Pertanian Bogor.
Rizki Dwi Hartono dan Nur Dyah Gianawati, Faktor-Faktor yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang, Artikel Ilmiah Hasil Penelitian, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember, Jember 2013.
S. Nasution, Metode Research( Jakarta: Bumi Askara, 2011), hlm. 106.
Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Cet. XVII (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 233.
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 227.
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 246.
Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 252.
Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media, 2008), hlm. 24
Sunarto, agung hartono, perkembangan peserta didik, (Jakarta : PT. Rineka Cipta,2006) hlm 148-149
Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
Syamsu Yusuf L.N, Nani M. Sugandhi, Perkembangan pesearta didik, (Jakarta : rajawali pers, 2012) h.60
Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru, Cet. II (Bandung: Rosdakarya, 2012), hlm. 53-54.

Internet
Dena Kaifal Kurni, 2015, Perkembangan Bahasa Anak SD, http://denakaifal201491048.wiblog.esaunggul.ac.id/2015/01/23/perkembangan-bahasa-anak-sd/
http://www.fipumj.net/artikel1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc‐STRATEGI‐
PEMBELAJARAN‐ANAK‐USIA‐DINI.html (diakses: 21 April 2018, 01.40 WIB)
http://www.voa‐islam.com/read/muslimah/2009/07/25/456/masa‐keemasan‐
anak/ (diakses :21 April 2018 , 01.30 WIB
Siti Rahmah Syarifuddin, 2014, karakteristik dan perkembangan anakusia sd,
(http://id.shvoong.com/sosialsciences/education/2156062pengertian-metode-talking stick/)

Jurnal
Esther Kartika, Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan Penabur, No.03, Desember 2004.
Fatonah, S. 2009. Menumbuhkan Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligence)AnakDengan Mengenal Gaya Belajarnya Dalam Pembelajaran IPA SD. Jurnal Al‐ Bidayah, Vol 1[2], h 229‐245. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
Iswah Adriana, Memahami Pola Perkembangan Bahasa Anak dalam Konteks Pendidikan, Jurnal Tadris, Volume 3, Nomor 1, 2018.
Samiudin. Jurnal Studi Islam. Pentingnya memahami perkembangan anak untuk menyesuaikan Cara mengajar yang diberikan, Vol. 12, No.1, April 2017
Yulia Amaliyasari dan Nunik Puspitasari, Perilaku Seksual Anak Usia Pra Remaja Di Sekitar Lokalisasi dan Faktor yang Mempengaruhi. Jurnal Penelitian.Din.Sos. Vol. 7, No.1, April 2008.
Yulia Helti, Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak SD dalam Berkomunikasi,jurnal STKIP YDB Lubuk Agung,hlm 5
Yulia Palupi, Perkembangan Bahasa Anak, Jurnal, Alumni IKIP PGRI Wates, 2015



[1] Berdasarkan observasi di SD Cicalengka,05 april 2018
[2] Arif Furchan, Pengantar Penelitian dalam Pendidikan (Yogyakarta: Pustaka Belajar, 2005), hlm. 21.
[3] Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru, Cet. II (Bandung: Rosdakarya, 2012), hlm. 53-54.
[4] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian Kualitatif, Cet. XXII (Bandung: Rosdakarya, 2006), hlm. 6.
[5] Suharsimi Arikunto, Manajemen Penelitian Pendidikan (Yogyakarta: Aditya Media, 2008), hlm. 24.
[6] James A. Black & Dean J. Champion, Methodes And Issues In Social Research, Terj. E. Koswara, Dira Salam dan Alfin Ruzhendri (Bandung: Rafika Adiatama, 2009), hlm. 306.
[7] Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D, Cet. XVII (Bandung: Alfabeta, 2012), hlm. 233.
[8] S. Nasution, Metode Research( Jakarta: Bumi Askara, 2011), hlm. 106.
[9] Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 227.
[10] Ahmad Tanzeh, Pengantar Metode Penelitian, Cet. I (Yogyakarta, Teras, 2009), hlm. 66.
[11] Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 246.
[12]Ibid., hlm. 247.
[13]Ibid., hlm. 249.
[14] Sugiyono, Metode Penelitian…, hlm. 252.
[15] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 330.
[16]Ibid., hlm. 331.
[17] Lexy J. Moleong, Metode Penelitian…, hlm. 331.
[18] Iswah Adriana, Memahami Pola Perkembangan Bahasa Anak dalam Konteks Pendidikan, Jurnal Tadris, Volume 3, Nomor 1, 2018.
[19]Yulia Palupi, Perkembangan Bahasa Anak, Jurnal, Alumni IKIP PGRI Wates, 2015
[20]Ernawulan S, Perkembangan Anak Usia Dini, Bahan Pelatihan Pembelajaran Terpadu Yayasan Pendidikan Salman Al-Farisi 2003,  Dosen PGTK FIP UPI.
[21]Rizki Dwi Hartono dan Nur Dyah Gianawati, Faktor-Faktor yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang, Artikel Ilmiah Hasil Penelitian, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember, Jember 2013.
[22]Hartono Dwi Rizki, Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Remaja Berperilaku Menyimpang,
[23] Esther Kartika, Memacu Minat Membaca Siswa Sekolah Dasar, Jurnal Pendidikan Penabur, No.03, Desember 2004.
[24] Yulia Amaliyasari dan Nunik Puspitasari, Perilaku Seksual Anak Usia Pra Remaja Di Sekitar Lokalisasi dan Faktor yang Mempengaruhi. Jurnal Penelitian.Din.Sos. Vol. 7, No.1, April 2008.
[25]Samiudin. Jurnal Studi Islam. Pentingnya memahami perkembangan anak untuk menyesuaikan Cara mengajar yang diberikan, Vol. 12, No.1, April 2017
[26]SitiRahmah Syarifuddin, 2014,karakteristik danperkembangananak usia sd,

[27] Yulia Helti, Karakteristik Perkembangan Bahasa Anak SD dalam Berkomunikasi,jurnal STKIP YDB Lubuk Agung,hlm 5
[28] Dena Kaifal Kurni, 2015, Perkembangan Bahasa Anak SD, http://denakaifal201491048.wiblog.esaunggul.ac.id/2015/01/23/perkembangan-bahasa-anak-sd/
[29] Nanda Rahmawti,2012. Gambaran Perilaku Seksual Pada Anak Usia Sekolah Kelas 6 Di Tinjau Dari Media Cetak Dan Media Elektronik Sekolah Dasar Negeri 16 Banda Aceh Tahun 2012, hlm1
[30] Ibid, hlm 1
[31]Ibid, hlm 3
[32]Ibid, hlm 2
[33]Anji Fathunaja, Reorientasi Pendidikan Seks Terhadap Anak Usia Remaja di Sekolah (Memadukan Sains dan Agama dalam Pembelajaran), Yogyakarta. hlm 9
[34]http://www.voa‐islam.com/read/muslimah/2009/07/25/456/masa‐keemasan‐
anak/ (diakses :21 April 2018 , 01.30 WIB
)
[35]http://www.fipumj.net/artikel1679091c5a880faf6fb5e6087eb1b2dc‐STRATEGI‐
PEMBELAJARAN‐ANAK‐USIA‐DINI.html (diakses: 21 April 2018, 01.40 WIB)
[36]Lucy, B. 2009. Mendidik Sesuai Dengan Minat dan BakatAnak.Jakarta: TanggaPustaka
[37]Fatonah, S. 2009. Menumbuhkan Kecerdasan Majemuk(MultipleIntelligence) AnakDengan Mengenal Gaya Belajarnya Dalam PembelajaranIPA SD. Jurnal Al‐Bidayah, Vol 1[2], h229‐245. Yogyakarta: UIN Sunan Kalijaga
[38]Budiman, L. 2007. Menjadi Orang Tua Idaman: Menyelami Dunia Anak. Jakarta:Kompas
[39] Wasty Soemanto,psikologi pendidikan, landasan kerja pemimpin pendidikan, hlm 57
[40]Tim Reality, Kamus Terbaru Bahasa Indonesia (Surabaya: Reality Publisher,2008), hlm19
[41] Sunarto, agung hartono, perkembangan peserta didik, (Jakarta : PT. Rineka Cipta,2006) hlm 148-149
[42] Muhibbin Syah, Op.Cit, hlm 60
[43] Syamsu Yusuf L.N, Nani M. Sugandhi, Perkembangan pesearta didik, (jakarta : rajawali pers, 2012) h.60
[45]Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah, Sekolah, dan Masyarakat, (Gema Insani Press:Jakarta), 1995, hal. 170-175.
[46]Eka Ervika. Kelekatan (Attachment) Pada Anak. Program Studi  Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Sumatera Utara. 2005.
[47]Rika Hardani. Pengaruh kelekatan anak dengan orang tua, guru, teman dan control diri terhadap perilaku pornografi anak SMP. 2017. Institut Pertanian Bogor.
[48]Neti Hemawati, Puji Lestari, Rini Hildayani. Peran kualitas kelekatan ibu-anak, gender anak dan rasio guru-anak terhadap kualitas
[49]hubungan guru-anak usia prasekolah. Jur. Ilm, Kel & Kons. Vol. 5. No. 2. Fakultas Ekologi Manusia IPB. 2012.
[50](http://id.shvoong.com/sosialsciences/education/2156062pengertian-metode-talking stick/)
[51]Muhammad Afandi, Evi Chamalah &Puspita Wardani, Model dan Metode Pembelajarann Disekolah (Semarang, Sultan Agung Press, 2013), hlm. 83
[52]Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
[53]Suprijono, Agus. Cooperatie Learning Teoori dan Aplikasi,
[54]ibid
[55]Muhamad Afandi, S.Pd., M.Pd Evi Chamalah, S.Pd.,M.Pd, Oktarina Puspita Wardani, S.Pd., M.Pd Pengantar: Prof. Dr.H. Gunarto, M.Hum. MODEL DAN METODE PEMBELAJARAN DISEKOLAH. UNISSULA Press 2013

Komentar

Posting Komentar